Sabtu, 10 September 2011

Karya "Teliti"ku di Balai Bahasa Provinsi Papua


ANALISIS DRAMATURGI DALAM NASKAH DRAMA KARYA RUDOLF PUSPA
(Klinik Jiwa, Napak Tilas, dan Seminar Kaki Empat)
Ummu Fatimah Ria Lestari*)

Abstrak
Drama merupakan salah satu karya sastra. Drama berada pada bagian seni peran dan seni sastra. Dalam hal ini penulis menekankan pada drama sebagai bagian dari seni sastra. Karena pada umumnya orang-orang seakan-akan melupakan bahwa drama adalah salah satu bagian dari sastra. Bedanya dengan novel atau puisi, naskah drama dipentaskan di atas panggung. Naskah drama  Klinik Jiwa, Napak Tilas dan Seminar Kaki Empat karya Rudolf Puspa adalah drama-drama yang pernah dipentaskan di Indonesia. Drama-drama tersebut banyak menggambarkan realitas kehidupan rakyat Indonesia saat ini. Layaknya karya sastra yang lain (novel dan puisi) tentu saja drama juga memiliki struktur sendiri. Salah satu metode yang dikembangkan untuk menganalisis bentuk struktur tersebut adalah metode Dramaturgi. Metode ini memiliki konvensi atau kaidah yang sebenarnya tak jauh berbeda pada saat kita menganalisis naskah novel atau puisi.
Hasil dari analisis naskah-naskah tersebut memaparkan pengaluran, penokohan, latar, perlengkapan, dan bahasa yang digunakan di dalamnya. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa konvensi atau kaidah Dramaturgi dapat lebih dikembangkan lagi untuk menganalisis naskah drama.    


1. Pengantar
Masyarakat Indonesia sudah tidak asing dengan istilah  film layar lebar dan sinematography (sinetron). Hampir setiap saat stasiun televisi swasta dan nasional di tanah air menayangkannya untuk masyarakat. Bahkan, dengan jelas terlihat bahwa tema-tema yang diangkat pun mengikuti selera atau keinginan penontonnya. Misalnya, sinetron bertema religius, hampir setiap stasiun televisi menayangkannya setiap hari, sehingga sinetron bertema ini menjadi tren di kalangan industri pertelevisian dewasa ini.
            Menurut Budiman (dalam Mulyawan, 1996:13), film yang kita tonton di bioskop atau di televisi berasal dari naskah (skenario). Skenario itu merupakan paparan naskah beserta pola-pola teknis pengambilan gambar, acting dan suara. Kemudian, kerja lapangan dan laboratorium pun dilakukan, yang biasa disebut dengan shooting, processing, dan dubbing. Shooting merupakan pengambilan gambar, acting, dan suara, baik di alam terbuka maupun di studio, sedangkan processing merupakan upaya pemindahan film negatif ke film positif di laboratorium khusus film. Agar suara lebih jernih dan sesuai dengan tuntutan  skenario maka dilakukanlah pengisian suara (dubbing). Setelah itu, film siap diproyeksikan dengan alat proyektor, atau dialihkan ke pita kaset video.
Film ataupun sinetron pada dasarnya bentuk turunan dari drama atau teater. Proses pembuatan sinetron serupa dengan film. Perbedaan terletak pada kamera yang  digunakannya. Kamera yang digunakan dalam film diisi dengan pita selluloid. Sedangkan kamera yang digunakan dalam penggarapan sinetron adalah kamera digital yang sifatnya otomatis. Karena kedua karakteristik kamera ini berbeda, maka hasilnya pun berbeda. Misalnya, film akan menghasilkan efek ilusi yang lebih spektakuler. Unsur-unsur intrinsik yang menyusun film dan sinetron sama saja dengan drama atau teater. Namun, perbedaannya terletak pada sisi teknis pembuatannya. Film layar lebar dan sinetron prosesnya banyak didukung oleh kecanggihan teknologi, sehingga hasilnya pun lebih menarik dan lebih memukau untuk dinikmati oleh penonton.
            Peneliti dalam hal ini akan lebih fokus pada pembahasan drama atau teater. Mengingat asal-muasal film dan sinetron adalah drama atau teater. Ide-ide maupun teknik lakon dalam fim layar lebar dan sinetron berasal dari drama atau teater. Bedanya, film layar lebar dan sinetron penyajiannya banyak mengandalkan kecanggihan teknologi sehingga terkadang dianggap sebagai drama modern. Peneliti tertarik untuk mengkaji beberapa cerita drama karya Rudolf Puspa. Karena tema cerita drama tersebut menggambarkan realitas (bersifat mimetis) masyarakat kita dewasa ini. Cerita drama tersebut juga sarat dengan amanat atau pesan moral untuk masyarakat. Penulis dalam karyanya itu ingin mengingatkan masyarakat bahwa kapan pun kita dapat mengalami konflik di zaman sulit seperti saat ini. Lewat karyanya yang sederhana, penulis drama tersebut ingin menyampaikan idenya yang begitu kompleks.
            Tema dan ide si penulis menarik, sehingga peneliti akan mencoba menggunakan kajian dramaturgi untuk menganalisis ketiga judul karya sastra tersebut.

