Minggu, 11 September 2011

Hasil Penelitian tahun 2008

 NILAI-NILAI DIDAKTIS DALAM FILM  AYAT-AYAT CINTA KARYA HANUNG BRAMANTYO
*Ummu Fatimah Ria Lestari


Abstrak
Penelitian ini merupakan salah satu kajian karya sastra berupa naskah film. Penelitian ini membahas unsur didaktis yang terkandung dalam cerita film yang berjudul “ Ayat-Ayat Cinta”  karya  Hanung Bramantyo. Film ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama, ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Cerita yang diangkat adalah cerita cinta, tapi bukan sekadar cerita cinta biasa. Cerita ini menggambarkan bagaimana menghadapi turun naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Universitas Al Azhar Mesir. Ia berjibaku melawan panasnya debu Mesir, berkutat dengan target dan kesederhanaan hidup, bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalaninya penuh antusiasme, kecuali satu hal, yaitu menikah. Fahri adalah laki-laki taat. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif terhadap lawan jenisnya. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya, yaitu neneknya, ibunya, dan saudara perempuannya. Akhirnya, Fahri mendapatkan dua orang wanita shalehah ( Aisah dan Maria) sebagai istrinya.

1.1  Pendahuluan
Perkembangan dunia teknologi dewasa ini semakin pesat, termasuk dunia perfileman. Adanya berbagai film yang dihasilkan oleh sineas-sineas di tanah air, menunjukkan bahwa kreativitas bangsa mulai bangkit lagi. Hal ini tentu saja dimotori oleh para sineas-sineas muda, seperti Riri Reza, Hanung Bramantyo, dan kawan-kawan.
Dunia perfileman di tanah air mulai bersemangat lagi di era tahun 2000 ini. Bahkan, kegiatan Festival Film Indonesia (FFI) mulai digelar lagi beberapa tahun terakhir ini. Kegiatan ini telah kembali menggairahkan industri film di negara ini  karena dapat memacu semangat para pemilik rumah produksi dan para sineas untuk lebih banyak berkarya.
Drama sebagai salah satu karya sastra berkembang menjadi drama modern dalam bentuk film layar lebar. Selain dikehendaki untuk menghibur, diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena dalam cerita drama itu juga terkandung makna dan nilai-nilai yang sarat moral, etika, dan budaya.
Menurut Budiman (dalam Mulyawan, 1996:13), film yang kita tonton di bioskop atau di televisi berasal dari naskah (skenario). Skenario itu merupakan paparan naskah beserta pola-pola teknis pengambilan gambar, acting dan suara. Kemudian, kerja lapangan dan laboratorium pun dilakukan, yang biasa disebut dengan shooting, processing, dan dubbing. Shooting adalah pengambilan gambar, acting, dan suara, baik di alam terbuka maupun di studio, sedangkan processing adalah upaya pemindahan film negatif ke film positif di laboratorium khusus film. Agar suara lebih jernih dan sesuai dengan tuntutan  skenario, dilakukanlah pengisian suara (dubbing). Setelah itu, film siap diproyeksikan dengan alat proyektor atau dialihkan ke pita kaset video.   
Penelitian sastra kali ini mengetengahkan unsur-unsur didaktis dalam film yang berjudul Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo. Film ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama, ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Cerita yang diangkat adalah cerita cinta, tapi bukan sekadar cerita cinta biasa. Cerita ini menggambarkan bagaimana menghadapi turun naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Hal itulah yang mendasari saya untuk meneliti unsur-unsur didaktis dalam cerita filem ini.

1.2  Kerangka Teori
1.2.1 Unsur Didaktis
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2002:1248)  pengertian unsur  adalah bagian yang penting dalam suatu hal. Bila dihubungkan dengan pengertian dan penelitian ini, unsur yaitu bagian-bagian penting yang terdapat dalam cerita filem Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo. Bagian-bagian yang penting itu berupa ilmu-ilmu yang dapat menjadikan manusia lebih arif dan bijaksana. Pengertian didaktis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sesuatu yang bersifat mendidik.
            Berdasarkan pengertian unsur dan pengertian didaktis, dapat disimpulkan bahwa unsur didaktis adalah bagian yang penting, dalam hal ini adalah cerita film Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo. Bagian atau hal-hal yang penting itu tentu bernilai positif yang dapat menimbulkan kegiatan atau kecakapan baru pada diri orang lain. Kegiatan atau kecakapan baru itu bukan berupa suatu keterampilan tetapi berupa suatu tindakan yang baik yang mencerminkan budi pekerti tokohnya. Dihubungkan dengan penelitian ini, tentu hal-hal yang sifatnya mendidik atau pendidikan dapat berlangsung pada individu yang menikmati karya sastra. Dengan kata lain, dengan menikmati karya sastra seseorang memperoleh pendidikan. Pendidikan itu bermacam-macam. Ngalim Purwanto (dalam Siswanto,dkk, 2006: 7) membagi pendidikan menjadi dua segi, yaitu pendidikan jasmani dan pendidikan rohani.
Berdasarkan cakupan pendidikan dalam bidang umum dan bidang sastra, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur didaktis yang akan dianalisis meliputi etika, filosofi, agama, dan intelektual.
Struktur batin cerita film adalah isi atau makna yang hendak disampaikan melalui cerita itu. Menurut Waluyo (dalam Siswanto, dkk, 2006:8), yang termasuk struktur batin dalam karya sastra adalah tema, perasaan, dan amanat. Namun, penelitian ini akan membahas tema dan amanat saja.
Tema adalah gagasan pokok yang akan dikemukakan oleh pengarang kepada penikmat karyanya. Amanat adalah pesan atau semacam imbauan dari pengarang (penulis) yang tersirat dalam tulisannya (karyanya) maupun tema yang diungkapkannya. Menurut Sudjiman (dalam Siswanto, dkk, 2006: 8), amanat adalah suatu ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat terdapat pada sebuah karya sastra secara eksplisit dan implisit.   

