PENGARUH LATAR TERHADAP PEMBENTUKAN WATAK TOKOH
DALAM FILM SOSIOLOGIS DENIAS, SENANDUNG DI ATAS AWAN
KARYA JOHN DE RANTAU
Ummu Fatimah Ria Lestari *)
Abstrak
Penelitian ini adalah penelitian terhadap karya sastra (naskah drama/film), yang mana terfokus pada pengaruh latar terhadap pembentukan watak tokoh dalam film sosiologis Denias, Senandung di Atas Awan karya John De Rantau. Film ini berkisah tentang seorang anak laki-laki bernama Denias. Denias adalah bocah miskin yang tinggal di perkampungan Papua yang ingin sekali bersekolah. Setelah berjalan kaki berhari-hari untuk sampai ke sekolah terdekat, tetapi sesampainya di sana, sekolah itu menolak Denias karena status ekonomi Denias. Namun untung saja Denias bertemu dengan seorang guru yang simpatik padanya dan mau memperjuangkannya supaya bisa bersekolah di tempat itu.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa unsur latar (setting), baik latar fisik maupun sosial memiliki pengaruh pada pembentukan watak tokoh-tokoh dalam film ini. Pengaruh itu nampak dengan jelas maupun tersirat, baik melalui dialog antar tokoh maupun deskripsi tayangan dalam film itu sendiri.
1. Pendahuluan
Bangkitnya kembali industri perfileman di Indonesia menghasilkan karya-karya yang mulai patut diperhitungkan. Hal ini dipicu oleh munculnya kesempatan berkreatifitas untuk semua kalangan untuk membuat film. Di samping itu, maraknya tayangan sinetron di semua stasiun televisi swasta seakan hampir menggeser posisi tayangan film layar lebar di tanah air. Perkembangan dunia pertelevisian dewasa ini tampak pesat seiring dengan berkembangan kreatifitas manusia. Hal ini juga didukung oleh iklim usaha di Indonesia yang sudah kondusif untuk dunia perfileman. Sehingga produser berlomba-lomba untuk membuat filem yang sesuai dengan pangsa pasar yang ada. Secara umum, industri film Indonesia mulai berkembang lagi. Genre film yang muncul juga mulai lebih diperbanyak. Sehingga masyarakat bisa memilih tontonan yang berdasarkan seleranya.
Menurut Budiman (dalam Mulyawan, 1996:13), film yang kita tonton di bioskop atau di televisi berasal dari naskah (skenario). Skenario itu merupakan paparan naskah beserta pola-pola teknis pengambilan gambar, acting dan suara. Kemudian, kerja lapangan dan laboratorium pun dilakukan, yang biasa disebut dengan shooting, processing, dan dubbing. Shooting merupakan pengambilan gambar, acting, dan suara, baik di alam terbuka maupun di studio, sedangkan processing merupakan upaya pemindahan film negatif ke film positif di laboratorium khusus film. Agar suara lebih jernih dan sesuai dengan tuntutan skenario maka dilakukanlah pengisian suara (dubbing). Setelah itu, film siap diproyeksikan dengan alat proyektor, atau dialihkan ke pita kaset video.
Penelitan kali ini adalah penelitian karya sastra yang terfokus pada film berjudul Denias, Senandung di Atas Awan. Peneliti mengangkat penelitian tentang pengaruh latar terhadap pembentukan watak tokoh yang terdapat dalam film ini. Penulis tertarik untuk meneliti latar film ini, karena film ini mengambil latar di sebuah kampung terpencil di Papua. Temanya pun cukup menarik, cukup menyentuh hati penonton, yang mana seorang anak laki-laki bernama Denias, dengan keterbatasan ekonominya, tapi tetap memiliki motivasi dan usaha keras untuk tetap bisa mengenyam pendidikan formal (sekolah).
Film ini merupakan kondisi mimetis dari realitas kehidupan sebagian anak-anak di pedalaman Papua. Sehingga dapatlah dikatakan bahwa, film ini merupakan satire adanya ketidakadilan dalam dunia pendidikan nasional sekarang. Karena secara tersirat menyatakan bahwa hanya anak-anak orang kaya saja yang bisa bersekolah, sedangkan anak-anak dari kalangan ekonomi lemah tetap dibiarkan tidak bersekolah.
