Senin, 21 Mei 2012


Serador 
(Sebuah Kepingan Naskah Sosiodrama Rakyat Papua)
(* Ummu Fatimah Ria Lestari

Abstract
Serador is a Papuan’s sosiodrama. This script  was wrote by Viani Subiyat at 1996, it tells about a man namely Serador. This scripts is a scene that consist of 159 acts on 60 minutes time duration. Some theories was used to analyze this script. In this paper, the researcher discusses this script by structure approach. Structure approach commonly to analyze about acts, dialogues, plot, characters, setting (time and places), theme, and language of Serador script. To complete this paper, the researcher also was explained about the existence of sosiodrama in Papua.

Keywords: Serador, Sosiodrama, Structure approach.

A. Pendahuluan
            Drama rakyat adalah salah satu bentuk pertunjukan atau tontonan rakyat. Drama rakyat, khususnya di Papua belum mendapatkan perhatian serius dari pihak yang terkait. Sehingga jenis karya sastra ini belum terlalu dikenal di masyarakat.
Sosio berarti pesan dan drama adalah bentuk kesenian yang mempergunakan media manusia dengan dialog serta laku. Drama dalam konteks ini adalah sebuah pesan pembangunan yang dibawakan dalam bentuk seni pertunjukan total teater dimana seni tari, musik, seni rupa, seni suara, dan seni perang mempunyai makna yang saling-mengait. Septiarti (1996) mengemukakan, sosiodrama adalah drama yang berasal dari masyarakat atau masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat, baik yang bersifat adat, nilai-nilai kehidupan, atau sesuatu yang ada kaitannya dengan keadaan budaya masyarakat. 
Sosiodrama berjudul Serador merupakan salah satu kepingan dari keseluruhan naskah drama rakyat berjudul Mawai. Naskah drama ini berasal dari Kabupaten Yapen Waropen, Papua. Naskah ini adalah karya Viani Subiyat dengan durasi selama 60 menit dan terdapat 159 adegan di dalamnya. Drama ini telah memenangkan Festival Teater Tingkat Nasional Tahun 1997 di Bandung. Naskah Mawai dipakai sebagai studi banding STSI Bandung dan naskah panggung telah dirubah menjadi cerita/scenario film yang sudah ditayangkan oleh TVRI Pusat dan daerah.
Naskah Serador merupakan salah satu kepingan (babak) dari keseluruhan babak dalam naskah drama yang berjudul Mawai. Kepingan naskah ini bercerita tentang Serador. Serador adalah seorang pemuda kaskado berbau busuk yang jatuh cinta pada Wisopi, anak Sandine Mawai. Tingkah laku Serador membuat rakyat marah karena merendahkan derajat derajat Sandine Mawai. Wisopi hamil secara gaib dengan mantra Serador, lalu dia diusir Sandine Mawai. Selanjutnya, Wisopi dibuang ke Pulau Wansupi. Wisopi diijinkan kembali setelah Serador berubah menjadi pemuda yang tampan.
Hal yang akan dipaparkan dalam tulisan sederhana ini tidak hanya sebagai perkenalan terhadap naskah drama rakyat Papua, tetapi lebih mendalam akan mengkaji bagaimana bentuk (struktur) dari naskah drama Serador sebagai salah satu bentuk sosiodrama Papua.

B. Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam tulisan sederhana ini adalah bagaimana bentuk (struktur) dari naskah drama Serador sebagai salah satu sosiodrama rakyat Papua.

C.     Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh penjelasan lengkap dan utuh tentang drama rakyat Papua dan bentuk (struktur) dari naskah drama Serador sebagai salah satu naskah sosiodrama Papua.

D.    Sumber Data
Naskah drama rakyat ini berasal dari drama rakyat Kabupaten Yapen Waropen dengan judul Mawai karya Viani Subiat. Literature yang berkaitan juga dipakai untuk melengkapi naskah drama ini.