1.2.2 Unsur Didaktis
Unsur-unsur didaktis meliputi etika, filosofi, agama, dan intelektual. Etika merupakan salah satu cabang ilmu filsafat yang mempelajari nilai-nilai luhur, sehingga akan mewujudkan keluhuran budi masyarakat penganutnya. Nilai-nilai luhur tersebut merupakan pembeda antara yang baik dan yang buruk. Nilai baik dan nilai buruk ini merupakan pokok persoalan dalam etika. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2002:309), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan moral/akhlak. Sehingga nilai etika adalah nilai tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan moral/akhlak.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2002:317), filosofis adalah kata yang mengacu pada falsafah yang berarti filsafat. Menurut Peter Salim dan Yeni Salim (dalam Kusmaini, 1991:419), filsafat berarti suatu teori atau analisis logis tentang suatu peristiwa yang mendasari pemikiran, pengetahuan, dan alam semesta. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa filsafat sebagai proses berpikir tentang suatu hal yang mengarah pada akal budi atau pengalaman yang diambil hikmahnya yang kemudian dijadikan prinsip hidup.
Agama merupakan unsur utama dalam membentuk kepribadian seseorang. Seseorang yang terdidik berdasarkan ajaran agama akan berbeda kepribadiannya dengan sesorang yang dibesarkan tanpa pendidikan agama. Ajaran agama merupakan pedoman hidup manusia. Bagi umat Islam, dasar agama Islam merupakan pedoman utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Nilai-nilai agama yang terdapat dalam karya sastra di antaranya adalah sesuatu yang berhubungan dengan keimanan kepada Tuhan YME, selalu berbuat kebaikan dan berusaha untuk mencegah berbagai bentuk kamaksiatan yang akan menyebabkan penderitaan bagi manusia itu sendiri.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2002:437), intelek berarti daya pikiran. Kata intelektual berarti cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan pengetahuan. Sastrowardoyo (dalam Siswanto, dkk, 2006:12) mengungkapkan bahwa kata intelektual dalam Bahasa Inggris dikenakan sebagai sejenis pribadi tersendiri yang telah mengalami kecerdasan dan kehalusan budi lewat pendidikan budaya. Orang yang tinggi timgkat kesarjanaannya tetapi selama ia tidak mempunyai minat ataupun peka terhadap rangsang-rangsang budaya, maka ia belum berhak dinamakan intelek. Dengan kata lain, predikat intelek maknanya dalam, karena untuk memperoleh predikat itu seseorang harus peka terhadap lingkungannya.
Berdasarkan pengertian intelektual di atas, serta hubungannya dengan karya sastra, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai intelektual adalah kebiasaan hidup, pengambilan keputusan yang tepat, cepat tanggap terhadap situasi tertentu, timbul gagasan yang bagus, usaha peningkatan kesejahteraan hidup, mengambil manfaat atau pelajaran dari suatu kejadian atau suatu peristiwa.

3. Analisis   
3.1 Sinopsis
Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Universitas Al Azhar Mesir. Ia berjibaku dengan panasnya debu Mesir, berkutat dengan target, dan kesederhanaan hidup. Ia bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani dengan penuh antusiasme, kecuali satu hal, yaitu menikah. Fahri adalah laki-laki taat. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif terhadap lawan jenisnya. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini, yaitu neneknya, ibunya, dan saudara perempuannya.
Konflik dalam film ini mencuat ketika Fahri berusaha untuk mencari seorang istri. Konflik itu berupa konflik batin dalam diri Fahri karena dia memiliki banyak pilihan. Setelah berkenalan, tidak lama, akhirnya Fahri memantapkan hati untuk memilih Aisah sebagai istri. Konflik lain muncul lagi ketika mereka telah menikah. Konflik itu melanda kehidupan rumah tangga mereka. Fahri difitnah telah memperkosa seorang gadis Mesir bernama Noura. Melalui ketabahan dan perjuangan keras istrinya, akhirnya Fahry dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan kembali oleh Pengadilan Kairo.
Setelah mereka melewati konflik besar itu, Aisah juga harus menjalani kehidupan poligami dengan Maria. Maria adalah mantan tetangga Fahri sewaktu kuliah di Al Azhar. Fahri menikahi Maria karena dia kasihan dengan kondisi kehidupan Maria yang memprihatinkan. Fahri adalah suami yang baik, dia berusaha adil terhadap kedua istrinya (Maria dan Aisah), sehingga kehidupan rumah rangga mereka berjalan dengan harmonis dan langgeng.
3.2 Nilai Didaktis
a. Etika
            Unsur etika adalah nilai-nilai etika (kesopanan dan kesusilaan) yang ada dalam masyarakat. Nilai etika yang ditunjukkan adalah bagaimana kita saling menyapa apabila kita bertemu dengan orang yang kita kenal, bagaimana kita memperlakukan orang yang lebih tua dari kita, bagaimana kita bersikap dalam sebuah pertemuan (forum diskusi), dan sebagainya. Unsur tersebut dalam filem ini digambarkan dalam beberapa adegan dan dialog sebagai berikut:

Adegan 1:
Di atas sebuah kereta yang membawa Fahri kembali ke rumahnya, Fahri bertemu dengan kawannya yang bernama Asraf.
Asraf               : (datang menghampiri Fahri) “Assalamu Alaikum!”
Fahri               : “Waalaikumsalam!”
Asraf               : “Fahri, dari mana kamu?”
Fahr          : “Saya baru pulang dari Talaqi. Bagaimana sepakbola kemarin? Menang siapa?”
Asraf               : “Tentu saja Zamalek.”
Tiba-tiba datanglah dua orang perempuan Amerika melintas di hadapan mereka. Mata mereka sama-sama tertuju pada kedua perempuan itu.
Asraf                  : (masih melihat kepada perempuan itu) “Fahri, Fahri, itu orang kafir Amerika.”
Fahri                  : “Bagaimana sepakbolanya kemarin, Asraf? Kenapa kamu tidak menceritakannya?”
Asraf               : “Kamu tidak menontonnya?”
Fahri               : “Aku ketiduran.”
Mereka tetap saja mengobrol sambil memperhatikan kedua perempuan Amerika tadi. Rupanya tidak ada seorang pun yang mau memberikan tempat duduk kepada merek. Tiba-tiba seorang muslimah bernama Aisah menawarkan tempat duduknya kepada salah seorang di antara mereka, kepada perempuan Amerika yang lebih tua itu. Karena perempuan Amerika itu tampak sangat lelah dan gerah.
Aisah                  : “Jangan duduk di situ! Duduklah di tempat saya! Saya minta maaf atas perlakuan orang-orang tadi yang tidak sopan kepada Anda.”
Tiba-tiba seorang laki-laki marah melihat sikap baik Aisah kepada perempuan Amerika itu.
Laki-laki             : “Ya, muslimah! Kenapa kamu memberikan tempat duduk buat dia? Dia orang kafir.”
Aisah               : “Saya merasa tidak tega melihat ibu ini.”
Laki-laki             : “Itu memang yang pantas untuk mereka. Mereka itu kafir. Kamu itu muslimah atau bukan?”
Perempuan         : “Kami minta maaf, dia hanya ingin membantu ibu saya. Karena ibu saya sudah kepanasan.”
Aisah               : “Islam mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada siapa pun.”
Laki-laki             : “Tapi tidak untuk kaum kafir Amerika. Kamu tau apa yang dilakukan Amerika di Afganistan, Palestina, dan Irak. Mereka menuduh Islam itu teroris, padahal mereka sendiri yang teroris.”
Aisah               : “Saya tidak peduli dengan semua itu” (agak keras dan marah)
Laki-laki          : (Sangat marah dan hendak memukuli Aisah)
Mendengar kegaduhan di belakangnya, Fahri datang menghampiri laki-laki itu.
Fahri               : “Sadarlah! Sebut nama Allah SWT!”
Laki-laki itu menyebut nama Allah SWT sambil bertasbih, lalu berbalik ke arah Fahri.
Laki-laki          : “Kamu siapa? Apa urusanmu?”
Fahri                  : “Saya orang Indonesia dan kau telah menyakiti Rasulullah SAW. Kau telah berseteru dengan Rasulullah dan menentang Allah SWT. Tolong kamu pahami!”
Asraf                  : “Dia mahasiswa Al Azhar dari Indonesia, salah satu murid talaqi dari Syech Ustman.”
Fahri lalu memperlihatkan kartu identitasnya kepada laki-laki itu.
Laki-laki             : ‘Kalau kau memang orang Al Azhar, kau tahu apa tentang penderitaan bangsa Arab?”
Fahri                     : “Orang asing yang memasuki suatu negara secara sah harus dilindungi keselamatan dan kehormatannya.”
Laki-laki              : ‘Mereka bukan orang asing, mereka teroris, mereka kafir.”
Fahri                  : (menasehati) “Muhammad SAW berkata, barangsiapa menyakiti orang asing berarti dia menyakiti diriku. Dan barangsiapa yang menyakiti diriku berarti menyakiti Allah SWT. Kita boleh membenci perlakuan buruk seseorang, tapi harus tetap bisa adil.”
Laki-laki itu menjadi sangat marah mendengarkan ucapan Fahri, sehingga dia memukuli wajah Fahri sampai terluka. Untung saja Asraf segera menghentikannya. Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Fahri yang telah jatuh tersungkur. Setelah Fahri mampu bangkit dari lantai kereta, Fahri dan Aisah masih sempat saling berpandangan satu sama lain sebelum mereka turun dari kereta itu.