2. Kajian Pustaka
2.1 Latar
Seperti halnya unsur pengaluran, unsur ruang dan waktu didasari pada peniruan realitas kehidupan. Ruang dapat disisipi dengan petunjuk penampilan (kadang-kadang disebut dengan istilah kramagung, waramimbar, atau teks samping) dan dialog, cakapan, atau wawancang. Ruang yang merupakan pijakan tempat peristiwa terjadi umumnya jelas, menunjang lakuan pemain, dan sesuai dengan lingkup cerita.Konvensi waktu juga mesti tunduk pada prinsip kepaduan dan kejelasan. Dalam drama atau film, waktu lakuan atau saat tokoh-tokoh bertindak adalah waktu kini, sedangkan waktu cerita atau waktu yang digunakan oleh para tokoh dalam dialog mereka dapat berupa waktu lampau maupun waktu yang akan datang. Waktu lampau terjadi, misalnya untuk menceritakan peristiwa-peristiwa yang mereka alami, sementara waktu yang akan datang dapat digunakan untuk menyampaikan rencana atau ramalan peristiwa yang akan terjadi.
Peristiwa-peristiwa dalam cerita tentulah terjadi pada suatu waktu atau dalam suatu rentang waktu tertentu dan pada suatu tempat tertentu. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra membangun latar cerita (Sudjiman, 1986:46).
Latar atau setting yang disebut juga landas tumpu, menyaran pada pengertia tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981:175).
Secara terperinci latar meliputi penggambaran lokasi geografis, termasuk topografi, pemandangan, sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruangan, pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya, masa terjadinya, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional para tokoh. Hudson (dalam Sudjiman, 1988:44) membedakan latar sosial dan latar fisik/material. Latar sosial mencakup penggambaran keadaaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa, dan lain-lain yang melatari peristiwa. Adapun yang dimaksud dengan latar fisik adalah yang tampak dalam wujud fisiknya, yaitu bangunan, daerah, dan sebagainya.
Stanton (1965) mengelompokkan latar bersama dengan tokoh dan plot ke dalam fakta (cerita) sebab ketiga hal inilah yang akan dihadapi dan dapat diimijinasi oleh pembaca secara faktual jika membaca fiksi. Ketiga hal ini yang secara konkret dan langsung membentuk cerita. Sedangkan menurut Nurgiyantoro (2005:217), latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca, menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. Dengan demikian, pembaca merasa dipermudah untuk “mengeperasikan” daya imajinasinya, di samping dimungkinkan untuk berperan serta secara kritis sehubungan dengan pengetahuannya tentang latar. Pembaca dapat merasakan dan menilai kebenaran, ketepatan, dan aktualisasi latar yang diceritakan sehingga merasa lebih akrab. Pembaca seolah-olah merasa menemukan dalam cerita itu sesuatu yang sebebnarnya menjadi bagian dirinya. Hal ini akan terjadi jika latar mampu mengangkat suasana tempat, warna vokal, lengkap dengan perwatakannya ke dalam cerita. Di pihak lain, jika belum mengenal latar itu sebelumnya, pembaca akan mendapatkan informasi baru yang berguna dan menambah pengalaman hidup.
Zaidan (2000:118), mendefenisikan latar sebagai waktu dan tempat terjadinya lakuan di dalam karya sastra atau drama. Latar dalam karya fiksi tidak terbatas pada penempatan lokasi-lokasi tertentu, atau sesuatu yang bersifat fisik saja, melainkan juga yang berwujud tata cara, adat istiadat, kepercayaan, dan nilai-nilai yang berlaku di tempat yang bersangkutan. Hal-hal yang disebut terakhir inilah yang disebut latar spritual (spritual setting), yakni nilai-nilai yang melingkupi dan dimiliki oleh latar fisik (Kenny,1996:39).
2.2 Tokoh
Menurut Abrams (1981:20) tokoh adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukakan dalam tindakan. Pembedaan antara tokoh yang satu dengan yang lain lebih ditentukan oleh kualitas pribadi daripada dilihat secara fisik.
Istilah tokoh menunjuk pada orangnya atau pelaku cerita. Menurut Zaidan (200: 206), tokoh adalah orang yang memainkan peran dalam karya sastra. Dalam kaitan itu, penokohan adalah proses penampilan tokoh dalam pemberian watak, sifat, atau kebiasaan tokoh pemeran suatu cerita. Penokohan dapat dilakukan melalui teknik kisahan atau teknik ragaan. Watak atau sifat tokoh itu terlihat dalam lakuan fisik (tindakan atau ujaran) dan lakuan rohani (renungan atau pikiran). Lebih lanjut Zaidan (200-214), mengemukakan bahwa watak adalah sikap dan perilaku tokoh yang menjadi dasar penempilan dalam cerita rekaan atau drama. Watak merujuk kualitas nalar dan jiwa tokoh.