E. Tinjauan Pustaka
a. Drama Rakyat  
            Kata drama berasal dari kata draomai (bahasa Yunani) yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi. Jadi drama diartikan sebagai perbuatan atau tindakan. Drama adalah bagian kesenian yang mempergunakan media manusia dengan dialog dan laku. Subiyat (2008:1) juga mengemukakan bahwa drama dapat juga diartikan sebagai kualitas komunikasi, situasi action (segala apa yang terlihat dalam pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (acting), dan ketegangan pada penonton/pendengar. Zulfahnur (1996:92) mengemukakan bahwa drama termasuk ragam sastra karena ceritanya (lakon drama) bersifat imaginatif dalam bentuk naskah drama. Sebagai suatu seni, drama merupakan seni yang kompleks, karena terkait dan ditunjang oleh seni-seni yang lain. Drama menurut John E. Dietrich (dalam Zulfahnur,1996:93) adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas, dengan menggunakan percakapan dan gerak di hadapan penonton. Zaidan (2000:60) menyatakan drama adalah ragam sastra dalam bentuk dialog yang ditunjukkan di atas pentas. Secara lebih khusus, drama lebih menunjuk pada lakon yang dipermasalahkan unsur filsafat dan nilai susila yang agung dan besar. Drama menurut Mulyawan (1997:147) adalah salah satu genre sastra yang hidup dalam dua dunia, yaitu seni satra dan seni pertunjukan atau teater. Unsur-unsur drama terdiri atas unsur pementasan drama dan unsur lakon drama. Unsur pementasan drama adalah lakon drama, pemain, pentas, sutradara, dan penonton. Pertunjukan drama dalam arti sesungguhnya tidaklah terjadi kalau salah satu unsurnya tidak ada. Misalnya, pemain saja tanpa lakon, tak dapat mementaskan drama.Begitu juga ada panggung, penonton, pemain dan sutradara, tapi tanpa lakon, sukar menghasilkan drama. Namun demikian adanya lakon (cerita drama) tanpa unsur-unsur lain, masih memungkinkan kita menikmati drama yaitu drama untuk dibaca (drama bacaan), yang disebut oleh Shipley dengan istilah closet drama. Sebagai cerita sastra, drama memiliki unsur-unsur cerita yang terdiri atas perwatakan, dialog, latar, dan alur. Dialog-dialog dalam drama biasanya padat, tidak membosankan, jelas terdengar dan tersusun sesuai dengan karakter pelaku. Perwatakan pelaku/aktor harus jelas, berkembang, hidup, dan bergerak seperti manusia. Alurnya terasa singkat, padat, banyak konflik dalam adegan-adegan cerita, dengan jalan cerita yang sistematis logis.
Orang yang menganggap drama sebagai karya sastra ada juga yang menyebutnya dengan istilah sastra lakon akan memumpunkan perhatiannya pada teks drama yang merupakan wujud seni bahasa tulis. Sebaliknya, orang yang menganggap drama sebagai seni pertunjukan akan membuang fokus itu sebab perhatiannya harus dibagi rata dengan unsur lainnya. Hal itu disebabkan oleh dalam seni pertujukan naskah drama hanya salah satu unsur yang berdampingan dengan unsur gerak, suara, bunyi/musik, dan rupa. Bahkan, sumber ekspresi teater tidak terbatas pada teks drama, melainkan dapat juga dari genre sastra lain (puisi dan prosa fiksi) dan teks lain (teks pidato, pledoi di pengadilan, esei, dsb.)
            Akan tetapi, baik drama sebagai karya sastra maupun sebagai bagian dan kelengkapan teater, teks drama selalu berkiblat pada pementasan. Arah inilah yang membedakan drama dengan prosa fiksi maupun puisi. Orientasi pada pementasan juga membuat drama mendapatkan penafsiran yang kedua. Tafsiran pertama dilakukan oleh para pekerja teater ketika akan mementaskan sebuah drama. Tafsiran kedua menurut Luxemburg (dalam Mulyana,1997:145) dilakukan oleh para penonton ketika menyaksikan pementasan teater.
Talha Bachmid (dalam Mulyana,1997:147), seorang doktor dalam bidang kajian drama, mengutip pendapat Patrice Pavis bahwa drama memiliki konvensi dan kaidah umum, yang dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar. Yang pertama berhubungan dengan kaidah bentuk, seperti alur dan pengaluran, tokoh dan penokohan, latar ruang dan waktu, dan perlengkapan. Yang kedua berkaitan dengan konvensi stilistika atau bahasa dramatik. Berikut akan diuraikan kaidah dan konvensi drama secara sekilas. Apabila kita telaah lebih lanjut, nanti akan tampak bahwa konvensi itu juga berlaku atau merupakan bagian dari konvensi sastra lainnya, khususnya prosa fiksi yang sudah kita bicarakan.
Hakikat drama (Siswanto, 2009:4) adalah tikaian atau konflik. Perwujudannya dalam teater dapat berupa gerak, cakapan/dialog, atau penokohan. Tikaian atau konflik ini dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dengan binatang, manusia dengan tumbuh-tumbuhan, manusia dengan alam semesta, atau bahkan manusia dengan Tuhan.
. Pengertian drama (teater) ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu thetron yang asal katanya theaomai, berarti takjub melihat atau memandang. Dalam perjalanannya kemudian, pengertian drama (teater) berkembang:
  1. Sebagai gedung tempat pertunjukan, ada yang mengartikan panggung (stage). Yang jelasnya, teater adalah tempat pertunjukan (audiororium) dimana lakon diadakan.
  2. Pengertian teater adalah segala macam jenis tontonan yang dipertunjukkan oleh orang banyak. Misalnya wayang orang, reog, ludruk, dagelan, ketoprak, atau pantomim.
Drama rakyat merupakan bentuk kesenian rakyat yang dilakonkan (Septiarti, 1996:1). Drama (teater) rakyat disebut juga sebagai drama (teater) tradisional Pada awalnya drama rakyat lahir dari spontanitas kehidupan masyarakat, dihayati lingkungannya, dan berkembang sesuai dengan masyarakat lingkungannya. Pada mulanya kelahiran drama rakyat didorong oleh kebutuhan akan hiburan, kemudian meningkat untuk kepentingan lainnya. Karena lahir dari spontanitas masyarakat, maka tidak bisa dipisahkan lagi dengan adat istiadat dan rasa kehidupan masyarakat. Teater (drama) rakyat merupakan pergeseran dari upacara-upacara ritual. Bentuk ini sampai sekarang masih dipertahankan di berbagai daerah di Indonesia. Kemudian berbagai persinggungan dengan budaya lain menyebabkan perubahan-perubahan bentuk serta sistem penyelenggaraannya (Dipayana, 2009:2). Tradisi teater (drama) rakyat adalah utamanya yang terkait dengan kehidupan pedesaan. Dia lahir, tumbuh, dan berkembang serta didukung masyarakat lingkungannya.
Dalam Dipayana (2009:4), bentuk drama atau teater di Indonesia dibagi menjadi 2 bentuk, yaitu teater tradisional dan teater non-tradisi atau teater modern. Berdasarkan sifat dan lingkungan hidupnya, teater tradisional kemudian dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
  1. Teater rakyat, yang hidup di tengah kehidupan masyarakat.
  2. Teater istana, merupakan teater yang dikelola oleh Raja dan para bangsawan pada saat itu.
  3. Teater sandiwara bangsawan atau dinamakan Komidi Bangsawan yang bermunculan pada masa teater transisi di kota-kota.
Teater rakyat memiliki bentuk yang sedehana, sebagaimana pada umumnya teater tradisional. Kelahirannya merupakan tanggapan yang spontan atas situasi dalam kehidupan dan alam yang melingkunginya. Biasanya mengandung pernyataan-pernyataan yang lugas karena merupakan refleksi dari tata nilai yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya. Pada banyak contoh, teater rakyat merupakan kelanjutan dari tradisi sastra lisan, yang mengakomodir bentuk kesenian lain seperti tari dan nyanyi. Biasanya dipentaskan di tempat-tempat terbuka, dengan lakon yang dimainkan secara improvisatoris.
Teater tradisional di Indonesia Timur sudah ada sejak tahun 907 Masehi. Hal itu ditulis dalam prasasti Blitung dengan lakon Blimmaya Kumara, serangkaian dengan upacara memanggil roh nenek moyang. Teater keraton sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit di Jawa pada tahun 1416. Drama rakyat Papua diperkenalkan dalam penataran yang dihadiri oleh para Kepala Seksi dari Dinas Kebudayaan seluruh Papua dan tokoh-tokoh teater utusan Kanwil Departemen Penerangan Provinsi Papua melalui Proyek Pembinaan Kesenian Papua tahun 1981/1982. Dalam penataran tersebut juga diperkenalkan program Sosiodrama. Drama rakyat mempunyai sifat spontan, sederhana, improvisatoris, akrab, serta langsung bisa menyampaikan pesan. Sehingga drama rakyat dipilih sebagai bentuk teater yang paling tepat untuk menyampaikan (media) pesan. Contoh drama rakyat Papua antara lain:
-         Yaume (1989) oleh Viani Subiyat,
-         Mawai (1996) oleh Viani Subiyat,
-         Walibu (1997) oleh Drs. Jhon Modouw.
Isi dan tema dalam drama rakyat Papua pada umumnya tidak terlepas dari dasar-dasar kepercayaan asli. Ciri-ciri drama rakyat Papua antara lain:
  1. Memakai naskah, ada yang sudah dikenal dan ada pula yang belum dikenal,
  2. Pementasannya harus dipersiapkan terlebih dahulu,
  3. Pementasannya disertai dengan nyanyian, tarian, dan musik yang masih mengambang (dicari-cari),
  4. Penempatan lawakan/banyolan kadang-kadang kurang pas,
  5. Diiringin musik yang belum tepat jenisnya. Alat musiknya kurang berfungsi dan pemahaman pemainnya kurang,
  6. Belum disajikan sesuai peran, masih bersifat asal ada, namun sesuai dengan kondisi asal daerah cerita,
  7. Menggunakan bahasa Indonesia, bahasa daerah asal cerita sekali-sekali.
  8. Dialog pemain dan penonton jarang muncul,
  9. Tempat pertunjukan di tempat terbuka dalam panggung arena dan panggung prosenium.
  10. Para pemainnya masih perlu latihan dan sutradara masih diperlukan,
  11. Respon masyarakat kurang menerima sajian tanpa komentar, karena minimnya pengetahuan tentang teater. dan
  12. Pertumbuhan dan kehidupan teater rakyat sudah mulai tampak. Tidak ada penggarap, pembinaan terbatas pada instansi terkait yang menangani kesenian.

b. Bentuk (Struktur) Sosiodrama     
Septiarti (1996:2) mengemukakan, sosiodrama adalah drama yang berasal dari masyarakat atau masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat, baik yang bersifat adat, nilai-nilai kehidupan, atau sesuatu yang ada kaitannya dengan keadaan budaya masyarakat.  Subiyat (2008:1) juga mengungkapkan bahwa sosio berarti pesan dan drama adalah bentuk kesenian yang mempergunakan media manusia dengan dialog serta laku. Drama dalam konteks ini adalah sebuah pesan pembangunan yang dibawakan dalam bentuk seni pertunjukan total teater dimana seni tari, musik, seni rupa, seni suara, dan seni perang mempunyai makna yang saling-mengait. Namun memiliki bentuk (struktur) yang sama halnya dengan bentuk drama lain pada umumnya. Sehingga bentuknya dapat dianalisis seperti menganalisis drama jenis lain. Bentuk (struktur) drama, termasuk sosiodrama meliputi:
1. Alur dan Pengaluran
Yang menyangkut kaidah alur adalah pola dasar cerita, konflik, gerak alur, dan penyajian. Semenjak zaman Aristotelles dinyatakan bahwa alur drama mesti tunduk pada pola dasar cerita yang menuntut adanya konflik yang berawal, berkembang, dan kemudian terselesaikan. Yang disebut konflik adalah terjadinya tarik-menarik antara kepentingan-kepentingan yang berbeda, yang memungkinkan lakon berkembangan dalam suatu gerak alur yang dinamis. Dengan demikian, gerak alur terbentuk dari tiga bagian utama, yaitu situasi awal atau disebut juga pemaparan, konflik, serta penyelesaiannya.
Kemudian, penyajian pola dasar tersebut dilakukan dengan membaginya ke dalam bagian-bagian yang disebut adegan dan babak. Kekhasan sebuah drama akan tampak melalui penyajian cerita dalam susunan babak dan adegan. Dalam penyusunan babak dan adegan, pengarang drama akan selalu menjaga kepaduan serta keterjalinan bagian-bagian alur maupun keterjalinan semua unsur bentuk. Inilah yang disebut dengan koherensi cerita. 
b. Tokoh dan Penokohan
Tokoh dalam drama mesti memiliki ciri-ciri, seperti nama diri, watak, serta lingkungan sosial yang jelas. Pendeknya, tokoh atau karakter yang baik harus memiliki ciri atatu sifat yang tiga dimensional, yaitu yang memiliki dimensi fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Harymawan (1988: 25-26) dalam bukunya, Dramaturgi, menyebutkan bahwa rincian dimensi fisiologis terdiri atas usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, dan ciri-ciri muka; dimensi sosiologis terdiri atas status sosial, pekerjaan (jabatan dan peranan di dalam masyarakat), pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan hidup (kepercayaaan, agama, dan ideologi), aktivitas sosial/organaisasi, hobi/kegemaran, bangsa (suku dan keturunan); dimensi psikologis meliputi mentalitas dan moralitas, temperamen, dan intelegensi (tingkat kecerdasan, kecakapan, dan keahlian khusus dalam bidang-bidang tertentu).
Biasanya, tokoh-tokoh utama muncul di awal cerita, yaitu pada tahap pemaparan. Hal itu dimaksudkan agar publik, khususnya pembaca atau penonton dapat mengenali mereka. Sepanjang cerita, tokoh-tokoh akan mempertahankan ciri-ciri mereka. Kemudian, konflik tercipta akibat perbedaan yang terdapat di antara tokoh-tokoh yang berupaya mewujudkan keinginan mereka. Perbedaan itulah yang semakin lama semakin meningkatkan konflik dan berpuncak sebagai klimaks.
c. Latar: Ruang dan Waktu
Seperti halnya alur dan tokoh, unsur ruang dan waktu pun mengikuti konvensi umum yang didasari pada peniruan realitas kehidupan. Ruang dapat disisipi pengarang dengan petunjuk pemanggungan (kadang-kadang disebut dengan istilah kramagung, waramimbar, atau teks samping) dan dialog, cakapan, atau wawancang. Ruang yang merupakan pijakan tempat peristiwa terjadi umumnya jelas, menunjang lakuan drama, dan sesuai dengan lingkup cerita.
Konvensi waktu juga mesti tunduk pada prinsip kepaduan dan kejelasan. Dalam drama, waktu lakuan atau saat tokoh-tokoh bertindak adalah waktu kini, sedangkan waktu cerita atau waktu yang digunakan oleh para tokoh dalam dialog mereka dapat berupa waktu lampau maupun waktu yang akan datang. Waktu lampau terjadi, misalnya untuk menceritakan peristiwa-peristiwa yang mereka alami, sementara waktu yang akan datang dapat digunakan untuk menyampaikan rencana atau ramalan peristiwa yang akan terjadi.
d. Bahasa
Bahasa dalam drama konvensional juga tunduk pada konvensi stilistika. Misalnya, para tokoh melakukan dialog dengan menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan lingkungan sosial mereka serta watak mereka. Selain itu, seorang tokoh berkomunikasi dengan tokoh lainnya untuk menyampaikan suatu amanat. Kemudian, di antara mereka diharapkan terjadi dialog yang bermakna yang akan menyebabkan cerita berkembang.
            Struktur dramatik menyangkut perkembangan dan kaitan antarkonflik yang muncul, memuncak, dan berakhir. Dalam drama konvensional, struktur dramatiknya seperti konvensi klasik plot menurut Aristotelles atau dapat juga seperti yang dikembangkan oleh Gustav Freytag (dalam Mulyana, 1997:156), yaitu eksposisi, komplikasi, resolusi, klimaks, dan konklusi. Konklusi dalam tragedi disebut katastrof (berakhir dengan kesedihan), sementara dalam komedi disebut denumen (berakhir dengan kebahagiaan).
Zaimar (1991:1) mengemukakan, pada dasarnya karya sastra, baik prosa, drama maupun puisi, merupakan cagar budaya dan khasanah ilmu pengetahuan. Suatu karya sastra terpancar pemikiran, kehidupan, dan tradisi suatu masyarakat.
Menurut Septiarti (1996:2), sebuah cerita lakon drama dibangun atas dasar/unsur-unsur sebagai berikut:
1.      Tokoh,
2.      Alur cerita,
3.      Latar (tempat kejadian dan situasi),
4.      Unsur utama berupa dialog (cakapan), dan
5.      Unsur pendukung berupa penikmat (penonton)
Analisis bentuk (struktur) sosiodrama Serador menggunakan metode struktural sebagai sistem pendekatannya. Struktur drama yang dianalisis adalah unsur-unsur drama yang mengacu pada teori Aston. Aston (dalam Nursa’adah, 2006:59) menjelaskan bahwa struktur drama terdiri dari (1) bentuk drama (drama shape) yang terdiri dari babak dan adegan; (2) tokoh (character); (3) dialog (dialogue) dan (4) petunjuk teks (nebentext).  Selain itu, analisis bentuk ini mengacu pada teori Luxemburg (dalam Nursa’adah, 2006: 59) yang mengatakan bahwa dalam  analisis drama, ada tiga hal yang perlu dikaji yaitu aspek bahasa, penyajian, dan alur.