Adegan 2 :
Dalam ruang pertemuan, tampillah Fahri sebagai pembicara.
Fahri      : “Jadi regenerasi itu sangat penting. Organisasi ini ibarat api unggun, untuk membuat apinya menjadi besar, harus ada kayu bakar yang baru.”
Gadis 1: (berbisik-bisik dengan gadis 2) “Kenapa ya orang seperti uztad Fahri itu belum menikah-menikah juga?”
Gadis 2: “Iya..iya. Emangnya kamu mau jadi istrinya?”
Gadis 1: “Sapa takut?”
Nurul   : “Hus.., jangan berisik!”

Adegan 3 :
Sesampainya di rumah, Aisah langsung menemui pamannya.
Aisah                  : “Paman, paman kenal dengan seorang mahasiswa Al Azhar yang bernama Fahri.”
Paman Aisah      : “Fahri? Fahri. Paman kenal dia, dia murid kesayangan Syech Ustman. Kenapa?”
Aisah                  : “Tidak apa-apa.” (sambil pergi berlalu meninggalkan pamannya dan tampak tersipu-sipu malu)

Adegan 4:
Pada suatu siang yang terik, debu-debu beterbangan ke sana-ke mari. Fahri berjalan di luar rumah menuju ke suatu tempat dan terlihat oleh Maria, lalu Maria mencegatnya.
Maria              : Fahri, mau ke mana?
Fahri               : Aku mau Talaqi.
Maria              : Boleh aku menitip sesuatu? Udaranya panas.
Lalu Maria menjulurkan tali ke bawah bersama dengan sebotol jus mangga dan uangnya.
Fahri               : Nanti aku belikan CD-nya. Terima kasih atas pemberianmu ini.
Maria              : Sama-sama.
Di tengah perjalanan, Fahri bertemu dengan Noura dan ayahnya. Dia melihat Noura dipukuli oleh ayahnya sepanjang jalan. Dia merasa sangat kasihan kepada gadis itu, karena Noura selalu diperlakukan kejam oleh ayahnya.

Adegan 5:
Di suatu malam, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang perempuan dari luar apartemen Fahri dan Maria. Perempuan itu seorang perempuan Mesir bernama Noura. Rupanya perempuan itu dianiaya oleh ayahnya sendiri. Fahri melihat kejadian itu langsung dengan mata kepalanya sendiri. Lalu dia segera menelepon Maria.
Fahri               : “Maria, apa kau dengar suara itu?”
Maria              : “Iya, Fahri.”
Fahri                     : “Maria, tolonglah perempuan itu! Aku tidak tega melihat perempuan itu terus menangis. Cuma kau yang bisa menolongnya.”
Maria              : “Tapi aku takut.”
Fahri               : “Tolonglah dia, kumohon!”
Maria              : “Baik.”
Maria lalu segera berlari keluar apartemen untuk menolong Noura, lalu membawanya ke dalam apartemen Maria supaya dia bisa istirahat. Keesokan harinya, Maria dan Fahri membawa Noura ke tempat Nurul supaya dia merasa aman dan terlindungi. Sesampainya di tempat Nurul, barulah Noura bercerita kepada semua orang yang ada di situ.
Noura                 : “Ayahku ingin menjualku, dia ingin menjadikanku seorang pelacur. Tapi aku tidak mau. Katanya, aku bukan anaknya. Dia menukarku sewaktu masih kecil, jadi aku pantas untuk dijual.”
Fahri                  : “Noura, saya janji akan membantumu. Nurul, biar untuk sementara Noura tinggal di sini sama kamu. Aku akan minta bentuan temanku di intelejen untuk mencari orang tua kandungnya.”
Nurul                  : “Mas, aku takut.”
Fahri                  : “Membantu sesama muslim itu wajib hukumnya. Aku sering melihanya dipukuli.”
Fahri lalu menemui kawannya, Syech Ahmad. Dia meminta bantuan Syech Ahmad untuk mencari orang tua kandung Noura, sehingga Noura akhirnya bisa dipertemukan kembali dengan keluarganya yang sebenarnya berkat bantuan Syech Ahmad. Noura dan keluarganya tampak bahagia sekali karena pada akhirnya mereka bisa bertemu dan  berkumpul lagi. Orang tua Noura sangat berterima kasih kepada Fahri dan Syech Ahmad.


b. Filosofis
Unsur filosofis yang dimunculkan dalam film ini bahwa Mesir identik dengan Sungai Nil dan Universitas Al Azhar. Selain itu, muncul ajaran bahwa seorang anak wajib patuh kepada orang tuanya. Unsur filosofis yang digambarkan dalam filem ini terdapat dalam beberapa adegan dan dialog sebagai berikut:

Adegan 1:
Pada suatu hari, di atas sebuah jembatan di tepi sungai Nil, Fahri melamun sendirian. Tanpa sadar, Maria sudah ada berdiri di sampingnya. Lalu terjadilah percakapan seputar masalah jodoh.
Maria                 : (heran) “Kamu ngapain di sini?”
Fahri                  : “Maria, sebelum aku ke sini. Ada dua hal yang membuatku kagum sama Mesir, yaitu Al Azhar dan sungai ini. Karena tanpa keduanya itu, tidak akan ada Mesir.”
Maria                 : “Aku juga suka pada Sungai Nil. Karena tanpa Sungai Nil, tidak akan ada peradaban. Yang ada cuma gurun pasir yang tandus. Kamu percaya sama jodoh, Fahri?”
Fahri                  : “Setiap orang memiliki...” (ucapannya terputus)
Maria                 : (melanjutkan ucapan Fahri) “Jodohnya masing-masing. Itu yang selalu kau bilang. Aku rasa, sungai ini dan Mesir adalah jodoh. Senang ya kalau kita bisa bertemu dengan jodoh? Yang diberikan Tuhan dari langit.”
Fahri                  : “Bukan dari langit, Maria. Tapi dari hati, dekat sekali (saling menatap satu sama lain) Astagfirullah (tersadar tiba-tiba dan tersentak lalu berlalu pergi meninggalkan Maria sendirian) Maaf, Maria! Aku harus pergi.”