Tokoh dalam drama mesti memiliki ciri-ciri, seperti nama diri, watak, serta lingkungan sosial yang jelas. Pendeknya, tokoh atau karakter yang baik harus memiliki ciri atatu sifat yang tiga dimensional, yaitu yang memiliki dimensi fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Harymawan (1988: 25-26) dalam bukunya, Dramaturgi, menyebutkan bahwa rincian dimensi fisiologis terdiri atas usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, dan ciri-ciri muka; dimensi sosiologis terdiri atas status sosial, pekerjaan (jabatan dan peranan di dalam masyarakat), pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan hidup (kepercayaaan, agama, dan ideologi), aktivitas sosial/organaisasi, hobi/kegemaran, bangsa (suku dan keturunan); dimensi psikologis meliputi mentalitas dan moralitas, temperamen, dan intelegensi (tingkat kecerdasan, kecakapan, dan keahlian khusus dalam bidang-bidang tertentu).Biasanya, tokoh-tokoh utama muncul di awal cerita, yaitu pada tahap pemaparan. Hal itu dimaksudkan agar publik, khususnya pembaca atau penonton dapat mengenali mereka. Sepanjang cerita, tokoh-tokoh akan mempertahankan ciri-ciri mereka. Kemudian, konflik tercipta akibat perbedaan yang terdapat di antara tokoh-tokoh yang berupaya mewujudkan keinginan mereka. Perbedaan itulah yang semakin lama semakin meningkatkan konflik dan berpuncak sebagai klimaks.
Watak, perwatakan, dan karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh. Antara seorang tokoh dengan perwatakan yang dimiliki memang merupakan suatu kepaduan yang utuh. Penyebutan nama tokoh tertentu, tidak jarang langsung mengisyaratkan perwatakan yang dimilikinya. Hal itu terjadi terutama pada tokoh-tokoh tertentu yang telah menjadi milik masyarakat, seperti Datuk Maringih dengan sifat-sifat jahatnya, Tini dengan keegoisannya, Hamlet dengan keragua-raguannya, dan sebagainya (Nurgiyantoro, 2005: 165).
Watak ialah kualitas tokoh, kualitas nalar dan jiwanya yang membedakannya dengan tokoh lain (Sudjiman, 1986:80).
3. Pembahasan
3.1 Latar dan Pengaruhnya terhadap Watak Tokoh
3.1.1 Jenis Latar
Latar yang terdapat dalam film Denias, Senandung di Atas Awan dapat dikategorikan dalam latar fisik dan latar sosial. Latar fisik meliputi:
a. Pegunungan dan lembah
Tokoh Denias sebagai tokoh utama dalam film Denias, Senandung di Atas Awan dinampakkan sebagai seorang anak laki-laki dari suku Moi yang mendiami Lembah Baliem, Pengunungan Jaya Wijaya. Penggambaran latar tersebut nampak pada awal tayangan film ini, yang mana dimunculkan Upacara Adat Pemasangan Koteka untuk Remaja Laki-Laki yang adanya hanya di tempat ini. Penggambaran latar tersebut juga tampak dalam tayangan berikut:
Pagi yang cerah, diadakan upacara pemasangan koteka terhadap semua anak laki-laki yang beranjak dewasa. Tampak berbaris anak-anak laki yang akan dipasangkan koteka oleh kepala suku. Salah satunya adalah Denias. Setelah upacara tersebut, anak laki-laki tinggal terpisah dengan perempuan. Mereka tinggal dalam satu honai dengan sesama laki-laki yang lain. Namun tidak jauh terpisah dengan honai tempat tinggal kaum perempuan.
b. Perkampungan penduduk
Selain tokoh Denias, terdapat pula beberapa tokoh pembantu yang ditampilkan yaitu adalah Maleo, yang merupakan anggota TNI yang ditugaskan di kampung Denias. Selain itu, Maleo adalah sahabat Denias yang menjadi tempat Denias mencurahkan isi hati dan perasaannya. Hal ini tergambar dalam dialog berikut:
Dialog
Denias: (duduk di tepi danau bersama Maleo) “Saya bersalah, Maleo. Saya sudah bunuh mama. Saya bersalah”.
Maleo: “ Ko tidak bersalah, Denias. Maleo tau rasanya bersalah. Dulu Maleo punya teman waktu sekolah, dia minta Maleo punya permen. Maleo tidak kasih, lalu dia pergi beli sendiri tapi dia tertabrak mobil dan meninggal dunia.Maleo tau rasanya bersalah”.
Denias: (Memeluk Maleo sambil menangis)” Saya bersalah, Maleo. Saya bersalah, Maleo”.
Maleo: “ Nah, sekarang. Apa yang mama ko mau?”
Denias: “ Mama mau supaya saya tetap sekolah.Pak Guru bilang, tugasnya adalah mengajar dan tugas kami adalah belajar (marah), tapi kenapa dia pergi meninggalkan kami”.