F.      Analisis
Sosiodrama berjudul Serador adalah salah satu kepingan dari keseluruhan naskah drama rakyat yang berjudul Mawai. Naskah drama ini berasal dari Kabupaten Yapen Waropen, Papua. Naskah ini adalah karya Viani Subiyat yang ditulis pada tahun 1996 dengan durasi selama 60 menit dan sebanyak 159 adegan di dalamnya. Berikut ini adalah hasil analisis sosiodrama Serador dengan menggunakan pendekatan struktural.

a. Alur
            Alur  menurut Luxemburg (dalam Nursa’adah, 2006:60) adalah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai deretan peristiwa secara logic dan kronologik yang dialami oleh para pelaku. Drama Serador tidak mencamtumkan istilah babak dan adegan dalam teks. Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa drama ini hanya memiliki 159 adegan dalam satu babak.  Adegan dibuat berurut menggunakan symbol angka/bilangan. Alur digambarkan melalui adegan demi adegan yang ada. Sehingga secara umum dapat dikatakan bahwa alur dalam drama ini adalah alur maju.   Hal itu tergambar dalam adegan  drama tersebut sebagai berikut:
Adegan 3 sampai 10
3. Womi           : Saya datang, saya datang Mawai!
4. Mawai          : (sambil menarik telinga Womi) Kalau dipanggil cepat datang.
                           Goblok!
5. Womi           : (ganti menarik telinga orang lain) Dasar goblok!
6. Kaiwasya     : (tertawa)
7. Mawai          : Womi! Kamu ke sini!
8. Womi           : Wah, saya takut.
9. Mawai          : Sini! (lebih keras, Womi mendekat) Dengar perintahku, apa
                          Semua sudah datang?
10.Womi          : Sudah! (melihat Kaiwasya)

Adegan 53 sampai 55
53.Musik          : (Mawai dan Mambaiseng keluar, Wisopi masuk dan diiringin
                            Lagu Ambori. Serador masuk, mengintip Wisopi  kemudian
                            Melempar  Wisopi, Wisopi berteriak lari keluar. Kaiwasya
                            Menangkap Serador sambil berkata: sera 4x, Warima sera)
54.Mawai         : (datang)
55.Kaiwasya    : Ini orangnya (sambil mencari), busuk, busuk, busuk, busuk,
                          Bunuh dia, hokum dia!

b. Dialog
            Dialog adalah percakapan antara satu tokoh dengan tokoh lain. Dialog menjadi ciri yang paling utama dalam drama. Mc Mullan (dalam Nursa’adah, 2006:73) mengatakan bahwa dialog adalah karakteristik utama sekaligus kunci dalam sebuah drama. Contoh dialog dalam drama Serador dapat diamati dalam:
Adegan 3 sampai 10
3. Womi           : Saya datang, saya datang Mawai!
4. Mawai          : (sambil menarik telinga Womi) Kalau dipanggil cepat datang.
                           Goblok!
5. Womi           : (ganti menarik telinga orang lain) Dasar goblok!
6. Kaiwasya     : (tertawa)
7. Mawai          : Womi! Kamu ke sini!
8. Womi           : Wah, saya takut.
9. Mawai          : Sini! (lebih keras, Womi mendekat) Dengar perintahku, apa
                          Semua sudah datang?
10.Womi          : Sudah! (melihat Kaiwasya)

Adegan 20 sampai 25
20.Mawai         : Sudah ada belum?
21.Womi          : (takut, lari melihat penonton lalu kembali) Sudah! Sudah!
22.Kaiwasya    : Sponsor, sponsor?
23.Mawai         : (kepada Kaiwasya) Coba kamu lihat!
24.Kaiwasya    : (mencari ke arah penonton), lalu kembali diiringi musik)
                            Sudah, sudah, sudah!
25.Mawai         : Cukup! Duduk! Womi, panggil Mambaiseng!

c. Penokohan
            Drama Serador mempunyai tokoh sebanyak 7 tokoh. Tokoh-tokoh tersebut adalah:
1. Mawai, yang berkarakter      : adil dan bijaksana. Hal ini dapat dilihat dalam adegan ke-84, 86, 114, 130, dan 156.
2. Womi, yang berkarakter       : kasar dan cerewet. Hal ini dapat dilihat dalam adegan ke-3, 5, 34, 47, dan 57.
3. Kaiwasya, yang berkarakter: kasar dan kejam. Hal ini dapat dilihat dalam adegan ke-15, 44, 55, 85, dan 111.
4. Mambaiseng, yang berkarakter: berwibawa dan pemberani . Hal ini dapat dilihat dalam adegan ke-33, 39, 46, 50, dan 52.
5. Serador, yang berkarakter: pintar, pemberani, dan teguh pendirian. Hal ini dapat dilihat dalam adegan ke-94, 100, 115, 144, dan 151.
6. Wisopi, yang berkarakter: tulus, jujur dan lugu. Hal ini dapat dilihat dalam adegan ke-129, 146, 152, dan 155.
7 Sandine Mawai, yang berkarakter: tenang dan berwibawa. Hal ini dapat dilihat dalam adegan ke-36.