Adegan 2:
Dalam kamar tidur Fahri yang sederhana, tampak beberapa foto. Foto itu adalah foto Fahri bersama keluarganya di Indonesia dan foto Fahri bersama teman-temannya yang ada di Mesir. Setelah melaksanakan shalat, tiba-tiba Fahri teringat lagi akan percakapan terakhirnya bersama ibunya lewat telepon.
Ibu Fahri            : “Ibu tidak memaksa, Nak. Kamu sudah dewasa, ibu cuma mengingatkan saja.”
Fahri                  : “Iya. Saya ngerti, Bu. Tapi di sini susah nyari yang cocok. Lagian amanat dari ibu bapak juga belum saya laksanakan sepenuhnya.”
Ibu Fahri            : “Memangnya tidak ada perempuan Indonesia yang cocok buat kamu apa? Nurul yang selalu kamu sebut-sebut itu piye (bagaimana)?”
Fahri                  :  “Itu cuma teman, Bu. Lagian mana mungkin dia mau sama saya?”
Ibu Fahri            : “Kalau Allah sudah menghendaki, siapa pun bisa menjadi jodohmu.”
Fahri                 : “Iya, Bu. Assalamualaikum.”

3. Agama
Unsur agama paling banyak dimunculkan dalam film ini karena setting film ini di Mesir. Mesir merupakan salah satu tempat peradaban dan pengembangan agama Islam di dunia. Unsur agama yang digambarkan dalam filem ini terdapat dalam beberapa adegan dan dialog sebagai berikut:


Adegan 1:

Dalam kamar tidur Fahri yang sederhana, tampak beberapa foto. Foto itu adalah foto Fahri bersama keluarganya di Indonesia dan foto Fahri bersama teman-temannya yang ada di Mesir. Setelah melaksanakan salat, tiba-tiba Fahri teringat lagi akan percakapan terakhirnya bersama ibunya lewat telepon.
Ibu Fahri            : “Ibu tidak memaksa, Nak. Kamu sudah dewasa, ibu cuma mengingatkan saja.”
Fahri                  : “Iya. Saya ngerti, Bu. Tapi di sini susah nyari yang cocok. Lagian amanat dari ibu bapak juga belum saya laksanakan sepenuhnya.”
Ibu Fahri            : “Memangnya tidak ada perempuan Indonesia yang cocok buat kamu apa? Nurul yang selalu kamu sebut-sebut itu piye (bagaimana)?”
Fahri                  :  “Itu cuma teman, Bu. Lagian mana mungkin dia mau sama saya?”
Ibu Fahri            : “Kalau Allah sudah menghendaki, siapa pun bisa menjadi jodohmu.”
Fahri                 : “Iya, Bu. Assalamualaikum.”

Adegan 2:
Di dalam sebuah masjid, Fahri berbincang dengan gurunya, Uztad Ustman setelah mereka tadarruz.
Fahri               : (menghela napas sambil menyodorkan sepucuk surat)
Uztad Ustman : “Apa ini? Surat cinta lagi?”
Fahri                  : “Tolong uztad saja yang menyimpannya. Saya takut menyimpannya.”
Uztad Ustman: “Inilah kenapa kita diperintahkan untuk menikah. Selain untuk  menyempurnakan agama, menikah juga bertujuan untuk menghindari fitnah, sekaligus memberikan ketenangan batin”.
Kata-kata dari Uztad Ustman itu terus tergiang-ngiang dalam benak Fahri sepanjang jalan sewaktu dia kembali pulang ke rumahnya.

Adegan 3:
Setibanya di stasiun perhentian kereta, seorang perempuan Amerika dan Aisah datang menemui Fahri. Fahri terduduk di terminal stasiun sambil meringis kesakitan.
Alicia               : “Hai, saya Alicia. Terima kasih atas bantuannya.”
Fahri                  : “Sama-sama. Nama saya Fahri (menolak jabat tangan perempuan Amerika itu). Maaf, dalam Islam laki-laki tidak boleh menyentuh perempuan kecuali dengan muhrimnya.”
Alicia                  : “Oh, ya. Saya seorang wartawan Amerika yang sedang melakukan penelitian tentang Islam (menyodorkan kartu namanya) Ini kartu nama saya.”
Fahri                  : “Baik, saya akan membantumu” (juga menyodorkan kartu nama kepada Alicia).
Perempuan Amerika itu pun berlalu, namun Aisah menyempatkan diri untuk berbasa-basi dengan Fahri.
Aisah               : “Terima kasih!’
Fahri               : “Sama-sama. Apa kamu juga orang Amerika?”
Aisah               : “Bukan, saya orang Jerman.”
Fahri lalu menegembalikan tasbih milik Aisah yang dia temukan tadi di atas kereta.
Aisah                  : “Oh, tadi saya kira sudah hilang. Jarang saya temukan seorang muslim seperti kamu. Assalamu Alaikum (sambil berlalu dari hadapan Fahri).”
Fahri               : “Waalaikumsalam.”