Maleo: “Dia ada keperluan yang mendesak. Ko harus mengerti!”
Denias:”Tapi belajar juga keperluan besar”.
Maleo:”Belajar itu bisa dimana saja dan kapan saja”.
Denias:” Tapi tidak ada yang ajar kami”.
c. Hutan lebat dan sungai
Untuk latar hutan labat dan sungai nampak pada tayangan ketika Denias terlambat bangun pagi, lalu berlari menelusuri hutan lebat hingga tiba pada sebuah sungai. Di sungai itu, Denias mencuci mukanya dan bergegas berangkat ke sekolah karena dia sudah terlambat.
Tayangan lain dapat dilihat ketika Denias dan teman-temannya berburu kuskus di hutan. Mereka berusaha memanah kuskus yang sedang memanjat pohon. Namun mereka dikagetkan oleh Suanggi yang tiba-tiba datang. Mereka berlari terpontang-panting sampai akhirnya bersembunyi dalam sebuah goa yang mereka anggap aman. Lalu terjadilah dialog:
Teman Denias : (Mengajak) “Ayo, Denias. Kita pulang sudah”.
Denias : “Nanti dia lihat kita, bagaimana?”
Teman Denias : (Ketakuan) “Daripada di sini. Bisa-bisa dia tangkap kita”.
Denias : “ Iyo, sudah. Tunggu dia pergi dulu”.
d. Honai (rumah) yang merupakan rumah tinggal bersama.
Untuk latar rumah ( honai) tampak dalam banyak tayangan. Rumah khas masyarakat di Papua disebut honai. Masyarakat Baliem memiliki honai yang sengaja dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, walaupun mereka suami istri. Salah satu tayangan itu adalah ketika ibu Denias sedang sakit. Dia berbaring di atas tumpukan jerami yang ada dalam honainya.
Tayangan lain yang dapat diamati yaitu ketika Denias, ayah Denias (Pak Samuel) sedang berkumpul dengan kaumnya dalam honai. Terjadilah percakapan dalam honai itu.
Pak Samuel : (Marah) “Besok ko tidak usah sekolah, memangnya di sekolah cuma ajarkan ko untuk berkelahi saja. Ko habis berkelahi dengan sapakah? Kalau perlu kitong selesaikan malam ini juga”.
Denias : (Tertunduk) “ Dengan Noel, Bapa”.
Pak Samuel : (Semakin marah) “ Ko lihat-lihat juga kalau mau berkelahi.
Anak kepala suku ko temani berkelahi, kitong bisa kena kutuk nanti”.
Denias : “ Tapi, Bapa...”
Pak Samuel : “ Sudah, sudah”.( Berdiri lalu pergi meninggalkan Denias)
e. Hidup dalam lingkungan yang diatur oleh adat
Hidup dalam lingkungan yang diatur oleh adat nampak jelas pada tayangan ketika ibu Denias meninggal dunia. Dalam adat masyarakat di Lembah Baliem Papua, apabila ada salah seorang anggota keluarga meninggal dunia maka wajib baginya diadakan upacara pemotongan jari oleh kepala adat. Upacara itu merupakan semacam upacara berkabung oleh keluarga yang ditinggalkannya. Dalam tayangan ini, tampak yang menjalani upacara tersebut adalah ayah Denias (Pak Samuel).
Dalam kepercayaan masyarakat itu, mengganggu (berkelahi) anggota keluarga kepala suku bisa mendatangkan celaka pada masyarakat yang bersangkutan. Selain itu masyarakat masih percaya kepada kekuatan sihir, gaib dan roh-roh nenek moyang mereka. Hal ini dapat disimak dalam percakapan antara Denias dan ayahnya sebagai berikut:
Dialog
Pak Samuel : (Marah) “Besok ko tidak usah sekolah,
memangnya di sekolah cuma ajarkan ko untuk berkelahi saja.
Ko habis berkelahi dengan sapakah?
Kalau perlu kitong selesaikan malam ini juga”.
Denias : (Tertunduk) “ Dengan Noel, Bapa”.
Pak Samuel : (Semakin marah) “ Ko itu lihat-lihat juga kalau mau berkelahi.
Anak kepala suku ko temani berkelahi, kitong bisa kena kutuk nanti”.
Denias : “ Tapi, Bapa...”
Pak Samuel : “ Sudah, sudah”.( Berdiri lalu pergi meninggalkan Denias)
f. Pergaulan dengan seorang anggota TNI
Seperti yang telah digambarkan dalam beberapa tayangan. Denias berkawan dengan seorang anggota TNI yang selalu memberinya semangat untuk mengejar cita-citanya. Hal itu dapat diamati dalam rangkaian dialog di bawah ini:
Dialog
Denias: (duduk di tepi danau bersama Maleo) “Saya bersalah, Maleo. Saya sudah bunuh mama. Saya bersalah”.