d. Setting/Latar
            Setting adalah tempat berlakunya peristiwa. Di samping tempat, waktu terjadinya peristiwa atau adegan, juga termasuk setting. Benda-benda, alat-alat, dan pakaian yang berhubungan dengan tempat terjadinya adegan juga merupakan setting. Selain itu, sistem kehidupan dan pekerjaan juga digolongkan ke dalam setting/latar (Abdullah,dkk. 1986:21-22; Sudjiman, 1984:46 dalam Nursa’adah, 2006:87).
            Setting dalam drama Serador  dapat ditelusuri melalui dialog dan teks samping. Teks samping (nebentext) merupakan petunjuk di dalam naskah pementasan yang diperuntukkan untuk sutradara. Teks samping diletakkan di berbagai tempat.
1. Tempat dan Waktu Adegan
            Petunjuk tempat terjadinya adegan-adegan dalam drama ini pertama-tama diperoleh melalui teks samping. Petunjuk ini bersifat umum yaitu Papua, karena ada beberapa adegan yang menggunakan bahasa melayu dialek Papua. Tempat terjadinya adegan yaitu dalam sebuah perkampungan masyarakat, karena dalam beberapa adegan para tokoh menyebutkan perannya dalam masyarakat adat.
2. Benda-benda dan Alat-alat
            Benda-benda dalam drama ini berhubungan dengan setting. Benda ini membentuk suasana menjadi hidup. Benda yang digunakan dalam drama ini adalah beberapa alat musik tradisional. Hal ini dipaparkan dalam teks samping.

e. Tema
            Tema adalah sejumlah pikiran, ide, dan gagasan yang menjiwai seluruh karya dari pengarang. Tema yang menjiwai drama Serador ini adalah seorang pemuda bernama Serador yang jatuh cinta pada Wisopi, anak Sandine Mawai.

f. Bahasa
            Bahasa yang digunakan dalam naskah ini adalah bahasa Indonesia, walaupun masih ada beberapa dialog di dalamnya yang menggunakan bahasa Indonesia dialek Papua. Bahasa yang digunakan oleh tokoh-tokoh yang ada di dalamnya pada umumnya adalah bahasa sehari-hari yang sifatnya sederhana dan mudah dipahami.

G. Penutup
Dalam tulisan ini telah dipaparkan tentang sosiodrama rakyat Papua dan bentuk (struktur) yang membangun naskah drama berjudul Serador, sehingga cerita itu menjadi menarik bagi penikmat karya sastra.


Daftar Pustaka
Dipayana, Ags Arya. 2009. Sekilas tentang Teater di Indonesia.
                   (Sebuah Materi dalam Kegiatan Bengkel Sastra
                    Balai Bahasa Jayapura Tahun 2009). Jayapura.
Harymawan, 1988. Dramaturgi. Jakarta: Gramedia.
Mulyana, Yoyo, dkk. 1997. Sanggar Sastra. Jakarta:Depdikbud

Nursa’adah, St. 2006. Refleksi Nilai-nilai Budaya Sulawesi Selatan dalam
                                    Drama Samindara Karya Aspar: Tinjauan Semiotik.
                                    Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Septiarti, Yemi. 1996. Drama dan Unsur-Unsurnya
            (Sebuah Makalah dalam Rangka Lokakarya Penulisan Naskah  Drama  Rakyat Daerah Irian Jaya Tahun 1996/1997). Jayapura.

Siswanto. 2009. Drama dan Teater sebagai Bentuk Seni
 (Sebuah Materi dalam Kegiatan Bengkel Sastra Balai Bahasa
  Jayapura Tahun 2009). Jayapura.

Subiat, Viani. 1996. Sosiodrama Serador. Jayapura.

----------------. 2008. Drama Rakyat. (Sebuah Materi dalam Kegiatan
         Pelatihan Drama Rakyat Taman Budaya Provinsi
         Papua Tahun 2008). Jayapura.


Zaidan, Abdul Rozak. 2000. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.
Zulfahnur, Z.F., dkk. 1996. Teori Sastra.  Jakarta: Depdiknas



















Minggu, 11 September 2011

Hasil Penelitian tahun 2008

 NILAI-NILAI DIDAKTIS DALAM FILM  AYAT-AYAT CINTA KARYA HANUNG BRAMANTYO
*Ummu Fatimah Ria Lestari


Abstrak
Penelitian ini merupakan salah satu kajian karya sastra berupa naskah film. Penelitian ini membahas unsur didaktis yang terkandung dalam cerita film yang berjudul “ Ayat-Ayat Cinta”  karya  Hanung Bramantyo. Film ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama, ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Cerita yang diangkat adalah cerita cinta, tapi bukan sekadar cerita cinta biasa. Cerita ini menggambarkan bagaimana menghadapi turun naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Universitas Al Azhar Mesir. Ia berjibaku melawan panasnya debu Mesir, berkutat dengan target dan kesederhanaan hidup, bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalaninya penuh antusiasme, kecuali satu hal, yaitu menikah. Fahri adalah laki-laki taat. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif terhadap lawan jenisnya. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya, yaitu neneknya, ibunya, dan saudara perempuannya. Akhirnya, Fahri mendapatkan dua orang wanita shalehah ( Aisah dan Maria) sebagai istrinya.

1.1  Pendahuluan
Perkembangan dunia teknologi dewasa ini semakin pesat, termasuk dunia perfileman. Adanya berbagai film yang dihasilkan oleh sineas-sineas di tanah air, menunjukkan bahwa kreativitas bangsa mulai bangkit lagi. Hal ini tentu saja dimotori oleh para sineas-sineas muda, seperti Riri Reza, Hanung Bramantyo, dan kawan-kawan.
Dunia perfileman di tanah air mulai bersemangat lagi di era tahun 2000 ini. Bahkan, kegiatan Festival Film Indonesia (FFI) mulai digelar lagi beberapa tahun terakhir ini. Kegiatan ini telah kembali menggairahkan industri film di negara ini  karena dapat memacu semangat para pemilik rumah produksi dan para sineas untuk lebih banyak berkarya.
Drama sebagai salah satu karya sastra berkembang menjadi drama modern dalam bentuk film layar lebar. Selain dikehendaki untuk menghibur, diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena dalam cerita drama itu juga terkandung makna dan nilai-nilai yang sarat moral, etika, dan budaya.
Menurut Budiman (dalam Mulyawan, 1996:13), film yang kita tonton di bioskop atau di televisi berasal dari naskah (skenario). Skenario itu merupakan paparan naskah beserta pola-pola teknis pengambilan gambar, acting dan suara. Kemudian, kerja lapangan dan laboratorium pun dilakukan, yang biasa disebut dengan shooting, processing, dan dubbing. Shooting adalah pengambilan gambar, acting, dan suara, baik di alam terbuka maupun di studio, sedangkan processing adalah upaya pemindahan film negatif ke film positif di laboratorium khusus film. Agar suara lebih jernih dan sesuai dengan tuntutan  skenario, dilakukanlah pengisian suara (dubbing). Setelah itu, film siap diproyeksikan dengan alat proyektor atau dialihkan ke pita kaset video.   
Penelitian sastra kali ini mengetengahkan unsur-unsur didaktis dalam film yang berjudul Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo. Film ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama, ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Cerita yang diangkat adalah cerita cinta, tapi bukan sekadar cerita cinta biasa. Cerita ini menggambarkan bagaimana menghadapi turun naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Hal itulah yang mendasari saya untuk meneliti unsur-unsur didaktis dalam cerita filem ini.

1.2  Kerangka Teori
1.2.1 Unsur Didaktis
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2002:1248)  pengertian unsur  adalah bagian yang penting dalam suatu hal. Bila dihubungkan dengan pengertian dan penelitian ini, unsur yaitu bagian-bagian penting yang terdapat dalam cerita filem Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo. Bagian-bagian yang penting itu berupa ilmu-ilmu yang dapat menjadikan manusia lebih arif dan bijaksana. Pengertian didaktis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sesuatu yang bersifat mendidik.
            Berdasarkan pengertian unsur dan pengertian didaktis, dapat disimpulkan bahwa unsur didaktis adalah bagian yang penting, dalam hal ini adalah cerita film Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo. Bagian atau hal-hal yang penting itu tentu bernilai positif yang dapat menimbulkan kegiatan atau kecakapan baru pada diri orang lain. Kegiatan atau kecakapan baru itu bukan berupa suatu keterampilan tetapi berupa suatu tindakan yang baik yang mencerminkan budi pekerti tokohnya. Dihubungkan dengan penelitian ini, tentu hal-hal yang sifatnya mendidik atau pendidikan dapat berlangsung pada individu yang menikmati karya sastra. Dengan kata lain, dengan menikmati karya sastra seseorang memperoleh pendidikan. Pendidikan itu bermacam-macam. Ngalim Purwanto (dalam Siswanto,dkk, 2006: 7) membagi pendidikan menjadi dua segi, yaitu pendidikan jasmani dan pendidikan rohani.
Berdasarkan cakupan pendidikan dalam bidang umum dan bidang sastra, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur didaktis yang akan dianalisis meliputi etika, filosofi, agama, dan intelektual.
Struktur batin cerita film adalah isi atau makna yang hendak disampaikan melalui cerita itu. Menurut Waluyo (dalam Siswanto, dkk, 2006:8), yang termasuk struktur batin dalam karya sastra adalah tema, perasaan, dan amanat. Namun, penelitian ini akan membahas tema dan amanat saja.
Tema adalah gagasan pokok yang akan dikemukakan oleh pengarang kepada penikmat karyanya. Amanat adalah pesan atau semacam imbauan dari pengarang (penulis) yang tersirat dalam tulisannya (karyanya) maupun tema yang diungkapkannya. Menurut Sudjiman (dalam Siswanto, dkk, 2006: 8), amanat adalah suatu ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat terdapat pada sebuah karya sastra secara eksplisit dan implisit.   