Adegan 4 :
Di atas sebuah kereta yang membawa Fahri kembali ke rumahnya, Fahri bertemu dengan kawannya yang bernama Asraf.
Asraf               : (datang menghampiri Fahri) “Assalamu Alaikum!”
Fahri               : “Waalaikumsalam!”
Asraf               : “Fahri, dari mana kamu?”
Fahr          : “Saya baru pulang dari Talaqi. Bagaimana sepakbola kemarin? Menang siapa?”
Asraf               : “Tentu saja Zamalek.”
Tiba-tiba datanglah dua orang perempuan Amerika melintas di hadapan mereka. Mata mereka sama-sama tertuju pada kedua perempuan itu.
Asraf                  : (masih melihat kepada perempuan itu) “Fahri, Fahri, itu orang kafir Amerika.”
Fahri                  : “Bagaimana sepakbolanya kemarin, Asraf? Kenapa kamu tidak menceritakannya?”
Asraf               : “Kamu tidak menontonnya?”
Fahri               : “Aku ketiduran.”
Mereka tetap saja mengobrol sambil memperhatikan kedua perempuan Amerika tadi. Rupanya tidak ada seorang pun yang mau memberikan tempat duduk kepada mereka. Tiba-tiba seorang muslimah bernama Aisah menawarkan tempat duduknya kepada salah seorang di antara mereka, kepada perempuan Amerika yang lebih tua itu, karena perempuan Amerika itu tampak sangat lelah dan gerah.
Aisah                  : “Jangan duduk di situ! Duduklah di tempat saya! Saya minta maaf atas perlakuan orang-orang tadi yang tidak sopan kepada Anda.”
Tiba-tiba seorang laki-laki marah melihat sikap baik Aisah kepada perempuan Amerika itu.
Laki-laki             : “Ya, muslimah! Kenapa kamu memberikan tempat duduk buat dia? Dia orang kafir.”
Aisah               : “Saya merasa tidak tega melihat ibu ini.”
Laki-laki             : “Itu memang yang pantas untuk mereka. Mereka itu kafir. Kamu itu muslimah atau bukan?”
Perempuan         : “Kami minta maaf, dia hanya ingin membantu ibu saya, karena ibu saya sudah kepanasan.”
Aisah               : “Islam mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada siapa pun.”
Laki-laki             : “Tapi tidak untuk kaum kafir Amerika. Kamu tahu apa yang dilakukan Amerika di Afganistan, Palestina, dan Irak. Mereka menuduh Islam itu teroris. Padahal mereka sendiri yang teroris.”
Aisah               : “Saya tidak peduli dengan semua itu” (agak keras dan marah)
Laki-laki          : (Sangat marah dan hendak memukuli Aisah)
Mendengar kegaduhan di belakangnya, Fahri datang menghampiri laki-laki itu.
Fahri               : “Sadarlah! Sebut nama Allah SWT!”
Laki-laki itu menyebut nama Allah SWT sambil bertasbih, lalu berbalik ke arah Fahri.
Laki-laki          : “Kamu siapa? Apa urusanmu?”
Fahri                  : “Saya orang Indonesia dan kau telah menyakiti Rasulullah SAW. Kau telah berseteru dengan Rasulullah dan menentang Allah SWT. Tolong kamu pahami!”
Asraf                  : “Dia mahasiswa Al Azhar dari Indonesia, salah satu murid talaqi dari Syech Ustman.”
Fahri lalu memperlihatkan kartu identitasnya kepada laki-laki itu.
Laki-laki             : ‘Kalau kau memang orang Al Azhar, kau tahu apa tentang penderiataan bangsa Arab?”
Fahri                     : “Orang asing yang memasuki suatu negara secara sah harus dilindungi keselamatan dan kehormatannya.”
Laki-laki              : ‘Mereka bukan orang asing, mereka teroris, mereka kafir.”
Fahri                  : (menasihati) “Muhammad SAW berkata, barangsiapa menyakiti orang asing berarti dia menyakiti diriku. Dan barangsiapa yang menyakiti diriku berarti menyakiti Allah SWT. Kita boleh membenci perlakuan buruk seseorang, tapi harus tetap bisa adil.”
Laki-laki itu menjadi sangat marah mendengarkan ucapan Fahri, sehingga dia memukuli wajah Fahri sampai terluka. Untung saja Asraf segera menghentikannya. Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Fahri yang telah jatuh tersungkur. Setelah Fahri mampu bangkit dari lantai kereta, Fahri dan Aisah masih sempat saling berpandangan satu sama lain sebelum mereka turun dari kereta itu.