2. Landasan Teori
Zulfahnur (1996:92) mengemukakan bahwa drama termasuk ragam sastra karena ceritanya (lakon drama) bersifat imaginatif dalam bentuk naskah drama. Sebagai suatu seni, drama merupakan seni yang kompleks, karena terkait dan ditunjang oleh seni-seni yang lain. Drama menurut John E. Dietrich (dalam Zulfahnur,1996:93) adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas, dengan menggunakan percakapan dan gerak di hadapan penonton. Zaidan (2000:60) menyatakan drama adalah ragam sastra dalam bentuk dialog yang ditunjukkan di atas pentas. Secara lebih khusus, drama lebih menunjuk pada lakon yang dipermasalahkan unsur filsafat dan nilai susila yang agung dan besar. Drama menurut Mulyawan (1997:147) adalah salah satu genre sastra yang hidup dalam dua dunia, yaitu seni satra dan seni pertunjukan atau teater. Unsur-unsur drama terdiri atas unsur pementasan drama dan unsur lakon drama. Unsur pementasan drama adalah lakon drama, pemain, pentas, sutradara, dan penonton. Pertunjukan drama dalam arti sesungguhnya tidaklah terjadi kalau salah satu unsurnya tidak ada. Misalnya, pemain saja tanpa lakon, tak dapat mementaskan drama.Begitu juga ada panggung, penonton, pemain dan sutradara, tapi tanpa lakon, sukar menghasilkan drama. Namun demikian adanya lakon (cerita drama) tanpa unsur-unsur lain, masih memungkinkan kita menikmati drama yaitu drama untuk dibaca (drama bacaan), yang disebut oleh Shipley dengan istilah closet drama. Sebagai cerita sastra, drama memiliki unsur-unsur cerita yang terdiri atas perwatakan, dialog, latar, dan alur. Dialog-dialog dalam drama biasanya padat, tidak membosankan, jelas terdengar dan tersusun sesuai dengan karakter pelaku. Perwatakan pelaku/aktor harus jelas, berkembang, hidup, dan bergerak seperti manusia. Alurnya terasa singkat, padat, banyak konflik dalam adegan-adegan cerita, dengan jalan cerita yang sistematis logis.
Orang yang menganggap drama sebagai karya sastra ada juga yang menyebutnya dengan istilah sastra lakon akan memumpunkan perhatiannya pada teks drama yang merupakan wujud seni bahasa tulis. Sebaliknya, orang yang menganggap drama sebagai seni pertunjukan akan membuang fokus itu sebab perhatiannya harus dibagi rata dengan unsur lainnya. Hal itu disebabkan oleh dalam seni pertujukan naskah drama hanya salah satu unsur yang berdampingan dengan unsur gerak, suara, bunyi/musik, dan rupa. Bahkan, sumber ekspresi teater tidak terbatas pada teks drama, melainkan dapat juga dari genre sastra lain (puisi dan prosa fiksi) dan teks lain (teks pidato, pledoi di pengadilan, esei, dsb.)
            Akan tetapi, baik drama sebagai karya sastra maupun sebagai bagian dan kelengkapan teater, teks drama selalu berkiblat pada pementasan. Arah inilah yang membedakan drama dengan prosa fiksi maupun puisi. Orientasi pada pementasan juga membuat drama mendapatkan penafsiran yang kedua. Tafsiran pertama dilakukan oleh para pekerja teater ketika akan mementaskan sebuah drama. Tafsiran kedua menurut Luxemburg (dalam Mulyana,1997:145) dilakukan oleh para penonton ketika menyaksikan pementasan teater.
            N. Riantiarno (dalam Nusantara: 2005) mengungkapkan bahwa bentuk naskah lakon berkembang dinamis bahkan melawan aturan baku Aristoteles, tentu itu bukan tabu. Artinya, perkembangan tetap sah adanya. Naskah lakon juga bisa terdiri bukan dari rangkaian dialog melainkan hanya notasi kerja aktor dan sutradara, atau terdiri dari kumpulan skets arsitektural saja. Aturan baku Aristoteles itu diawali dengan pembukaan atau prologos, kemudian disusul dengan perkembangan masalah, dan akhirnya penutup atau epilogos. Di belakang hari, struktur lebih diperinci. Demikian urutannya: dibuka dengan eksposisi atau pengenalan masalah dan tokoh-tokoh lakon, lalu konflik (masalah berkembang dan memicu pertentangan), kompilasi (perbenturan masalah semakin menajam), krisis (mulai timbul upaya pencarian jalan keluar), resolusi (penyelesaian masalah), dan ditutup dengan solusi (konflik berakhir, kisah selesai). William Shakespeare malah membagi lakon-lakon karyanya menjadi 5 babak, dengan jumlah adegan yang bergantung kepada perkembangan masalah. Urutannya: Babak pertama dibuka narator yang mengungkap latar belakang peristiwa, waktu, kejadian, kedudukan tempat, dan karakter tokoh-tokoh. Babak kedua, lakon berkembang, masalah datang. Babak ketiga, konflik terjadi. Babak keempah, klimaks atau anti klimaks menuju jalan keluar. Dan babk terakhir merupakan penyelesaian. Lalu, lakon ditutup pula pula oleh narator. Intinya, di dalam sebuah lakon selalu ada tokoh, peristiwa atau masalah, waktu, dan tempat.
Pemberontakan terhadap struktut baku, kita tau sangat marak dan terjadi dimana-mana sepanjang zaman. Para penulis naskah drama sesudah zaman Aristoteles dan Shakespeare berusaha keras membolak-balik struktur atau bahkan sama sekali tak peduli struktur. Anti struktur. Bisa jadi epilog ditaruh di depan sebagai prolog. Atau, lakon dimulai di tengah (krisis), lalu struktur diacak. Bahkan, solusi tidak dihadirkan sehingga lakon berakhir tanpa solusi. Sesungguhnya itulah solusinya, yakni tanpa solusi. Sebuah akhir yang terbuka, open ending. Pada kenyataannya para penulis lakon sulit menghindar dari struktur baku yang sudah ditemukan berabad lampau itu. Apapun bentuk naskah lakon yang dipilihnya.
Gejala-gejala yang tampak pada drama, seperti telah dipaparkan di atas, bermanfaat juga bagi penulis naskah drama. Paling tidak, ada kesadaran pada diri calon penulis bahwa imajinasi pemanggungan mesti terbentuk ketika proses penulisan drama berlangsung. Setelah itu, kita pun mesti mengetahui konvensi-konvensi dalam drama agar penulisan dapat terwadahi sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Dengan demikian, apabila kita membuat drama yang inkonvensional atau menyimpang dari kaidah-kaidah yang berlaku semua itu dilakukan berdasarkan pemahaman kita terhadap konvensi-konvensi tersebut.
            Selanjutnya, kita akan mengenali terlebih dahulu konvensi-konvensi yang terdapat dalam drama. Kita pun akan melihat bagaimana para dramawan memanfaatkan dan membuat pembaharuan terhadap konvensi tersebut. Pengenalan yang kita lakukan, untuk kepentingan kajian sastra biasa disebut dengan istilah dramaturgi. Menurut Scherer (dalam Bachmid,1990:26), tujuan pendekatan dramaturgi adalah berupaya untuk menjelaskan bagaimana seorang pengarang menggunakan kerangka bentuk tertentu dalam dramanya.
            Prinsip yang melandasi perumusan kaidah-kaidah bentuk drama adalah prisip mimesis (peniruan). Prinsip yang telah dianut semenjak zaman Aristotelles itu menghendaki adanya realisme dalam drama. Selain itu, keterbatasan waktu pementasan mengharuskan adanya kepadatan semua unsur bentuk.
            Talha Bachmid (dalam Mulyana,1997:147), seorang doktor dalam bidang kajian drama, mengutip pendapat Patrice Pavis bahwa drama memiliki konvensi dan kaidah umum, yang dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar. Yang pertama berhubungan dengan kaidah bentuk, seperti alur dan pengaluran, tokoh dan penokohan, latar ruang dan waktu, dan perlengkapan. Yang kedua berkaitan dengan konvensi stilistika atau bahasa dramatik. Berikut akan diuraikan kaidah dan konvensi drama secara sekilas. Apabila kita telaah lebih lanjut, nanti akan tampak bahwa konvensi itu juga berlaku atau merupakan bagian dari konvensi sastra lainnya, khususnya prosa fiksi yang sudah kita bicarakan.
a. Alur dan Pengaluran
Yang menyangkut kaidah alur adalah pola dasar cerita, konflik, gerak alur, dan penyajian. Semenjak zaman Aristotelles dinyatakan bahwa alur drama mesti tunduk pada pola dasar cerita yang menuntut adanya konflik yang berawal, berkembang, dan kemudian terselesaikan. Yang disebut konflik adalah terjadinya tarik-menarik antara kepentingan-kepentingan yang berbeda, yang memungkinkan lakon berkembangan dalam suatu gerak alur yang dinamis. Dengan demikian, gerak alur terbentuk dari tiga bagian utama, yaitu situasi awal atau disebut juga pemaparan, konflik, serta penyelesaiannya.
Kemudian, penyajian pola dasar tersebut dilakukan dengan membaginya ke dalam bagian-bagian yang disebut adegan dan babak. Kekhasan sebuah drama akan tampak melalui penyajian cerita dalam susunan babak dan adegan. Dalam penyusunan babak dan adegan, pengarang drama akan selalu menjaga kepaduan serta keterjalinan bagian-bagian alur maupun keterjalinan semua unsur bentuk. Inilah yang disebut dengan koherensi cerita. 
b. Tokoh dan Penokohan
Tokoh dalam drama mesti memiliki ciri-ciri, seperti nama diri, watak, serta lingkungan sosial yang jelas. Pendeknya, tokoh atau karakter yang baik harus memiliki ciri atatu sifat yang tiga dimensional, yaitu yang memiliki dimensi fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Harymawan (1988: 25-26) dalam bukunya, Dramaturgi, menyebutkan bahwa rincian dimensi fisiologis terdiri atas usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, dan ciri-ciri muka; dimensi sosiologis terdiri atas status sosial, pekerjaan (jabatan dan peranan di dalam masyarakat), pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan hidup (kepercayaaan, agama, dan ideologi), aktivitas sosial/organaisasi, hobi/kegemaran, bangsa (suku dan keturunan); dimensi psikologis meliputi mentalitas dan moralitas, temperamen, dan intelegensi (tingkat kecerdasan, kecakapan, dan keahlian khusus dalam bidang-bidang tertentu).
Biasanya, tokoh-tokoh utama muncul di awal cerita, yaitu pada tahap pemaparan. Hal itu dimaksudkan agar publik, khususnya pembaca atau penonton dapat mengenali mereka. Sepanjang cerita, tokoh-tokoh akan mempertahankan ciri-ciri mereka. Kemudian, konflik tercipta akibat perbedaan yang terdapat di antara tokoh-tokoh yang berupaya mewujudkan keinginan mereka. Perbedaan itulah yang semakin lama semakin meningkatkan konflik dan berpuncak sebagai klimaks.
c. Latar: Ruang dan Waktu
Seperti halnya alur dan tokoh, unsur ruang dan waktu pun mengikuti konvensi umum yang didasari pada peniruan realitas kehidupan. Ruang dapat disisipi pengarang dengan petunjuk pemanggungan (kadang-kadang disebut dengan istilah kramagung, waramimbar, atau teks samping) dan dialog, cakapan, atau wawancang. Ruang yang merupakan pijakan tempat peristiwa terjadi umumnya jelas, menunjang lakuan drama, dan sesuai dengan lingkup cerita.
Konvensi waktu juga mesti tunduk pada prinsip kepaduan dan kejelasan. Dalam drama, waktu lakuan atau saat tokoh-tokoh bertindak adalah waktu kini, sedangkan waktu cerita atau waktu yang digunakan oleh para tokoh dalam dialog mereka dapat berupa waktu lampau maupun waktu yang akan datang. Waktu lampau terjadi, misalnya untuk menceritakan peristiwa-peristiwa yang mereka alami, sementara waktu yang akan datang dapat digunakan untuk menyampaikan rencana atau ramalan peristiwa yang akan terjadi.
d. Perlengkapan
Perlengkapan juga tunduk pada konvensi seperti unsur yang telah kita sebutkan. Perlengkapan merupakan unsur khas teater, yang dapat berupa objek atau benda yang diperlukan sebagai pelengkap cerita, seperti perlengkapan tokoh, kostum, dan perlengkapan panggung. Perlengkapan (dalam kramagung atau wawancang) selalu sesuai dengan keperluan cerita.
e. Bahasa
Bahasa dalam drama konvensional juga tunduk pada konvensi stilistika. Misalnya, para tokoh melakukan dialog dengan menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan lingkungan sosial mereka serta watak mereka. Selain itu, seorang tokoh berkomunikasi dengan tokoh lainnya untuk menyampaikan suatu amanat. Kemudian, di antara mereka diharapkan terjadi dialog yang bermakna yang akan menyebabkan cerita berkembang.
            Struktur dramatik menyangkut perkembangan dan kaitan antarkonflik yang muncul, memuncak, dan berakhir. Dalam drama konvensional, struktur dramatiknya seperti konvensi klasik plot menurut Aristotelles atau dapat juga seperti yang dikembangkan oleh Gustav Freytag (dalam Mulyana, 1997:156), yaitu eksposisi, komplikasi, resolusi, klimaks, dan konklusi. Konklusi dalam tragedi disebut katastrof (berakhir dengan kesedihan), sementara dalam komedi disebut denumen (berakhir dengan kebahagiaan).
Zaimar (1991:1) mengemukakan, pada dasarnya karya sastra, baik prosa, drama maupun puisi, merupakan cagar budaya dan khasanah ilmu pengetahuan. Suatu karya sastra terpancar pemikiran, kehidupan, dan tradisi suatu masyarakat.
           