1.2.2 Unsur Didaktis
Unsur-unsur didaktis meliputi etika, filosofi, agama, dan intelektual. Etika merupakan salah satu cabang ilmu filsafat yang mempelajari nilai-nilai luhur, sehingga akan mewujudkan keluhuran budi masyarakat penganutnya. Nilai-nilai luhur tersebut merupakan pembeda antara yang baik dan yang buruk. Nilai baik dan nilai buruk ini merupakan pokok persoalan dalam etika. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2002:309), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan moral/akhlak. Sehingga nilai etika adalah nilai tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan moral/akhlak.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2002:317), filosofis adalah kata yang mengacu pada falsafah yang berarti filsafat. Menurut Peter Salim dan Yeni Salim (dalam Kusmaini, 1991:419), filsafat berarti suatu teori atau analisis logis tentang suatu peristiwa yang mendasari pemikiran, pengetahuan, dan alam semesta. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa filsafat sebagai proses berpikir tentang suatu hal yang mengarah pada akal budi atau pengalaman yang diambil hikmahnya yang kemudian dijadikan prinsip hidup.
Agama merupakan unsur utama dalam membentuk kepribadian seseorang. Seseorang yang terdidik berdasarkan ajaran agama akan berbeda kepribadiannya dengan sesorang yang dibesarkan tanpa pendidikan agama. Ajaran agama merupakan pedoman hidup manusia. Bagi umat Islam, dasar agama Islam merupakan pedoman utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Nilai-nilai agama yang terdapat dalam karya sastra di antaranya adalah sesuatu yang berhubungan dengan keimanan kepada Tuhan YME, selalu berbuat kebaikan dan berusaha untuk mencegah berbagai bentuk kamaksiatan yang akan menyebabkan penderitaan bagi manusia itu sendiri.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2002:437), intelek berarti daya pikiran. Kata intelektual berarti cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan pengetahuan. Sastrowardoyo (dalam Siswanto, dkk, 2006:12) mengungkapkan bahwa kata intelektual dalam Bahasa Inggris dikenakan sebagai sejenis pribadi tersendiri yang telah mengalami kecerdasan dan kehalusan budi lewat pendidikan budaya. Orang yang tinggi timgkat kesarjanaannya tetapi selama ia tidak mempunyai minat ataupun peka terhadap rangsang-rangsang budaya, maka ia belum berhak dinamakan intelek. Dengan kata lain, predikat intelek maknanya dalam, karena untuk memperoleh predikat itu seseorang harus peka terhadap lingkungannya.
Berdasarkan pengertian intelektual di atas, serta hubungannya dengan karya sastra, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai intelektual adalah kebiasaan hidup, pengambilan keputusan yang tepat, cepat tanggap terhadap situasi tertentu, timbul gagasan yang bagus, usaha peningkatan kesejahteraan hidup, mengambil manfaat atau pelajaran dari suatu kejadian atau suatu peristiwa.

3. Analisis   
3.1 Sinopsis
Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Universitas Al Azhar Mesir. Ia berjibaku dengan panasnya debu Mesir, berkutat dengan target, dan kesederhanaan hidup. Ia bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani dengan penuh antusiasme, kecuali satu hal, yaitu menikah. Fahri adalah laki-laki taat. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif terhadap lawan jenisnya. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini, yaitu neneknya, ibunya, dan saudara perempuannya.
Konflik dalam film ini mencuat ketika Fahri berusaha untuk mencari seorang istri. Konflik itu berupa konflik batin dalam diri Fahri karena dia memiliki banyak pilihan. Setelah berkenalan, tidak lama, akhirnya Fahri memantapkan hati untuk memilih Aisah sebagai istri. Konflik lain muncul lagi ketika mereka telah menikah. Konflik itu melanda kehidupan rumah tangga mereka. Fahri difitnah telah memperkosa seorang gadis Mesir bernama Noura. Melalui ketabahan dan perjuangan keras istrinya, akhirnya Fahry dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan kembali oleh Pengadilan Kairo.
Setelah mereka melewati konflik besar itu, Aisah juga harus menjalani kehidupan poligami dengan Maria. Maria adalah mantan tetangga Fahri sewaktu kuliah di Al Azhar. Fahri menikahi Maria karena dia kasihan dengan kondisi kehidupan Maria yang memprihatinkan. Fahri adalah suami yang baik, dia berusaha adil terhadap kedua istrinya (Maria dan Aisah), sehingga kehidupan rumah rangga mereka berjalan dengan harmonis dan langgeng.
3.2 Nilai Didaktis
a. Etika
            Unsur etika adalah nilai-nilai etika (kesopanan dan kesusilaan) yang ada dalam masyarakat. Nilai etika yang ditunjukkan adalah bagaimana kita saling menyapa apabila kita bertemu dengan orang yang kita kenal, bagaimana kita memperlakukan orang yang lebih tua dari kita, bagaimana kita bersikap dalam sebuah pertemuan (forum diskusi), dan sebagainya. Unsur tersebut dalam filem ini digambarkan dalam beberapa adegan dan dialog sebagai berikut:

Adegan 1:
Di atas sebuah kereta yang membawa Fahri kembali ke rumahnya, Fahri bertemu dengan kawannya yang bernama Asraf.
Asraf               : (datang menghampiri Fahri) “Assalamu Alaikum!”
Fahri               : “Waalaikumsalam!”
Asraf               : “Fahri, dari mana kamu?”
Fahr          : “Saya baru pulang dari Talaqi. Bagaimana sepakbola kemarin? Menang siapa?”
Asraf               : “Tentu saja Zamalek.”
Tiba-tiba datanglah dua orang perempuan Amerika melintas di hadapan mereka. Mata mereka sama-sama tertuju pada kedua perempuan itu.
Asraf                  : (masih melihat kepada perempuan itu) “Fahri, Fahri, itu orang kafir Amerika.”
Fahri                  : “Bagaimana sepakbolanya kemarin, Asraf? Kenapa kamu tidak menceritakannya?”
Asraf               : “Kamu tidak menontonnya?”
Fahri               : “Aku ketiduran.”
Mereka tetap saja mengobrol sambil memperhatikan kedua perempuan Amerika tadi. Rupanya tidak ada seorang pun yang mau memberikan tempat duduk kepada merek. Tiba-tiba seorang muslimah bernama Aisah menawarkan tempat duduknya kepada salah seorang di antara mereka, kepada perempuan Amerika yang lebih tua itu. Karena perempuan Amerika itu tampak sangat lelah dan gerah.
Aisah                  : “Jangan duduk di situ! Duduklah di tempat saya! Saya minta maaf atas perlakuan orang-orang tadi yang tidak sopan kepada Anda.”
Tiba-tiba seorang laki-laki marah melihat sikap baik Aisah kepada perempuan Amerika itu.
Laki-laki             : “Ya, muslimah! Kenapa kamu memberikan tempat duduk buat dia? Dia orang kafir.”
Aisah               : “Saya merasa tidak tega melihat ibu ini.”
Laki-laki             : “Itu memang yang pantas untuk mereka. Mereka itu kafir. Kamu itu muslimah atau bukan?”
Perempuan         : “Kami minta maaf, dia hanya ingin membantu ibu saya. Karena ibu saya sudah kepanasan.”
Aisah               : “Islam mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada siapa pun.”
Laki-laki             : “Tapi tidak untuk kaum kafir Amerika. Kamu tau apa yang dilakukan Amerika di Afganistan, Palestina, dan Irak. Mereka menuduh Islam itu teroris, padahal mereka sendiri yang teroris.”
Aisah               : “Saya tidak peduli dengan semua itu” (agak keras dan marah)
Laki-laki          : (Sangat marah dan hendak memukuli Aisah)
Mendengar kegaduhan di belakangnya, Fahri datang menghampiri laki-laki itu.
Fahri               : “Sadarlah! Sebut nama Allah SWT!”
Laki-laki itu menyebut nama Allah SWT sambil bertasbih, lalu berbalik ke arah Fahri.
Laki-laki          : “Kamu siapa? Apa urusanmu?”
Fahri                  : “Saya orang Indonesia dan kau telah menyakiti Rasulullah SAW. Kau telah berseteru dengan Rasulullah dan menentang Allah SWT. Tolong kamu pahami!”
Asraf                  : “Dia mahasiswa Al Azhar dari Indonesia, salah satu murid talaqi dari Syech Ustman.”
Fahri lalu memperlihatkan kartu identitasnya kepada laki-laki itu.
Laki-laki             : ‘Kalau kau memang orang Al Azhar, kau tahu apa tentang penderitaan bangsa Arab?”
Fahri                     : “Orang asing yang memasuki suatu negara secara sah harus dilindungi keselamatan dan kehormatannya.”
Laki-laki              : ‘Mereka bukan orang asing, mereka teroris, mereka kafir.”
Fahri                  : (menasehati) “Muhammad SAW berkata, barangsiapa menyakiti orang asing berarti dia menyakiti diriku. Dan barangsiapa yang menyakiti diriku berarti menyakiti Allah SWT. Kita boleh membenci perlakuan buruk seseorang, tapi harus tetap bisa adil.”
Laki-laki itu menjadi sangat marah mendengarkan ucapan Fahri, sehingga dia memukuli wajah Fahri sampai terluka. Untung saja Asraf segera menghentikannya. Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Fahri yang telah jatuh tersungkur. Setelah Fahri mampu bangkit dari lantai kereta, Fahri dan Aisah masih sempat saling berpandangan satu sama lain sebelum mereka turun dari kereta itu.