Adegan 4:
Pada suatu siang, Alicia mengajak Fahri bertemu di suatu kafe untuk mengambil tulisan tentang Islam yang dijanjikan oleh Fahri. Fahri menerima ajakan Alicia itu. Rupanya di sana juga ada Aisah, sehingga terjadilah percakapan di antara mereka bertiga.
Alicia               : “Jadi Islam sangat melindungi perempuan?”
Fahri                  : “Islam mengajarkan kita kalau surga itu berada di bawah telapak kaki ibu, begitu hadits meriwayatkan yang menjadikan dasar Islam sangat menjunjung tinggi perempuan.”
Alicia                  : “Jadi, bagaimana dengan kekerasan dalam rumah tangga? Bukankah Al-qur’an memberikan izin suami memukul istrinya?”
Fahri                     : “Banyak muslim yang menggunakan surah Annisa untuk melakukan tindakan pengecut memukul perempuan. Padahal, sebenarnya surah itu untuk menjelaskan tiga hal. Apabila seorang istri malakukan nusyu, yaitu melanggar komitmen pernikahan, maka yang pertama: dinasihati, kedua: diperingatkan, dan ketiga: baru dipukul. Tetapi tidak boleh di wajah dan niatnya bukan untuk menyakiti. Semua itu ada dalam tulisanku, Alicia.’
Alicia               : “Iya. Bahasa Inggrismu bagus.”
Fahri               : “Terima kasih. Maria yang membantuku.”
Alicia               : “Pacarmu?”
Aisah               : “Kamu sudah punya pacar?”
Fahri                  : “Dia tetanggaku. Dalam Islam, kami tidak mengenal pacaran. Biasanya kami melakukan ta’aruf. Saya juga telah menuliskannya di sini. Aisah, aku punya seorang kakak senior di Al Azhar orang Jerman.”
Aisah               : “Namanya Iqbal ‘kan? Dia itu pamanku.”
Fahri                  : “Masya Allah (heran), dunia ternyata sempit ya? Bagaimana studinya tentang Indonesia?”
Aisah               : “Lancar.”
Alicia                  : “Ok, kalian sepertinya sudah lama kenal. Berarti kalian cocok. Baik. Terima kasih, Fahri. Besok aku akan kembali ke Amerika. Assalamualaikum, Fahri.”
Fahri               : “Waalaikumsalam.”
Alicia dan Aisah beranjak meninggalkan Fahri di kafe itu. Namun Fahri dan Aisah masih sempat saling bertatapan mata sebelum dia  pergi bersama Alicia.

4. Intelektual
Unsur intelektual yang dimunculkan adalah bagaimana tingkatan dan kehidupan intelektual dari tokoh-tokoh dalam film ini. Unsur intelektual yang digambarkan dalam filem ini terdapat dalam beberapa adegan dan dialog sebagai berikut:

Adegan 1:
Di suatu sore dalam salah satu apartemen di  Kairo Mesir
Fahri   : “ Maria..Maria..!” (memanggil sambil mengetuk pintu)
Maria  : (sambil membukakan pintu) “Fahri.”
Fahri   : “Saya sedang butuh...”
Maria  : “Butuh apa? Kamus Bahasa Arab?”
Fahri   : “Bukan.”
Maria  : “Kamus Bahasa Inggris?”
Fahri   : “Bukan.”
Maria  : “Lalu apa?”
Fahri  : (Terbata-bata) “Sas.., sa.., saya butuh kamu dengan masalah yang ada di apartemenku.”
Maria     : “Ma, aku mau ke apartemen Fahri sebentar ya.” (Sambil berlari barsama Fahri menuju apartemen Fahri)
Sesampainya di apartemen Fahri, mereka berdua langsung menuju ke meja komputer Fahri. Fahri menunjukkan layar komputernya kepada Maria.
Fahri   : “Ini masalahku. Aku nggak tahu ini kenapa.”
Maria  : “Kamu pasti lupa memperbaharui antivirusnya. Semua fail kamu habis karena virus” (sambil mengutak-atik komputer Fahri).
Fahri   : (Sangat sedih dan kecewa)
Maria  : “Punya cadangan datanya?”
Syaiful : “Apa aja isinya”
Fahri      : “Banyak. Tapi yang paling penting itu proposal untuk penelitian tesisku.”
Syaiful : “Batas pengumpulannya kapan?”
Fahri   : “Tiga hari lagi.”
Maria  : (Coba menguatkan) “Fahri, kamu kan nggak tinggal sendirian di sini.”
Lalu mereka berlima (Fahri, Maria, dan ketiga teman Fahri) berusaha untuk menyusun kembali proposal tesis Fahri yang hilang tadi. Mereka semua bekerja sama untuk membantu Fahri sampai akhirnya proposal itu bisa tersusun kembali.

Adegan 2:
Dalam sebuah gedung pertemuan mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo Mesir.
Nurul   : (tiba-tiba datang menghampiri Fahri) “Dikasih apa tuh, Mas?”
Fahri   : (terkejut) “Nurul!” ( Lalu memasukkan surat yang tadi diterimanya dari seorang gadis)
Nurul   : “Waduh, ternyata Mas Fahri juga ada bakat menjadi selebritis juga.”
Lalu datanglah sekelompok mahasiswa, mereka mengajak Fahri dan Nurul untuk bergegas menuju ke ruang pertemuan. Mereka lalu bersama-sama menuju ke ruang pertemuan yang letaknya di lantai atas.