3. Pembahasan
            Naskah drama yang dianalisis oleh peneliti adalah tiga buah naskah drama karya Rudolf Puspa, yaitu berjudul Klinik Jiwa, Seminar Kaki Empat, dan Napak Tilas. Adapun tema yang terdapat dalam ketiga naskah tersebut sangat sederhana dan mudah ditemukan oleh para pembaca. Karena setiap adegan dalam drama ditampilkan dengan sangat jelas.
3.1 Naskah Drama berjudul Klinik Jiwa
            Tema drama ini adalah kondisi atau keadaan nyata sebuah Rumah Sakit Jiwa di Ibukota yang merupakan gambaran mimetis dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia saat ini. Tema ini dapat ditemui dalam Catatan Penulis di awal naskah:
            Suasana pengap Rumah Sakit Jiwa. Merintih. Shock. Menangis.Tersenyum. Marah-marah. Lucu, aneh-aneh merupakan bentuk aktifitas para pasien jiwa. Ada perawat yang mengawasi serta sesekali menolong mereka jika aktifitas mereka membahayakan dirinya atau sesama pasien.
3.1.1 Tokoh atau Penokohan
            Tokoh atau penokohan dalam naskah drama ini terdiri atas beberapa orang pasien, perawat, dokter, asisten dokter dan sepasang suami istri.
            a. Pasien 1        : ambisius, penuh semangat, tapi penakut.
            (...Berjalan ditegap-tegapakan. Dia suka sekali pidato, ke kursi atau ke tempat yang tinggi dan pidato. Tak jelas bicaranya. Anak muda yang gagal jadi pemimpin organisasi dan selalu didemo untuk dipecat. Selalu ketakutan lihat orang banyak. Cepat sembunyi berdandan bagai pemimpin resmi)
            b. Pasien 2        : Pemberontak, cepat putus asa, dan pesimis.
            (...Anak muda yang tertekan jiwanya karena situasi rumah tangga, harus kerja sejak kecil, tak bisa bermain dengan teman sebayanya. Ingin bebas, merdeka. Tiap hari berhitung saja menunggu waktu kebebasannya...)
            c. Pasien 3        : Penakut, selalu merasa kesepian, manja, dan suka diperhatikan.
            ( Selalu cari teman. Takut sendirian. Suka nyanyi. Bawa boneka yang dianggapnya sebagai anaknya. Gayanya manja sekali. Ia merasa tak pernah diperhatikan. Merasa selalu dibenci siapapun...)
            d. Pasien 4        : Berjiwa seni, romantis, suka berkhayal.
            ( Lagaknya bagai seniman. Selalu berkata-kata yang sepertinya puitis. Suka berkhayal hingga hilang kesadarannya. Kaki satu pakai sepatu dan yang satu pakai sandal. Wajahnya dihiasi dengan coretan bunga atau gambar wanita yang serba romantis)
            e. Pasien 5        : Ambisius dan sok pahlawan.
            ( Anak muda yang ingin jadi militer. Ia merasa dirinya pahlawan. Jago perang. Badannya kuat. Bawa senjata tapi mainan...)
            f. Perawat        : Aneh, penuh perhatian dan tidak rapi.
            ( Gayanya juga termasuk aneh. Tapi tamapak sangat penuh perhatian pada pasien. Di baju seragam perawat, bisa putih atau warna cerah lain)
            g. Dokter          : Penakut dan tidak bertanggung jawab.
            ( Dokter dikejar oleh pasien 3. Dokter ketakutan. Laripun dengan gaya slow motion. Sampai panggung terengah-engah mengalah...)
            h. Asisten         : Matre dan masa bodoh.
            ( Melihat pasien yang siapkan diri. Ragu-ragu. Mengeluarkan jarum suntik dan kemudian...) Jangan royal dengan obat, Dok. Tadi pagi ‘kan sudah. Obat ini terlalu mahal untuk mereka...
            i. Istri                : Penuh curiga dan galak.
            ...siapa dia...( Menuding pasien 3)
            j. Suami            : Tenang dan pandai merayu.
            Bu, bu, nyebut bu...masa suamimu yang handsome ini ada main udang di balik klinik. Selingkuh mahal ongkosnya, Bu. Salah-salah dihajar, masa runyam, Ini zaman orang mudah marah.
3.1.2 Alur atau Pengaluran
            Alur atau pengaluran dalam naskah drama ini menampilkan alur maju (forward). Hali ini dapat ditemui pada setiap epilog, dialog, maupun monolog yang terdapat dalam naskah drama ini.
            Perawat            : ( Menuju pasien 1 dan ambil buku dari tangannya. Kembali duduk di tempatnya dan baca).
            Semua pasien    : ( Ikuti perawat baca)
3.1.3 Latar atau Pelataran
            Latar atau pelataran dalam naskah drama ini adalah dalam sebuah Rumah Sakit Jiwa. Dimana para pasien berkumpul di ruang atau bangsalnya. Hal ini dapat dilihat pada bagian awal naskah yang berisikan catatan penulis. Di dalamnya dipaparkan dengan jelas latar atau pelataran dari cerita drama tersebut.
3.1.4 Sudut Pandang
            Sudut pandang yang digunakan penulis adalh orang ketiga tunggal. Karena penulis menyebutkan tokoh-tkoh cerita berdasarkan perannya masing-masing (pasien, perawat, dokter, asisten dokter, dan suami istri) dalam naskah ini. Hal ini dapat diamati dengan jelas dalam dialog-dialog yang ada.