Adegan 2 :
Dalam ruang pertemuan, tampillah Fahri sebagai pembicara.
Fahri      : “Jadi regenerasi itu sangat penting. Organisasi ini ibarat api unggun, untuk membuat apinya menjadi besar, harus ada kayu bakar yang baru.”
Gadis 1: (berbisik-bisik dengan gadis 2) “Kenapa ya orang seperti uztad Fahri itu belum menikah-menikah juga?”
Gadis 2: “Iya..iya. Emangnya kamu mau jadi istrinya?”
Gadis 1: “Sapa takut?”
Nurul   : “Hus.., jangan berisik!”

Adegan 3 :
Sesampainya di rumah, Aisah langsung menemui pamannya.
Aisah                  : “Paman, paman kenal dengan seorang mahasiswa Al Azhar yang bernama Fahri.”
Paman Aisah      : “Fahri? Fahri. Paman kenal dia, dia murid kesayangan Syech Ustman. Kenapa?”
Aisah                  : “Tidak apa-apa.” (sambil pergi berlalu meninggalkan pamannya dan tampak tersipu-sipu malu)

Adegan 4:
Pada suatu siang yang terik, debu-debu beterbangan ke sana-ke mari. Fahri berjalan di luar rumah menuju ke suatu tempat dan terlihat oleh Maria, lalu Maria mencegatnya.
Maria              : Fahri, mau ke mana?
Fahri               : Aku mau Talaqi.
Maria              : Boleh aku menitip sesuatu? Udaranya panas.
Lalu Maria menjulurkan tali ke bawah bersama dengan sebotol jus mangga dan uangnya.
Fahri               : Nanti aku belikan CD-nya. Terima kasih atas pemberianmu ini.
Maria              : Sama-sama.
Di tengah perjalanan, Fahri bertemu dengan Noura dan ayahnya. Dia melihat Noura dipukuli oleh ayahnya sepanjang jalan. Dia merasa sangat kasihan kepada gadis itu, karena Noura selalu diperlakukan kejam oleh ayahnya.

Adegan 5:
Di suatu malam, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang perempuan dari luar apartemen Fahri dan Maria. Perempuan itu seorang perempuan Mesir bernama Noura. Rupanya perempuan itu dianiaya oleh ayahnya sendiri. Fahri melihat kejadian itu langsung dengan mata kepalanya sendiri. Lalu dia segera menelepon Maria.
Fahri               : “Maria, apa kau dengar suara itu?”
Maria              : “Iya, Fahri.”
Fahri                     : “Maria, tolonglah perempuan itu! Aku tidak tega melihat perempuan itu terus menangis. Cuma kau yang bisa menolongnya.”
Maria              : “Tapi aku takut.”
Fahri               : “Tolonglah dia, kumohon!”
Maria              : “Baik.”
Maria lalu segera berlari keluar apartemen untuk menolong Noura, lalu membawanya ke dalam apartemen Maria supaya dia bisa istirahat. Keesokan harinya, Maria dan Fahri membawa Noura ke tempat Nurul supaya dia merasa aman dan terlindungi. Sesampainya di tempat Nurul, barulah Noura bercerita kepada semua orang yang ada di situ.
Noura                 : “Ayahku ingin menjualku, dia ingin menjadikanku seorang pelacur. Tapi aku tidak mau. Katanya, aku bukan anaknya. Dia menukarku sewaktu masih kecil, jadi aku pantas untuk dijual.”
Fahri                  : “Noura, saya janji akan membantumu. Nurul, biar untuk sementara Noura tinggal di sini sama kamu. Aku akan minta bentuan temanku di intelejen untuk mencari orang tua kandungnya.”
Nurul                  : “Mas, aku takut.”
Fahri                  : “Membantu sesama muslim itu wajib hukumnya. Aku sering melihanya dipukuli.”
Fahri lalu menemui kawannya, Syech Ahmad. Dia meminta bantuan Syech Ahmad untuk mencari orang tua kandung Noura, sehingga Noura akhirnya bisa dipertemukan kembali dengan keluarganya yang sebenarnya berkat bantuan Syech Ahmad. Noura dan keluarganya tampak bahagia sekali karena pada akhirnya mereka bisa bertemu dan  berkumpul lagi. Orang tua Noura sangat berterima kasih kepada Fahri dan Syech Ahmad.


b. Filosofis
Unsur filosofis yang dimunculkan dalam film ini bahwa Mesir identik dengan Sungai Nil dan Universitas Al Azhar. Selain itu, muncul ajaran bahwa seorang anak wajib patuh kepada orang tuanya. Unsur filosofis yang digambarkan dalam filem ini terdapat dalam beberapa adegan dan dialog sebagai berikut:

Adegan 1:
Pada suatu hari, di atas sebuah jembatan di tepi sungai Nil, Fahri melamun sendirian. Tanpa sadar, Maria sudah ada berdiri di sampingnya. Lalu terjadilah percakapan seputar masalah jodoh.
Maria                 : (heran) “Kamu ngapain di sini?”
Fahri                  : “Maria, sebelum aku ke sini. Ada dua hal yang membuatku kagum sama Mesir, yaitu Al Azhar dan sungai ini. Karena tanpa keduanya itu, tidak akan ada Mesir.”
Maria                 : “Aku juga suka pada Sungai Nil. Karena tanpa Sungai Nil, tidak akan ada peradaban. Yang ada cuma gurun pasir yang tandus. Kamu percaya sama jodoh, Fahri?”
Fahri                  : “Setiap orang memiliki...” (ucapannya terputus)
Maria                 : (melanjutkan ucapan Fahri) “Jodohnya masing-masing. Itu yang selalu kau bilang. Aku rasa, sungai ini dan Mesir adalah jodoh. Senang ya kalau kita bisa bertemu dengan jodoh? Yang diberikan Tuhan dari langit.”
Fahri                  : “Bukan dari langit, Maria. Tapi dari hati, dekat sekali (saling menatap satu sama lain) Astagfirullah (tersadar tiba-tiba dan tersentak lalu berlalu pergi meninggalkan Maria sendirian) Maaf, Maria! Aku harus pergi.”

Adegan 2:
Dalam kamar tidur Fahri yang sederhana, tampak beberapa foto. Foto itu adalah foto Fahri bersama keluarganya di Indonesia dan foto Fahri bersama teman-temannya yang ada di Mesir. Setelah melaksanakan shalat, tiba-tiba Fahri teringat lagi akan percakapan terakhirnya bersama ibunya lewat telepon.
Ibu Fahri            : “Ibu tidak memaksa, Nak. Kamu sudah dewasa, ibu cuma mengingatkan saja.”
Fahri                  : “Iya. Saya ngerti, Bu. Tapi di sini susah nyari yang cocok. Lagian amanat dari ibu bapak juga belum saya laksanakan sepenuhnya.”
Ibu Fahri            : “Memangnya tidak ada perempuan Indonesia yang cocok buat kamu apa? Nurul yang selalu kamu sebut-sebut itu piye (bagaimana)?”
Fahri                  :  “Itu cuma teman, Bu. Lagian mana mungkin dia mau sama saya?”
Ibu Fahri            : “Kalau Allah sudah menghendaki, siapa pun bisa menjadi jodohmu.”
Fahri                 : “Iya, Bu. Assalamualaikum.”

3. Agama
Unsur agama paling banyak dimunculkan dalam film ini karena setting film ini di Mesir. Mesir merupakan salah satu tempat peradaban dan pengembangan agama Islam di dunia. Unsur agama yang digambarkan dalam filem ini terdapat dalam beberapa adegan dan dialog sebagai berikut:


Adegan 1:

Dalam kamar tidur Fahri yang sederhana, tampak beberapa foto. Foto itu adalah foto Fahri bersama keluarganya di Indonesia dan foto Fahri bersama teman-temannya yang ada di Mesir. Setelah melaksanakan salat, tiba-tiba Fahri teringat lagi akan percakapan terakhirnya bersama ibunya lewat telepon.
Ibu Fahri            : “Ibu tidak memaksa, Nak. Kamu sudah dewasa, ibu cuma mengingatkan saja.”
Fahri                  : “Iya. Saya ngerti, Bu. Tapi di sini susah nyari yang cocok. Lagian amanat dari ibu bapak juga belum saya laksanakan sepenuhnya.”
Ibu Fahri            : “Memangnya tidak ada perempuan Indonesia yang cocok buat kamu apa? Nurul yang selalu kamu sebut-sebut itu piye (bagaimana)?”
Fahri                  :  “Itu cuma teman, Bu. Lagian mana mungkin dia mau sama saya?”
Ibu Fahri            : “Kalau Allah sudah menghendaki, siapa pun bisa menjadi jodohmu.”
Fahri                 : “Iya, Bu. Assalamualaikum.”