Maleo: “ Ko tidak bersalah, Denias. Maleo tau rasanya bersalah. Dulu Maleo punya teman waktu sekolah, dia minta Maleo punya permen. Maleo tidak kasih, lalu dia pergi beli sendiri tapi dia tertabrak mobil dan meninggal dunia.Maleo tau rasanya bersalah”.
Denias: (Memeluk Maleo sambil menangis)” Saya bersalah, Maleo. Saya bersalah, Maleo”.
Maleo: “ Nah, sekarang. Apa yang mama ko mau?”
Denias: “ Mama mau supaya saya tetap sekolah.Pak Guru bilang, tugasnya adalah mengajar dan tugas kami adalah belajar (marah), tapi kenapa dia pergi meninggalkan kami”.
Maleo: “Dia ada keperluan yang mendesak. Ko harus mengerti!”
Denias:”Tapi belajar juga keperluan besar”.
Maleo:”Belajar itu bisa dimana saja dan kapan saja”.
Denias:” Tapi tidak ada yang ajar kami”.
g. Anak laki-laki harus membantu orang tuanya bekerja
Anak laki-laki membantu orang tuanya bekerja adalah salah satu budaya masyarakat Papua. Budaya itu sudah berlangsung sejak lama, sehingga tetap nampak sampai sekarang. Selain itu mereka juga memiliki budaya gotong royang dalam mengerjakan sesuatu. Nilai budaya itu digambarkan dalam dialog antara Denias dengan ayahnya, sebagai berikut:
Dialog
Ayah Denias: (Marah) “ Denias, ko darimanakah?. Harusnya tadi tidak bantu bapak memasang pagar too?. Tangan bapak nih masih sakit”
Denias : “Saya sekolah, bapa”.
Ayah Denias: “Denias, semua anak laki-laki itu harus bantu dia pu orang tua bekerja. Pokoknya besok ko tidak usah sekolah, ko harus bantu saya”.
Denias : “ Ah, jangan. Saya mau sekolah, Bapa...”
(Belum selesai Denias bicara, tapi ayahnya sudah pergi)
h. Perbedaan pola hidup masyarakat di kampung dan di kota
Perbedaan pola hidup masyarakat di kampung dan di kota, nampak pada saat Denias sudah pergi meninggalkan kampungnya dan tinggal di kota. Saat itulah Denias berkenalan dengan seorang anak laki-laki sebayanya bernama Ennos. Ennos adalah anak laki-laki yang berasal dari daerah Ilaga. Bersama Ennos, Denias mengenal pola kehidupan orang kota yang berbeda dengan ketika dia masih tinggal di kampungnya. Hal ini terlihat pada tayangan dan dialog berikut:
(Di depan supermarket)
Ennos : “Ko jangan bilang-bilang!”
Denias : “Kenapa?”
Ennos : “Pokoknya ko diam saja!”
(Di bawah sebuah jembatan)
Denias : (Duduk) “Kenapa ko mencuri?”
Ennos : “Saya pernah minta tapi tidak dikasih
(sambil makan roti curian tadi)”
Denias : “Guru bilang mencuri itu dosa. Dia bilang mencuri itu dosa.
Nanti kalo saya bilang dia, bisa dapat hukum”.
Ennos : “Jangan ko samakan di sini dengan di kampungmu,
ko mau makan kah tidak?Ini makan!
(Menyodorkan roti pada Denias)”
Denias : (Melihat-lihat roti itu saja)
Ennos : “Kenapa dilihat-lihat saja. Makan saja, itu enak”.
(Tiba-tiba terdengar suara bel)
Denias : “Eh, bunyi apa itu?”
Ennos : “ Itu lonceng sekolah yang bikin iri saja”.
Denias : “ Ko pernah sekolah?”
Ennos : “ Pernah. Tapi itu dulu, dulu sekali”.
Denias : “ Dulu ko sekolah? Kelas brapa?”
Ennos : “ Saya sudah tidak sekolah”.
Denias : “ Kenapa?Di sana ada sekolah tuh.Besok kita ke sekolah”.
Ennos : “ Ko anak kepala suku kah? Jangan ko brmimpi!
Masalahnya kita ini bukan anak sapa-sapa.
Ah, bicara saja banyak. Makan!
Mari saya makan ko punya (sambil merampas makanan)”
Denias : “Ah, jangan begitu. Ko ini rakus sekali (marah)”.
i. Lingkungan pendidikan yang baik
Lingkungan pendidikan yang baik tergambar pada tayangan ketika Denias bertamu di rumah ibu guru Susan. Denias disambut dengan baik, diperlakukan dengan sopan, disuruh mandi supaya bersih dan diajari cara menggosok gigi oleh Ibu guru Susan. Lingkungan pendidikan dalam rumah itulah akhirnya menjadikan Denias sebagai anak laki-laki yang tampak bersih dan rapi.