3.2 Naskah Drama berjudul Napak Tilas
            Tema yang ditampilkan dalam naskah drama ini adalah sejarah kemerdekaaan bangsa. Pesan moralnya adalah penyadaran terhadap nilai-nilai sejarah kemerdekaan bangsa. Bukan bicara perang tapi semangat mencintai negeri. Karya seni adaalah yang bicara dan bukan menggurui.
3.2.1 Tokoh atau Penokohan
            Tokoh atau penokohan dalam naskah drama ini melibatkan tokoh Pemimpin, Suman, Ambong, Penyair, Endah, Amel, Rita, Dian dan Wanda.
            a. Pemimpin      : Penuh semangat, penuh perhatian dan pecinta alam.
            ( Bersama teman-temannya muncul. Lelah. Keringatan. Kepanasan. Haus. Lapar. Sang pemimpin melihat keliling lalu mengajak teman-temannya berhenti)
            b. Ambong        : Rakus, egois dan suka mengejek.
            ( Menirukan tetapi mengejak) Hidangan segar dimakan bulat-bulat. Apalagi bila tidak ada yang melihat. Bukan milikpun disikat (Sambiol mengambil makanan teman dan langsung masuk mulutnya)
            c. Suman          : Cuek dan bicara apa adanay.
            Kalau gatal digaruk. Gampang ‘kan?
            d. Penyair         : Gaya artificial, aneh, eksentik dan sok seniman.
            ( Dengan gaya artificial, aneh, eksentik. Dandananya juga bergaya sok seniman tapi unik gila)
            e. Endah           : Emosional, keras dan tegas.
            ( Pelan pada mulanya tapi lama-lama emosional dan bicaranya tak beraturan) Sebenarnya saya tidak ingin mengambil alih kursi pimpinan. Tapui setelah memperhatikan...( Bingung mencari kata-kata yang tepat)...melihat....lihat...(tegas sekali)...
            f. Amel : Bijaksana, penuh solidaritas dan menghargai orang lain.
            Selesai. Kepala boleh panas tapi hati tetap dingin. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Siaaap grak. Kembali ke tempat masing-masing graak.
            g. Rita              : Bijaksana, adil dan pandai.
            Itu baru adil namanya. Biar bego, goblog, iri tapi tidak buta keadilan. Adil pangkal makmur. Hemat pangkal kaya. Rajin pangkal pangdai. Miskin pangkal penyakit.
            h. Dian             : Penakut, lemah dan manja.
            Aku ini masih sakit. Sakit sakit gatal. Makin panas.
            i. Wanda           : emosional dan kasar.
            ( Datang dengan penuh kekesalan) sakit apa? Kenapa diam? Bisu? Tuli? Apanya yang sakit!!! Kepala? Leher? Dada? Tangan? Perut? Pinggul? Paha? Kaki? (Kuat sekali teriak) Sakit apaaa? (Karena kesal dan gemas ayunkan tangan mau memukul)
3.2.2 Alur atau Pengaluran
            Alur atau pengaluran dalam naskah drama ini dipaparkan secara  kilas balik (flashback) dan maju (forward). Hal ini diungkapkan penulis dalam catatannya di awal naskah.
            Mereka mencoba untuk melihat jauh ke suasana perang kemerdekaan hingga berhasil mendapatkan kemerdekaan. Kemudian mereka pun mencoba melihat ahri ini. Perdebatan muncul sebagai ungkapan menyampaikan pendapat.
3.2.3 Latar atau pelataran
            Latar atau pelataran dalam naskah drama ini diungkapkan penulis dalam catatannya di awal naskah.
            Tempat kejadian di bukit. Pagi cerah sinar mentari. Asngin segar bertiup di antara pepohonan. Sekelompok anak muda berjalan mendaki bukit dengan segala peralatan dan pakaian yang mencerminkan anak muda gaul yang berwisata di pegunungan.
3.2.4 Sudut Pandang
            Sudut pandang yang digunakan penulis adalah orang ketiga tunggal. Karena penulis langsung menyebutkan nama-nama tokoh yang ada dalam cerita dram tersebut (Pemimpin, Suman, Ambong, Penyair, Endah, Amel, Rita, Dian dan Wanda)