Adegan 2:
Di dalam sebuah masjid, Fahri berbincang dengan gurunya, Uztad Ustman setelah mereka tadarruz.
Fahri               : (menghela napas sambil menyodorkan sepucuk surat)
Uztad Ustman : “Apa ini? Surat cinta lagi?”
Fahri                  : “Tolong uztad saja yang menyimpannya. Saya takut menyimpannya.”
Uztad Ustman: “Inilah kenapa kita diperintahkan untuk menikah. Selain untuk  menyempurnakan agama, menikah juga bertujuan untuk menghindari fitnah, sekaligus memberikan ketenangan batin”.
Kata-kata dari Uztad Ustman itu terus tergiang-ngiang dalam benak Fahri sepanjang jalan sewaktu dia kembali pulang ke rumahnya.

Adegan 3:
Setibanya di stasiun perhentian kereta, seorang perempuan Amerika dan Aisah datang menemui Fahri. Fahri terduduk di terminal stasiun sambil meringis kesakitan.
Alicia               : “Hai, saya Alicia. Terima kasih atas bantuannya.”
Fahri                  : “Sama-sama. Nama saya Fahri (menolak jabat tangan perempuan Amerika itu). Maaf, dalam Islam laki-laki tidak boleh menyentuh perempuan kecuali dengan muhrimnya.”
Alicia                  : “Oh, ya. Saya seorang wartawan Amerika yang sedang melakukan penelitian tentang Islam (menyodorkan kartu namanya) Ini kartu nama saya.”
Fahri                  : “Baik, saya akan membantumu” (juga menyodorkan kartu nama kepada Alicia).
Perempuan Amerika itu pun berlalu, namun Aisah menyempatkan diri untuk berbasa-basi dengan Fahri.
Aisah               : “Terima kasih!’
Fahri               : “Sama-sama. Apa kamu juga orang Amerika?”
Aisah               : “Bukan, saya orang Jerman.”
Fahri lalu menegembalikan tasbih milik Aisah yang dia temukan tadi di atas kereta.
Aisah                  : “Oh, tadi saya kira sudah hilang. Jarang saya temukan seorang muslim seperti kamu. Assalamu Alaikum (sambil berlalu dari hadapan Fahri).”
Fahri               : “Waalaikumsalam.”

Adegan 4 :
Di atas sebuah kereta yang membawa Fahri kembali ke rumahnya, Fahri bertemu dengan kawannya yang bernama Asraf.
Asraf               : (datang menghampiri Fahri) “Assalamu Alaikum!”
Fahri               : “Waalaikumsalam!”
Asraf               : “Fahri, dari mana kamu?”
Fahr          : “Saya baru pulang dari Talaqi. Bagaimana sepakbola kemarin? Menang siapa?”
Asraf               : “Tentu saja Zamalek.”
Tiba-tiba datanglah dua orang perempuan Amerika melintas di hadapan mereka. Mata mereka sama-sama tertuju pada kedua perempuan itu.
Asraf                  : (masih melihat kepada perempuan itu) “Fahri, Fahri, itu orang kafir Amerika.”
Fahri                  : “Bagaimana sepakbolanya kemarin, Asraf? Kenapa kamu tidak menceritakannya?”
Asraf               : “Kamu tidak menontonnya?”
Fahri               : “Aku ketiduran.”
Mereka tetap saja mengobrol sambil memperhatikan kedua perempuan Amerika tadi. Rupanya tidak ada seorang pun yang mau memberikan tempat duduk kepada mereka. Tiba-tiba seorang muslimah bernama Aisah menawarkan tempat duduknya kepada salah seorang di antara mereka, kepada perempuan Amerika yang lebih tua itu, karena perempuan Amerika itu tampak sangat lelah dan gerah.
Aisah                  : “Jangan duduk di situ! Duduklah di tempat saya! Saya minta maaf atas perlakuan orang-orang tadi yang tidak sopan kepada Anda.”
Tiba-tiba seorang laki-laki marah melihat sikap baik Aisah kepada perempuan Amerika itu.
Laki-laki             : “Ya, muslimah! Kenapa kamu memberikan tempat duduk buat dia? Dia orang kafir.”
Aisah               : “Saya merasa tidak tega melihat ibu ini.”
Laki-laki             : “Itu memang yang pantas untuk mereka. Mereka itu kafir. Kamu itu muslimah atau bukan?”
Perempuan         : “Kami minta maaf, dia hanya ingin membantu ibu saya, karena ibu saya sudah kepanasan.”
Aisah               : “Islam mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada siapa pun.”
Laki-laki             : “Tapi tidak untuk kaum kafir Amerika. Kamu tahu apa yang dilakukan Amerika di Afganistan, Palestina, dan Irak. Mereka menuduh Islam itu teroris. Padahal mereka sendiri yang teroris.”
Aisah               : “Saya tidak peduli dengan semua itu” (agak keras dan marah)
Laki-laki          : (Sangat marah dan hendak memukuli Aisah)
Mendengar kegaduhan di belakangnya, Fahri datang menghampiri laki-laki itu.
Fahri               : “Sadarlah! Sebut nama Allah SWT!”
Laki-laki itu menyebut nama Allah SWT sambil bertasbih, lalu berbalik ke arah Fahri.
Laki-laki          : “Kamu siapa? Apa urusanmu?”
Fahri                  : “Saya orang Indonesia dan kau telah menyakiti Rasulullah SAW. Kau telah berseteru dengan Rasulullah dan menentang Allah SWT. Tolong kamu pahami!”
Asraf                  : “Dia mahasiswa Al Azhar dari Indonesia, salah satu murid talaqi dari Syech Ustman.”
Fahri lalu memperlihatkan kartu identitasnya kepada laki-laki itu.
Laki-laki             : ‘Kalau kau memang orang Al Azhar, kau tahu apa tentang penderiataan bangsa Arab?”
Fahri                     : “Orang asing yang memasuki suatu negara secara sah harus dilindungi keselamatan dan kehormatannya.”
Laki-laki              : ‘Mereka bukan orang asing, mereka teroris, mereka kafir.”
Fahri                  : (menasihati) “Muhammad SAW berkata, barangsiapa menyakiti orang asing berarti dia menyakiti diriku. Dan barangsiapa yang menyakiti diriku berarti menyakiti Allah SWT. Kita boleh membenci perlakuan buruk seseorang, tapi harus tetap bisa adil.”
Laki-laki itu menjadi sangat marah mendengarkan ucapan Fahri, sehingga dia memukuli wajah Fahri sampai terluka. Untung saja Asraf segera menghentikannya. Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Fahri yang telah jatuh tersungkur. Setelah Fahri mampu bangkit dari lantai kereta, Fahri dan Aisah masih sempat saling berpandangan satu sama lain sebelum mereka turun dari kereta itu.

Adegan 4:
Pada suatu siang, Alicia mengajak Fahri bertemu di suatu kafe untuk mengambil tulisan tentang Islam yang dijanjikan oleh Fahri. Fahri menerima ajakan Alicia itu. Rupanya di sana juga ada Aisah, sehingga terjadilah percakapan di antara mereka bertiga.
Alicia               : “Jadi Islam sangat melindungi perempuan?”
Fahri                  : “Islam mengajarkan kita kalau surga itu berada di bawah telapak kaki ibu, begitu hadits meriwayatkan yang menjadikan dasar Islam sangat menjunjung tinggi perempuan.”
Alicia                  : “Jadi, bagaimana dengan kekerasan dalam rumah tangga? Bukankah Al-qur’an memberikan izin suami memukul istrinya?”
Fahri                     : “Banyak muslim yang menggunakan surah Annisa untuk melakukan tindakan pengecut memukul perempuan. Padahal, sebenarnya surah itu untuk menjelaskan tiga hal. Apabila seorang istri malakukan nusyu, yaitu melanggar komitmen pernikahan, maka yang pertama: dinasihati, kedua: diperingatkan, dan ketiga: baru dipukul. Tetapi tidak boleh di wajah dan niatnya bukan untuk menyakiti. Semua itu ada dalam tulisanku, Alicia.’
Alicia               : “Iya. Bahasa Inggrismu bagus.”
Fahri               : “Terima kasih. Maria yang membantuku.”
Alicia               : “Pacarmu?”
Aisah               : “Kamu sudah punya pacar?”
Fahri                  : “Dia tetanggaku. Dalam Islam, kami tidak mengenal pacaran. Biasanya kami melakukan ta’aruf. Saya juga telah menuliskannya di sini. Aisah, aku punya seorang kakak senior di Al Azhar orang Jerman.”
Aisah               : “Namanya Iqbal ‘kan? Dia itu pamanku.”
Fahri                  : “Masya Allah (heran), dunia ternyata sempit ya? Bagaimana studinya tentang Indonesia?”
Aisah               : “Lancar.”
Alicia                  : “Ok, kalian sepertinya sudah lama kenal. Berarti kalian cocok. Baik. Terima kasih, Fahri. Besok aku akan kembali ke Amerika. Assalamualaikum, Fahri.”
Fahri               : “Waalaikumsalam.”
Alicia dan Aisah beranjak meninggalkan Fahri di kafe itu. Namun Fahri dan Aisah masih sempat saling bertatapan mata sebelum dia  pergi bersama Alicia.