3.1.2 Pengaruh Latar terhadap Pembentukan Watak Tokoh
Baik latar fisik maupun latar sosial yang telah dipaparkan ternyata memiliki pengaruh terhadap pembentukan watak para tokoh dalam film Denias, Senandung di Atas Awan. Pengaruh-pengaruhnya dapat disimak pada paparan berikut:
a. Latar pegunungan dan lembah berpengaruh pada terbentuknya watak rajin bekerja, penuh semangat, dan keras pendirian pada diri tokoh Denias dan watak pemarah pada diri Pak Samuel (ayah Denias).Hal ini tergambar dalam dialog-dialog berikut:
Ayah Denias: (Marah) “ Denias, ko darimanakah?. Harusnya tadi ko bantu bapak memasang pagar too? Tangan bapak nih masih sakit”
Denias : “Saya sekolah, bapa”.
Ayah Denias: “Denias, semua anak laki-laki itu harus bantu dia pu orang tua bekerja. Pokoknya besok ko tidak usah sekolah, ko harus bantu saya”.
Denias : “ Ah, jangan. Saya mau sekolah, Bapa...”
(Belum selesai Denias bicara, tapi ayahnya sudah pergi)
b. Latar perkampungan penduduk berpengaruh pada terbentuknya watak kerja sama pada diri tokoh Denias.Hal ini tergambar dalam tayangan ketika Denias bekerja sama dengan Maleo mengajak anak-anak lain membangun honai untuk sekolah mereka di tepi danau. Mereka bahu-membahu dan tak kenal lelah sampai honai itu selesai mereka bangun.
c. Latar hutan lebat dan sungai berpengaruh pada terbentuknya watak rajin, pemberani dan waspada pada diri tokoh Denias.Hal ini tergambar dalam tayangan dan dialog berikut:
Denias terlambat bangun pagi, lalu berlari menelusuri hutan lebat hingga tiba pada sebuah sungai. Di sungai itu, Denias mencuci mukanya dan bergegas berangkat ke sekolah karena dia sudah terlambat.
Tayangan lain dapat dilihat ketika Denias dan teman-temannya berburu kuskus di hutan. Mereka berusaha memanah kuskus yang sedang memanjat pohon. Namun mereka dikagetkan oleh Suanggi yang tiba-tiba datang. Mereka berlari terpontang-panting sampai akhirnya bersembunyi dalam sebuah goa yang mereka anggap aman.
Lalu terjadilah dialog:
Teman Denias : (Mengajak) “Ayo, Denias. Kita pulang sudah”.
Denias : “Nanti dia lihat kita, bagaimana?”
Teman Denias : (Ketakuan) “Daripada di sini. Bisa-bisa dia tangkap kita”.
Denias : “ Iyo, sudah. Tunggu dia pergi dulu”.
d. Latar honai (rumah) berpengaruh pada terbentuknya watak bertanggung jawab pada diri tokoh Denias, penuh kasih sayang dan rasa kekeluargaan. Hal ini dapat disimak dalam dialog sebagai berikut:
Ibu Denias : (Terjatuh tiba-tiba)
Denias : (Berteriak) “ Bapak, bapak...tempo, cepat!”
Ayah Denias : (Kaget) “Ada apa?”
Denias : (Membantu ayahnya mengangkat ibunya ke dalam honai)
e. Latar lingkungan adat yang ketat berpengaruh pada terbentuknya watak selalu percaya kepada kekuatan sihir, gaib dan roh-roh nenek moyang mereka. Hal ini dapat disimak dalam percakapan- percakapan sebagai berikut:
Dialog 1
Pak Samuel : (Marah) “Besok ko tidak usah sekolah,
memangnya di sekolah cuma ajarkan ko untuk berkelahi saja.
Ko habis berkelahi dengan sapakah?
Kalau perlu kitong selesaikan malam ini juga”.
Denias : (Tertunduk) “ Dengan Noel, Bapa”.
Pak Samuel : (Semakin marah) “ Ko itu lihat-lihat juga kalau mau berkelahi.
Anak kepala suku ko temani berkelahi, kitong bisa kena kutuk nanti”.
Denias : “ Tapi, Bapa...”
Pak Samuel : “ Sudah, sudah”.( Berdiri lalu pergi meninggalkan Denias)
Dialog 2
Kepala suku : (Marah) “Siapa suruh ko bangun honai di sini?
Memangnya ini ko pu tanah kah?”