3.3 Naskah Drama  berjudul Seminar Kaki Empat
            Tema yang diangkat oleh penulis adalah kehidupan bermasyarakat dalam negara kita saat ini. Pesan moral yang hendak disampaikan bahwa perbedaan pendapat adalah tantangan hidup, namun tetapa dalam kedamaian. Bukan diselaseaikan dengan kekerasan.
3.3.1 Tokoh atau Penokohan
            Tokoh atau penokohan yang terdapat dalam drama ini terdiri atas tokoh Kucing, Kambing, Kerbau, Penjaga Kandang, Moderator, Bos, John dan Ucang.
            a. Kucing          : Genit dan galak.
            He, binatang disuruh sabar.Ada-ada saja manusia (Mengeong, genit dan galak)
            b. Kambing       : Jujur dan apa adanya.
            ( Setiap biacara ada selalu mengembiknya di sela-sela kata atau kalimat, membaca kertas kerja) Saya gembira saudara-saudara. Hal ikhwal peternakan maju di kawasan kita. Walaupun dalam soal makanan, bersaing keras dengan manusia. Dengarkan catatan tentang peternakan kambing. Saudagar kambing punya kambing luar biasa banyak. Kalau sedang ditimpa persoalan ia panggil pegawainya.
            c. Kerbau         : Polos dan apa adanya.
            ( Membaca makalah dengan suara kerbau) Kami bangsa kerbau sepintas lalu nampak gamang dihalau-halau. Tapi hati kami bergalau serta risau. Mengapa manusia jika pikiran kacau. Memaki dengan kata ”otak kerbau”? Mengapa? (Menguak kuat dan melenguh panjang)
            d. Penjaga         : Galak dan disiplin.
            Jam bicara habis. Masuk kandang, mbing (Berusaha mendorong kambing)
            e. Moderator     : Pandai dan adil.
            Selanjutnya tibalah penyamapi makalah berikut yang tak kalah pentingnya. Yang terhormat kelompok Bos Bubalus alias sang Kerbau.
            f. Bos               : Galak dan kasar.
            John Jihn come here, stupid bodoh. Keluarkan yang umumr tiga tahun dari kandang nomor dua paling kanan.
            g. John              : Penakut dan lugu.
            Tolong, Bos. Tolong, Boos. (Bos sudah menghilang ketakutan) Jadi bos katekutan. Helep. Helep plis plis gitu looo bos begooo! (Lari).
            h. Ucang           : Kasar dan galak.
            Dasar otak kerbau.
            Kerbau kau.

3.3.2 Alur atau Pengaluran
            Alur atau pengaluran yang diungkapkan oleh penulis adalah alur maju (forward). Hal ini dapat dilihat dalam dialog-dialog antartokoh yang ada di dalamnya. Kalau kita memperhatikan dengan seksama, sangat jelas bentuk pengaluran yang ditampilkan penulis.
3.3.3 Latar atau Pelataran
            Latar atau pelataran yang dipaparkan oleh narator, yaitu di sebuah Universitas ternama di negeri yang sedang belajar sendiri walau sudah puluhan tahun meredeka. Tepatnya di klinik Fakultas Kedokteran Hewan, di bagian kandang sebelah barat daya adalah kediaman Felis Catus, Capra Aegagrus dan Bos Bubalus.
3.3.4 Sudut Pandang
            Sudut pandang yang diketengahkan penulis adalh orang ketiga tunggal. Karena penulis secara langsung menyebutkan nama-nama tokoh-tokoh yang ditampilkan ( Kucing, Kambing, Kerbau, Penjaga Kandang, Moderator, Bos, John, Ucang dan Narator)

4. Simpulan
            Berdasarkan hasil analisis peneliti yang menggunakan kaidah atau konvensi Dramaturgi, naskah-naskah drama tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Tema yang diungkapakan adalah beragam. Tema yang dipaparkan adalah kondisi realitas sosial masyarakat dan bangsa indonesia saat ini, dan semangat untuk mempertahankan kemerdekaaan yang sudah dicapai.
b. Alur yang digunakan dalam ketiga naskah drama tersebut pada umumnya menggunakan alur maju. Alur ini diungkapkan dalam rincian-rincian dialog yang ada dalam naskah drama tersebut.
c. Umumnya, cerita tidak membatasi tokoh dalam naskah. Walaupun tokoh-tokoh yang ditampilkan langsung menyebutkan nama-nama tokohnya secara langsung.
d. Latar atau pelataran dalam cerita mengambil lokasi dan waktu yang berbeda-beda. Tapi pada umumnya merefleksikan hubungan manusia dengan lingkungan dan makhluk lain yang ada di sekitarnya.
e. Sudut pandang yang ditampilkan oleh penulis naskah pada umumnya menggunakan sudut pandang orang ketiga. Karena penulis langsung menyebutkan nama-nama tokoh yang ada.