4. Intelektual
Unsur intelektual yang dimunculkan adalah bagaimana tingkatan dan kehidupan intelektual dari tokoh-tokoh dalam film ini. Unsur intelektual yang digambarkan dalam filem ini terdapat dalam beberapa adegan dan dialog sebagai berikut:

Adegan 1:
Di suatu sore dalam salah satu apartemen di  Kairo Mesir
Fahri   : “ Maria..Maria..!” (memanggil sambil mengetuk pintu)
Maria  : (sambil membukakan pintu) “Fahri.”
Fahri   : “Saya sedang butuh...”
Maria  : “Butuh apa? Kamus Bahasa Arab?”
Fahri   : “Bukan.”
Maria  : “Kamus Bahasa Inggris?”
Fahri   : “Bukan.”
Maria  : “Lalu apa?”
Fahri  : (Terbata-bata) “Sas.., sa.., saya butuh kamu dengan masalah yang ada di apartemenku.”
Maria     : “Ma, aku mau ke apartemen Fahri sebentar ya.” (Sambil berlari barsama Fahri menuju apartemen Fahri)
Sesampainya di apartemen Fahri, mereka berdua langsung menuju ke meja komputer Fahri. Fahri menunjukkan layar komputernya kepada Maria.
Fahri   : “Ini masalahku. Aku nggak tahu ini kenapa.”
Maria  : “Kamu pasti lupa memperbaharui antivirusnya. Semua fail kamu habis karena virus” (sambil mengutak-atik komputer Fahri).
Fahri   : (Sangat sedih dan kecewa)
Maria  : “Punya cadangan datanya?”
Syaiful : “Apa aja isinya”
Fahri      : “Banyak. Tapi yang paling penting itu proposal untuk penelitian tesisku.”
Syaiful : “Batas pengumpulannya kapan?”
Fahri   : “Tiga hari lagi.”
Maria  : (Coba menguatkan) “Fahri, kamu kan nggak tinggal sendirian di sini.”
Lalu mereka berlima (Fahri, Maria, dan ketiga teman Fahri) berusaha untuk menyusun kembali proposal tesis Fahri yang hilang tadi. Mereka semua bekerja sama untuk membantu Fahri sampai akhirnya proposal itu bisa tersusun kembali.

Adegan 2:
Dalam sebuah gedung pertemuan mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo Mesir.
Nurul   : (tiba-tiba datang menghampiri Fahri) “Dikasih apa tuh, Mas?”
Fahri   : (terkejut) “Nurul!” ( Lalu memasukkan surat yang tadi diterimanya dari seorang gadis)
Nurul   : “Waduh, ternyata Mas Fahri juga ada bakat menjadi selebritis juga.”
Lalu datanglah sekelompok mahasiswa, mereka mengajak Fahri dan Nurul untuk bergegas menuju ke ruang pertemuan. Mereka lalu bersama-sama menuju ke ruang pertemuan yang letaknya di lantai atas.

Adegan 3:
Maria mengirimkan bingkisan kepada Fahri melalui tali yang terjulur ke arah jendela kamar Fahri. Lalu dia menelepon Fahri dari tempatnya.
Fahri               : “Assalamualaikum.”
Maria           : “Waalaikumsalam, Fahri. Aku hampir saja lupa mengembalikan kamus bahasa Inggrismu. Kamu kan butuh itu untuk membuat artikel temanmu dari Amerika itu. Gara-gara kamus itu aku sampai mengorbankan buku Khalil Gibran kesukaanku.”
Fahri               : “Terus kue bolunya?”
Maria              : “Itu karena aku tahu kalau kamu selalu lupa makan.”
Fahri               : “Terima kasih, Maria.”
Maria              : “Sama-sama, Fahri.”


Adegan 4:
Pada suatu siang, Alicia mengajak Fahri bertemu di suatu kafe untuk mengambil tulisan tentang Islam yang dijanjikan oleh Fahri. Fahri menerima ajakan Alicia itu. Rupanya di sana juga ada Aisah sehingga terjadilah pecakapan di antara mereka bertiga.
Alicia               : “Jadi Islam sangat melindungi perempuan?”
Fahri                  : “Islam mengajarkan kita kalau surga itu berada di bawah telapak kaki ibu, begitu hadits meriwayatkan yang menjadikan dasar Islam sangat menjunjung tinggi perempuan.”
Alicia                  : “Jadi, bagaimana dengan kekerasan dalam rumah tangga? Bukankah Al-qur’an memberikan izin suami memukul istrinya?”
Fahri                     : “Banyak muslim yang menggunakan surah Annisa untuk melakukan tindakan pengecut memukul perempuan. Padahal, sebenarnya surah itu untuk menjelaskan tiga hal. Apabila seorang istri malakukan nusyu, yaitu melanggar komitmen pernikahan, maka yang pertama: dinasihati, kedua: diperingatkan, dan ketiga: baru dipukul. Tetapi tidak boleh di wajah dan niatnya bukan untuk menyakiti. Semua itu ada dalam tulisanku, Alicia.’
Alicia               : “Iya. Bahasa Inggrismu bagus.”
Fahri               : “Terima kasih. Maria yang membantuku.”
Alicia               : “Pacarmu?”
Aisah               : “Kamu sudah punya pacar?”
Fahri                  : “Dia tetanggaku. Dalam Islam, kami tidak mengenal pacaran. Biasanya kami melakukan ta’aruf. Saya juga telah menuliskannya di sini. Aisah, aku punya seorang kakak senior di Al Azhar orang Jerman.”
Aisah               : “Namanya Iqbal ‘kan? Dia itu pamanku.”
Fahri                  : “Masya Allah (heran), dunia ternyata sempit ya? Bagaimana studinya tentang Indonesia?”
Aisah               : “Lancar.”
Alicia                  : “Ok, kalian sepertinya sudah lama kenal. Berarti kalian cocok. Baik. Terima kasih, Fahri. Besok aku akan kembali ke Amerika. Assalamualaikum, Fahri.”
Fahri               : “Waalaikumsalam.”
Alicia dan Aisah beranjak meninggalkan Fahri di kafe itu. Namun Fahri dan Aisah masih sempat saling bertatapan mata sebelum dia  pergi bersama Alicia.

Adegan 5 :
Dalam ruang pertemuan, tampillah Fahri sebagai pembicara.
Fahri      : “Jadi, regenerasi itu sangat penting. Organisasi ini ibarat api unggun, untuk membuat apinya menjadi besar, harus ada kayu bakar yang baru.”
Gadis 1: (berbisik-bisik dengan gadis 2) “Kenapa ya orang seperti uztad Fahri itu belum menikah-menikah juga?”
Gadis 2: “Iya..iya. Emangnya kamu mau jadi istrinya?”
Gadis 1: “Sapa takut?”
Nurul   : “Hus.., jangan berisik!”

4. Penutup
Filem Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo ini mengandung unsur-unsur didaktis yang meliputi unsur etika, filosofi, agama, dan intelektual. Unsur-unsur ini dapat diamati dalam beberapa adegan yang telah dijabarkan oleh penulis  pada bagian sebelumnya, sehingga dapat dijadikan tontonan yang selain dapat menghibur, juga dapat mendidik kita.


5. Daftar Pustaka

Fuad, Muhammad, dkk. 2000. Nilai Didaktis dalam Pisaan Lampung Pubian. Jakarta. Depdiknas.
Kusmaini, Tuty. 2005. Unsur Didaktis dalam Kumpulan Cerita Pendek Lelaki Tua dan Biola karya Purhendi. Palembangdalam Bidar: Majalah Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan. Palembang: Balai Bahasa Palembang.
Lestari, Ummu Fatimah Ria. 2007. Analisis Dramaturgi dalam Naskah Drama Karya Rudolf Puspa (Klinik Jiwa, Seminar Kaki Empat, dan Napak Tilas)dalam Kibas Cenderawasih Volume 3. Jayapura: Balai Bahasa Jayapura.
Mulyana, Yoyo, dkk. 1997. Sanggar Sastra. Jakarta:Depdikbud
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Purwanto, M. Ngalim. 1993. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Jakarta: Remaja Rosdakarya Offset.
Sastrowardoyo, Subagio. 1983. Bakat Alam dan Intelektual. Jakarta. Balai Pustaka.
Siswanto, dkk. 2006. Unsur Didaktis dalam Cerita Rakyat Nabire dan Enarotali. Jayapura. Balai Bahasa Jayapura.
Stanton, Robert. 1965. An Introduction to Fiction. New York: Holt, Rinehart and Winston.