Maleo : “Tapi anak-anak perlu honai itu untuk sekolah, Bapa”.
Kepala suku : “ Sudah. Nanti sa sihir ko mati”.
f. Latar pergaulan dengan seorang anggota TNI berpengaruh pada terbentuknya watak memiliki nasionalisme yang tinggi.
(Suatu malam Denias menyanyikan lagu Indonesia Raya di hadapan orang-orang serumahnya dengan suara lantang sambil memandangi peta Indonesia buatannya)
Ayah Denias : “Apa itu?”
Denias : (Menunjuk peta Indonesia) Ini Indonesia, bapa”.
Ayah Denias : (Hanya tersenyum sambil memandangi wajah putranaya)
g. Latar anak laki-laki harus membantu orang tuanya bekerja berpengaruh pada terbentuknya watak rajin bekerja dan punya solidaritas yang tinggi pada diri Denias dan anak laki-laki yang lain. Hal ini dapat dilihat dalam tayangan dan dialog sebagai berikut:
Maleo : “Saya mau Denias tetap belajar, Bapa”.
Pak Samuel :” Di sini bukan Jawa (Marah).
Semua anak laki-laki harus bantu dia pu orang tua.
Ko mengerti itu?”
Maleo : “ Saya mengerti. Justru kalau Denias belajar,
nanti dia bisa bantu bapak banyak”.
Pak Samuel : Itulah, ko cuma bisa bilang nanti...nanti. Saya mau sekarang.
Sa pu tangan nih masih sakit, Denias takkan kemana-mana,
sebelum pekerjaan selesai”.
Maleo : “ Baiklah, asalkan pekerjaan sudah selesai.
Denias sudah bisa pergi”.
Pak Samuel : “ Iyo,sudah”.
(Maleo dan Denias lalu berlari sambil memanggil teman-temannya untuk membantu ayah Denias memasang pagar supaya cepat selesai dan Denias bisa belajar lagi di sekolah. Mereka bergotong royong untuk memasang pagar lalu belajar bersama-sama lagi)
h. Latar perbedaan pola hidup masyarakat di kampung dan di kota berpengaruh pada terbentuknya watak egois, rakus dan jahat dalam diri orang yang tinggal di kota. Hal ini tampak dalam tayangan dan dialog sebagai berikut:
(Di depan supermarket)
Ennos : “Ko jangan bilang-bilang!”
Denias : “Kenapa?”
Ennos : “Pokoknya ko diam saja!”
(Di bawah sebuah jembatan)
Denias : (Duduk) “Kenapa ko mencuri?”
Ennos : “Saya pernah minta tapi tidak dikasih
(sambil makan roti curian tadi)”
Denias : “Guru bilang mencuri itu dosa. Dia bilang mencuri itu dosa.
Nanti kalo saya bilang dia, bisa dapat hukum”.
Ennos : “Jangan ko samakan di sini dengan di kampungmu,
ko mau makan kah tidak?Ini makan!
(Menyodorkan roti pada Denias)”
Denias : (Melihat-lihat roti itu saja)
Ennos : “Kenapa dilihat-lihat saja. Makan saja, itu enak”.
(Tiba-tiba terdengar suara bel)
Denias : “Eh, bunyi apa itu?”
Ennos : “ Itu lonceng sekolah yang bikin iri saja”.
Denias : “ Ko pernah sekolah?”
Ennos : “ Pernah. Tapi itu dulu, dulu sekali”.
Denias : “ Dulu ko sekolah? Kelas brapa?”
Ennos : “ Saya sudah tidak sekolah”.
Denias : “ Kenapa?Di sana ada sekolah tuh.Besok kita ke sekolah”.
Ennos : “ Ko anak kepala suku kah? Jangan ko brmimpi!
Masalahnya kita ini bukan anak sapa-sapa.
Ah, bicara saja banyak. Makan!
Mari saya makan ko punya (sambil merampas makanan)”
Denias : “Ah, jangan begitu. Ko ini rakus sekali (marah)”.
i. Latar Lingkungan pendidikan yang baik tergambar pada tayangan ketika Denias bertamu di rumah ibu guru Susan. Denias disambut dengan baik, diperlakukan dengan sopan, disuruh mandi supaya bersih dan diajari cara menggosok gigi oleh Ibu guru Susan. Lingkungan pendidikan yang baik itulah akhirnya menjadikan Denias sudah tampak bersih, sopan, dan rapi.