DAFTAR PUSTAKA



Harymawan, 1988. Dramaturgi. Jakarta: Gramedia.
Mulyana, Yoyo, dkk. 1997. Sanggar Sastra. Jakarta:Depdikbud.
Nusantara, A. Ariobimo, dkk. 2005. Lima Naskah Drama. Jakarta: Grasindo.
Zaidan, Abdul Rozak. 2000. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.

Zaimar, Okke K.S. 1991. Menelusuri Makna Ziarah Karya Iwan Simatupang. Jakarta: Intermasa.

Zulfahnur, Z.F., dkk.1996. Teori Sastra.  Jakarta: Depdiknas.


Catatan Khusus:
Telah diterbitkan dalam Jurnal Kibas Cenderawasih Balai Bahasa Provinsi Papua tahun 2007. 

Hidup (dalam) Syairku

R i n d u

Rindu…
Gerimis petang membelai senja,
Mengalir pelan di rimbun kamboja dan tanah merah.

Rindu…
Pisau terhunus di ujung malam,
Pena pujangga kanvaskan khayal,
Mengeras di dada waktu.

Rindu…
Peluru cemburu ditembus waktu,
Kabur berpeluk beku kalbu,
Aku menaruh rindu itu bersarang di batinku.

Rindu…
Taruhan kekasihku yang tlah jauh,
Terbenam utuh di pijak langkah,
Jiwanya saja.

Rindu…
Patahan singgasana cinta di dada malam,
Tinggal puing bersahaja,
Menggerakkan labuhan layar.

Rindu…
Bak kematian perlahan-lahan,
Syair-syair laut dalam rima ombak dan letupan buih,
Panorama alam kematian di atas laut.

Rindu…
Tolong pulangkan aku!
‘Tuk merajai pangkuan ibunda.
Kuhanya punya satu leburan beku,
Keridhaan Ilahi.





Ketika Kau Bahagia

Batang waktu lalui tapal batas, bertahun menghiba rasa itu di dada. Aku datang,
Dia pun menghiba di pandangan. Aku bertahan.
Sengajakah kau simpan?
Ataukah dia lebih baik untukku?
Andai kudapat membajak jiwamu lewat penaku,
Menampakkan kuiba atas takdirmu.
Ketika kau bahagia, lambaian tanganku bicara.
Bicara atas kenangan terhempas.
Ketika kau bahagia, kuangkat kepala dan melangkah.
Dan ketika kau bahagia,
Mungkin kusudah tak di sana.
Tak penting aku ‘tuk dikenang.











Cinta akan bersamaku

Sejak waktu memaksaku ‘tuk berjanji, waktu ‘tuk menunggu di sudut pilu,
Waktu ‘tuk kayu-kayu rindu di perbukitan beku. Satu makna tersimpan rapat,
Waktu lalu tanpamu.

Sayap-sayap merapuh, tunduk di senja, saat kumulai membaca ukiran awan.
Kau kuabadikan, kekasih.
Matamu, penyanderaan jiwaku dan menahanku ‘tuk berlari.

Ada perapian, kaca penuh tanya, telahkah cinta memenggal hidupku?
Serak hati menyerpih.
Cinta akan bersamaku mengenangmu.




















Kutulis

Kutulis tentangmu dengan pena yang kau pinjamkan kemarin. Kurangkai kembali ingatanku bersama pesan yang kau kirim lewat ponselku.
Kau yang slalu dekat. Karenamu kucoba untuk tak menyerah. Ini dunia yang lingkarkan kita, smoga kau tau kalau kita berbeda.

Maafkanku. Teratai akan hanyut terbawa dan terkoyak ombak. Indahnya tak mampu kujaga. Aku trauma atas pertemanan, rindu dendam, remuk redam.

Kuukir perjalananku dalam malam-malam yang Dia perkenankan. Kujamah setiap pesona, di mimpiku, tlah kuasingkan jiwaku. Petualanganku torehkan dirimu.
Maafkanku. Hadirmu yang dulu itu, hangat dan damainya masih ada hingga kini.

Percayakah sang pagi? Embun itu adalah kau. Kabut itu adalah kau. Seluruh alam akan menyimpan bayangmu.
Tuhan, berikanku teman yang baik!
Tuhan, petualangan ini ingin kuakhiri. Bantu aku maknai karunia-Mu!

Aku yang tak mampu setia di dekatmu,
Salahkah aku bila kini merindumu?
Pantaskah aku bila tiba-tiba tak mau mengenang yang dulu itu?

Maafkan, aku tak kokoh untuk sandarkan bahumu.
Karena aku jauh dan rapuh.

Cintakah aku di atas cintanya? Damaikah jiwaku di atas damainya?
Kuingin kau pun tahu kalau aku di sini untukmu.
Dua hati yang disatukan ini untukmu.




Majnunku

Majnunku, langit tak berbingkai ‘tuk kasihmu.
Akukah,
kepulan rindu tanpa siluet itu?
Padang pasir penyimpan oase kewarasanmu?
Ataukah kafilah terindah?
Menjejakkan butir peluh di jemarimu.

Majnunku, tendaku serpihan hati. Takkan tersingkap,
Kecuali angin dingin lunak.
Seribu pulau penerbanganmu, singgahnya kepakan sayapmu bukan di kotaku
Katakana apa yang termulia dan terhina bagimu!

Majnunku, keterpaksaan itu jalanku.
Jalanku.
Dan ketulusanmu jadi kerikil kecil untuknya.

Olehnya, aku dikawal aksara keteduhan celah napasmu.
Andai perlu, bernapaslah di rongga dadaku!
Atau mengalirlah di benakku!
Kuasai aku lebih dari sekadar menyemburkan air mani untukku.
Di kepuasanku.

Tetaplah di kelupaanmu!
Untuk kata-kataku terdahulu.
Selamatkan aku!
Bahwa cinta dan maaf menjadi bekalku.
Engkaulah,
Lukaku yang berjalan dan berbicara.
Karna
Aku perempuan yang bukan untuk tuan.

Menghadang Tanpa Persahabatan

Biarkanku berteman dengan hatimu, bukan ragamu. Izinkanku, memilikimu dengan perasaanku. Kala hujan mengarak sang awan, hingga jauh tak nampak di mata.
Biarkan aku bertemu denganmu dalam do’a, bukan dalam setiap sua yang kita rencanakan. Kini relung jiwa bukan lagi persemaian cinta. Tapi pergolakan hampa suara.

Keterbatasanku saja dan kefanaan cinta, menghempas kita dalam perjalanan.