Adegan 3:
Maria mengirimkan bingkisan kepada Fahri melalui tali yang terjulur ke arah jendela kamar Fahri. Lalu dia menelepon Fahri dari tempatnya.
Fahri               : “Assalamualaikum.”
Maria           : “Waalaikumsalam, Fahri. Aku hampir saja lupa mengembalikan kamus bahasa Inggrismu. Kamu kan butuh itu untuk membuat artikel temanmu dari Amerika itu. Gara-gara kamus itu aku sampai mengorbankan buku Khalil Gibran kesukaanku.”
Fahri               : “Terus kue bolunya?”
Maria              : “Itu karena aku tahu kalau kamu selalu lupa makan.”
Fahri               : “Terima kasih, Maria.”
Maria              : “Sama-sama, Fahri.”


Adegan 4:
Pada suatu siang, Alicia mengajak Fahri bertemu di suatu kafe untuk mengambil tulisan tentang Islam yang dijanjikan oleh Fahri. Fahri menerima ajakan Alicia itu. Rupanya di sana juga ada Aisah sehingga terjadilah pecakapan di antara mereka bertiga.
Alicia               : “Jadi Islam sangat melindungi perempuan?”
Fahri                  : “Islam mengajarkan kita kalau surga itu berada di bawah telapak kaki ibu, begitu hadits meriwayatkan yang menjadikan dasar Islam sangat menjunjung tinggi perempuan.”
Alicia                  : “Jadi, bagaimana dengan kekerasan dalam rumah tangga? Bukankah Al-qur’an memberikan izin suami memukul istrinya?”
Fahri                     : “Banyak muslim yang menggunakan surah Annisa untuk melakukan tindakan pengecut memukul perempuan. Padahal, sebenarnya surah itu untuk menjelaskan tiga hal. Apabila seorang istri malakukan nusyu, yaitu melanggar komitmen pernikahan, maka yang pertama: dinasihati, kedua: diperingatkan, dan ketiga: baru dipukul. Tetapi tidak boleh di wajah dan niatnya bukan untuk menyakiti. Semua itu ada dalam tulisanku, Alicia.’
Alicia               : “Iya. Bahasa Inggrismu bagus.”
Fahri               : “Terima kasih. Maria yang membantuku.”
Alicia               : “Pacarmu?”
Aisah               : “Kamu sudah punya pacar?”
Fahri                  : “Dia tetanggaku. Dalam Islam, kami tidak mengenal pacaran. Biasanya kami melakukan ta’aruf. Saya juga telah menuliskannya di sini. Aisah, aku punya seorang kakak senior di Al Azhar orang Jerman.”
Aisah               : “Namanya Iqbal ‘kan? Dia itu pamanku.”
Fahri                  : “Masya Allah (heran), dunia ternyata sempit ya? Bagaimana studinya tentang Indonesia?”
Aisah               : “Lancar.”
Alicia                  : “Ok, kalian sepertinya sudah lama kenal. Berarti kalian cocok. Baik. Terima kasih, Fahri. Besok aku akan kembali ke Amerika. Assalamualaikum, Fahri.”
Fahri               : “Waalaikumsalam.”
Alicia dan Aisah beranjak meninggalkan Fahri di kafe itu. Namun Fahri dan Aisah masih sempat saling bertatapan mata sebelum dia  pergi bersama Alicia.

Adegan 5 :
Dalam ruang pertemuan, tampillah Fahri sebagai pembicara.
Fahri      : “Jadi, regenerasi itu sangat penting. Organisasi ini ibarat api unggun, untuk membuat apinya menjadi besar, harus ada kayu bakar yang baru.”
Gadis 1: (berbisik-bisik dengan gadis 2) “Kenapa ya orang seperti uztad Fahri itu belum menikah-menikah juga?”
Gadis 2: “Iya..iya. Emangnya kamu mau jadi istrinya?”
Gadis 1: “Sapa takut?”
Nurul   : “Hus.., jangan berisik!”

4. Penutup
Filem Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo ini mengandung unsur-unsur didaktis yang meliputi unsur etika, filosofi, agama, dan intelektual. Unsur-unsur ini dapat diamati dalam beberapa adegan yang telah dijabarkan oleh penulis  pada bagian sebelumnya, sehingga dapat dijadikan tontonan yang selain dapat menghibur, juga dapat mendidik kita.


5. Daftar Pustaka

Fuad, Muhammad, dkk. 2000. Nilai Didaktis dalam Pisaan Lampung Pubian. Jakarta. Depdiknas.
Kusmaini, Tuty. 2005. Unsur Didaktis dalam Kumpulan Cerita Pendek Lelaki Tua dan Biola karya Purhendi. Palembangdalam Bidar: Majalah Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan. Palembang: Balai Bahasa Palembang.
Lestari, Ummu Fatimah Ria. 2007. Analisis Dramaturgi dalam Naskah Drama Karya Rudolf Puspa (Klinik Jiwa, Seminar Kaki Empat, dan Napak Tilas)dalam Kibas Cenderawasih Volume 3. Jayapura: Balai Bahasa Jayapura.
Mulyana, Yoyo, dkk. 1997. Sanggar Sastra. Jakarta:Depdikbud
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Purwanto, M. Ngalim. 1993. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Jakarta: Remaja Rosdakarya Offset.
Sastrowardoyo, Subagio. 1983. Bakat Alam dan Intelektual. Jakarta. Balai Pustaka.
Siswanto, dkk. 2006. Unsur Didaktis dalam Cerita Rakyat Nabire dan Enarotali. Jayapura. Balai Bahasa Jayapura.
Stanton, Robert. 1965. An Introduction to Fiction. New York: Holt, Rinehart and Winston.