Kata-katamu menggema dibawa oleh signal telepon. Kabut samarkan hadirmu dalam bisu, prahara tlah menanggung smua kemarahan alam. Air lari tunggang-langgang, seketika menjadi bah.

Keinginanku saja dan keangkuhan bencana, menyeret kita telusuri perpisahan.

Cerita-ceritamu menjelma disurutkan oleh kabar media. Mulai pupus asaku, sesak napasku, aku jalan sendirian. Teman, aku ikhlas. Getar gempa dan arus tsunami masih menghadang tanpa persahabatan. Mereka temukan jasadmu bersama untaian tasbih dalam gengaman.

Terekam dalam pilu. Biarkanku berteman dengan smangatmu.










Sayang…

Sayang, masih bisakah kujelaskan. Dengan batin.
Batin yang remuk redam. Masihkah engkau inginkan pengakuan?
Untuk apa?
Aku berdiri dengan keakuanku. Keakuan yang rapuh dan beku.
Karena kau sangat jauh.
Di hati, dalam sesak, engkaulah berpijak.
Demi masa, penuh luka, engkaulah terbijak.
Aku bisa apa?
Sampai saat ini artiku belum ada.
Kita sama-sama butuh pengertian. Entah siapa yang sebaiknya mengerti.
Kau atau aku.

Sayang, bahasa diammu lelehkan air mata. Air mata kita.
Titik demi titik bicara kepada dunia.
Kita hampa. Karena siapa?
Akankah kita dapati? Cinta sejati di ujung jalan ini.
Ataukah hanya fatamorgana semu?

Sayang, masih tergetar seluruh diri ini.
Karena terlintas lagi ingatan tentangmu.
Entah kenapa.










Tak Berdaya

Ini cinta yang tak berdaya.
Terkoyak lagi ketika angin membawa desah napasmu ke rongga dadaku.
Semangatku berserakan dalam cintaku yang utuh.
Kutau pasti,
Masih engkau bersamanya dalam takdir.
Gengam sakit dan lukaku, cukup dihatiku.
Jangan bawa pulang ke rumahmu.
Bukan untuk engkau miliki.
























Usai dan Kesudahan

Ujung jalan tersiram air mataku.
Angin senja temani tangisku yang tanpamu,
Bisikkan padaku atas apa yang baru saja usai.

                Aku pulang.
                Aku kehilangan.
                Perih atas satu kata kesudahan,
                Yang pernah kumulai,
                Kini tinggal mimpi.






















Perempuan

Suatu malam tanpa pasti…
Lengan perempuan ini ingin memelukmu,
Menggantikan selimutmu yang terjatuh ke lantai.
Tlah adakah bintang yang membelai tidurmu dengan sinarnya?
Sudah adalah rembulan membungkus mimpimu tentangku?
Hati lelakimu mungkin tak lagi menanti atau mencari siapa-siapa.
Di sini…
Hanya ada luka hati perempuan ini.

                Suatu dini hari dengan sejuta puisi…
                Hati perempuan ini mencoba pergi,
                Cinta putih itu tlah direbut pekat malam.
                Mengendap dalam sekam.

Seorang perempuan dengan sebuah permohonan,
Letakkan hati dan cintaku dalam pengawasan-Mu.
Banyak malam telah berganti,
Rindu beku.
Jemari meliuk tanpa kasih.
Terhenyak aku dalam do’aku seorang diri.
Di sini.









Jangan Sembunyikan Embun

Jangan sembunyikan embun, belukar sudah tak habis terbakar.
Jangan sembunyikan embun, pada nurani yang beku.
Jangan sembunyikan embun, lewat senyum sinis penguasa negeri.
Dan jangan sembunyikan embun, dalam saku para maling rakyat.

Jangan salahkan pagi, karena mengusir embun.
Jangan menghardik matahari, karena menghapus embun.
Dan jangan sesalkan bunga, karena tak mau lagi menyimpan embun.

Harusnya kita seperti embun.
Bening, bersih, dan menyejukkan.

Jangan pikirkan embun.
Kalau pepohonan dan ilalang sudah habis kau babat.
Karena embun tak mungkin membasahi gedung pencakar langit.
Karena embun tak akan nampak di indahnya lapangan golf.

Harusnya kita bagai embun.
Menghidupi alam dan menghapus dahaga tanah.
Tapi mampukah kita?











Semburat 28

Mentari 28 lebih cerah dari apa yang kukira.
Nukilan awan, berarak bagai bait syair pujangga. Aneka warna alam. Hitam, putih, abu-abu bergayut di hijaunya dedaunan.
Membetuk semburat janji dan kilas balik perjalanan kemarin.
Aku sibak tirai jendela, berkaca di suasana pagi.
Seolah menjadi seorang pemimpi, tersentak keterjagaan.
Aku tak lagi mencari tahu apa yang ada. Semuanya gambling ternyata.
Ini juga sudah adil buatku. Kesakitan yang kemarin, mimpi semalam, dan apapun yang tengah terjadi hari ini.
Hari ini.

Siang 28 masih konsisten di garisnya. Terik dengan putih bersihnya angkasa.
Terang menguak gugusan tujuh lapis langit, nyata, dan maya. Ada.
Dan malam 28 kehujanan.
Garis 28 rupanya masih menitikkan cinta yang berhamburan dimana-mana.
Begitu eloknya cinta itu, berkumpul di genggamanku,
Kemudian pantulkan damai cahayanya di wajahku.
Garis 28 mungkin bukan akhir pasti dalam penelusuran hati.
Bukan seorang hakim agung yang akan mengeksekusi setiap kejadian sebelumnya.
Bukan pula seorang pencari kayu yang akan menebas, memisahkan antara akar dan pohon dengan rantingnya.
Biarkan saja membungkus kado terima kasih di ujung pena untuk:
Semua yang masih ada, akan ada, dan pernah ada di sampingku.








Tuan (1)

Akulah,
Sang gelombang yang menatap bintang.
Sang penghiba yang terpesona.
Tuan pemilik jiwa dan spanjang kata dalam tengadah.
Mimpiku lapuk larut di air mata.
Izinkan kubuat ombak dengan bias cahyamu.

Harmonika enggan bersuara atas laraku. Diam patuh oleh irama jantungku.
Terbang, singgah di pelataran beku karena kusebutkan namamu.
Penuhi rinduku!
Hujan kejenuhan, kehampaan dan keterasingan tak nyata melengkapi sunyi.
Aku menunggumu datang, Tuan.

Anak-anak kisahku, tetaplah berdiam di sarang waktu.
Tak perlu beterbangan mengitari dinginnya embun malam ini.
Atau, tertidurlah di balik selimut keangkuhanku.

Aku, bocah renta di kawat usia.
Jiwa malam di dada peralihan pagi.
Engkau pun mungkin hanya secarik misteri.
Takkan tersobek walau dengan gunting keberadaanku.
Iya, slalu utuh oleh ketiadaanku maupun keadaanku. Ego penuh.

Gerakmu lunak mengagumkan. Diammu pun demikian.
Olehnya, jangan biarkan batinku melayang dalam semu!
Smuanya, aksara-aksara libido.
Ingin terabaikan.
Engkau, sampan kelana.
Aku, nelayan, penjala cahaya.


Tuan (2)

Masihkah kau simpan puisi yang sama?
Stelah kau tanggalkan aksara keterpanaan,
Sebelum kau ajak aku pulang.
Pulang untuk mengendurkan saraf menegang.

Akankah aku memiliki?
Akankah aku diakui?

Aku lelah, Tuan.
Jemu oleh pelarian dan kemungkinan.

Uraian peristiwa yang tak mampu kutulis, Tuan.
Engkau akan tetap putih, aksara dan tanda baca tak ada.
Engkau tetap cinta, dendam, dan benci pun tiada.
Engkau sgala keberadaanku.

Inikah suratan, Tuan?
Ataukah permainan?

Kuingin memiliki,
Kuingin diakui.

Tinggalkan cinta samara!
Setelah kau paksa aku bimbang.
Bimbang.
Mengulas lagi kekinian dan keterjagaan hasrat belum terkuak.
Bimbang.
Sakit biar rela kujelang.
(Dalam diam menatapmu, duduk di depanku terpaku)
Bimbang.

Tuan (3)

Tuan bangsawan, aku ilalang.
Tuan dermawan, aku ketakpunyaan.
Tuan bintang, aku kesenyapan.
Tuan tenang, aku petualang.
Tuan rindu, aku pesakitan.
Tuan cinta, aku derita.
Tuan penerbang, aku pejalan.
























Lelaki di Senggi

Lelaki, sepi, menyusuri kebun jati.
Sepasang mata di Senggi, menapak batas dua negara.
Mengais misteri aliran sungai. Penuh lara dan hampa bicara.
Dia diam selami kelam hati.
Dia putra sang alam.

Sepasang mata di Senggi, menjagaku mengasah batin.
Aku berkaca, bertanya, dan bercengkerama.

Sepasang cinta di Senggi, berlainan arah serta terpisah.
Aku nelangsa, melara, dan terlena.

Lelaki, tak kenal takdir nanti.
Berjumpa di Senggi,
Berpisah di Waena,
‘Tuk cinta yang sederhana.















Malam

Malam tak lagi menggoda sebuah persimpangan, untuk saling berpeluk. Kabar dari sebrang hanya duri, meniti smua pembuluh.
Ketika malam bisu tersanggah munajat, cinta itu bukan cinta lagi.
Cinta menjadi fatamorgana di mata, kebodohan yang terpelihara, gurindam yang tak melipur lara.
Malam membekap aku dalam heningnya, di kamar ini.

























Hujan di Kampung Harapan

Kalau aku jadi pulang di esok hari,
‘kan kuhamburkan kristal rindu di simpang jalan ini.
Karna cintaku slalu menunggu di sini.

Andai tak jadi pulang,
Pasti hujan akan menjadi alasan,
Pasti badai yang menghadang.
Kekasihku, masih hujan di Kampung Harapan

Kalau aku jadi pulang di esok hari,
‘kan kutitip kunci pintu hati.
Bak titik air di rerumputan.

Bila tertunda pulang,
hanya pada Tuhanlah kupinta perlindungan.
Ada kekasihku di sana

Hujan di Kampung Harapan,
Temani aku bimbang.
Biar terbaca peristiwa di esok hari.











Beribu Masehi

Sgala milikku, makna napasku, tergulung menghampiri kesenyapan dan ranumnya buah di musim panas. Kosong benakku, miskin adaku, diketuk tangan kasih tak bertuan.
Ruang damai, kesepian namanya.
Ufuk cinta, terbenamnya rindu yang kakinya terkait di sanubariku.

Awan beralih, mengarak hujan, desir angina memandu rinduku pulang.
Pulang ke rumah demi petuah yang maknanya tak indah.

Menarilah jarum waktu! Gerakkan buhul-buhul rinduku!
Tarik jiwaku dalam pesona, kekekaran dan keluwesanmu!

Wahai prajurit,
Cinta itu seperti mayat terkapar tanpa air mata bercucuran di sampingnya.
Cinta itu bagai tetes darah yang tak membekas di tanah.
Denganmu bagai kulalui beribu masehi.

Duhai perwira muda,
Telah cinta membajak masa atas kepandaian dan kebodohan,
Menggugurkan dedaunan ketulusanku,
Aku berusaha tak memanggil namamu kemudian.

Cinta kini adalah jenazah yang tak sanggup kukebumikan.
Ibu, sesaat kurapatkan kepala di telapak kakimu.







Ketika

Ketika, kulabuhkan cinta dalam keinginan.
Atau kusimpan cinta pada perasaan.
Ketika, kusadari cinta adalah kebutuhan.
Atau kulupakan cinta kalau menyakitkan.

Banyak yang kutanyakan.
Ketika cinta belum kutemukan.
Banyak yang kuagungkan
Ketika cinta telah menghidupkan.






















Perempuan

Suatu malam tanpa pasti…
Lengan perempuan ini ingin memelukmu,
Menggantikan selimutmu yang terjatuh ke lantai.
Tlah adakah bintang yang membelai tidurmu dengan sinarnya?
Sudah adalah rembulan membungkus mimpimu tentangku?
Hati lelakimu mungkin tak lagi menanti atau mencari siapa-siapa.
Di sini…
Hanya ada luka hati perempuan ini.

                Suatu dini hari dengan sejuta puisi…
                Hati perempuan ini mencoba pergi,
                Cinta putih itu tlah direbut pekat malam.
                Mengendap dalam sekam.

Seorang perempuan dengan sebuah permohonan,
Letakkan hati dan cintaku dalam pengawasan-Mu.
Banyak malam telah berganti,
Rindu beku.
Jemari meliuk tanpa kasih.
Terhenyak aku dalam do’aku seorang diri.
Di sini.










Rindu Jingga

Catatan akhir kisah kita.
Rindu jingga dalam hangat hujan, sengat hati pongah.
Memadat pada tali perut. Kutanam sendiri di tanah lembah.
Tapi rindu jingga tetap berjalan dan berbicara.
Kala kembali kau ke rimba, cinta tak lagi merah muda.
Akan terpelihara rindu jingga.
Diamku riuhnya ada di jiwa, meretas rindu jingga.
Abadi. Rindu jingga menjadi rindu kita.