4. Penutup
Film sosiologis dengan judul Denias, Senandung di Atas Awan karya John De Rantau menampilkan dua jenis latar, yakni latar fisik dan latar sosial. Meskipun demikian, jenis latar yang banyak mempengaruhi terbentuknya watak para tokoh cerita adalah latar sosial. Latar fisik meliputi pegunungan dan lembah, perkampungan masyarakat, hutan lebat dan sungai, dan honai yang meruapakan tempat tinggal bersama. Selain itu, juga terdapat latar sosial meliputi hidup dalam lingkungan yang diatur oleh adat, ketika bergaul dengan seorang anggota TNI, adanya kebiasaan anak laki-laki harus membantu orang tuanya bekerja, adanya perbedaan pola hidup masyarakat di kampung dan di kota, dan lingkungan pendidikan yang baik.
Adapun watak yang terbentuk akibat latar-latar tersebut antara lain pemarah, rajin bekerja, penuh semangat, keras pendirian, kerja sama, pemberani, selalu waspada, bertanggung jawab, penuh kasih sayang, penuh rasa kekeluargaan, selalu percaya kepada kekuatan sihir, meyakini hal-hal yang gaib, masih memuja roh-roh nenek moyang, memiliki nasionalisme yang tinggi, punya solidaritas yang tinggi, egois, rakus, jahat, bersih, sopan, dan rapi.
5. Daftar Pustaka
Abrams, M.H. 1981. A Glossary Of Literary Terms. New York: Holt, Rinehart,dkk.
Asmabuasappe. 2006. Pengaruh Latar terhadap Pembentukan Watak Tokoh dalam Roman Antropoligis Namaku Tewerawut Karya Ani Sekarningsih. Jayapura: Balai Bahasa Jayapura.
Djamaris, Edward.1994. Sastra Daerah di Sumatra, Analisis Tema, Amanat, dan Nilai Budaya. Jakarta: Balai Pustaka.
Kenny, William. 1996. How To Analyze Fiction. New York: Monarch Press.
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan, Mentalitet, dan Pembangunan. Jakarta:Gramedia.
Lestari, Ummu Fatimah Ria. 2007. Analisis Dramaturgi dalam Naskah Drama Karya Rudolf Puspa (Klinik Jiwa, Seminar Kaki Empat, dan Napak Tilas). Jayapura: Balai Bahasa Jayapura.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadja Mada University Press.
Stanton, Robert. 1965. An Introduction to Fiction. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Sudjiman, Panuti. 1986. Kamus Istilah Sastra Cetakan II. Jakarta: Gramedia.
--------------------. 1988. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Zaidan, Abdul Rozak, dkk. 2000. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.
NILAI-NILAI DIDAKTIS DALAM FILM “ AYAT-AYAT CINTA” KARYA HANUNG BRAMANTYO
*Ummu Fatimah Ria Lestari
Abstrak
Penelitian ini merupakan salah satu kajian karya sastra berupa naskah film (drama). Penelitian ini membahas unsur didaktis yang terkandung dalam cerita film yang berjudul “ Ayat-Ayat Cinta” karya Hanung Bramantyo. Film ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama, ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Cerita yang diangkat adalah cerita cinta. Tapi bukan sekedar cerita cinta biasa. Cerita ini menggambarkan tentang bagaimana menghadapi turun naiknya persoalan hidup dengan cara islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Universitas Al Azhar Mesir. Berjibaku dengan panasnya debu Mesir. Berkutat dengan target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penterjemah buku-buku agama. Semua target dijalani dengan penuh antusiasme, kecuali satu hal yaitu menikah. Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu lurus . Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif terhada lawan jenisnya. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya yaitu neneknya, ibunya, dan saudara perempuannya.
1.1 Pendahuluan
Perkembangan dunia teknologi dewasa ini semakin pesat, termasuk dunia perfileman. Adanya berbagai film yang dihasilkan oleh sineas-sineas di tanah air, menunjukkan bahwa kreatifitas bangsa mulai bangkit lagi. Hal ini tentu saja dimotori oleh para sineas-sineas muda, seperti Riri Reza, Hanung Bramantyo, dan kawan-kawan.
Dunia perfileman di tanah air mulai bersemangat lagi di era tahun 2000-an ini. Bahkan kegiatan Festival Film Indonesia (FFI) mulai digelar lagi beberapa tahun terakhir ini. Kegiatan ini telah kembali menggairahkan industri film di negara ini, karena dapat memacu semangat para pemilik rumah produksi dan para sineas untuk lebih banyak berkarya.
Drama sebagai salah satu karya sastra berkembang menjadi drama modern dalam bentuk film layar lebar. Selain dikehendaki untuk menghibur, juga diharapkan untuk dapat menjadi sarana pendidikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Karena dalam cerita drama itu juga terkandung makna dan nilai-nilai yang sarat moral etika maupun budaya.
Menurut Budiman (dalam Mulyawan, 1996:13), film yang kita tonton di bioskop atau di televisi berasal dari naskah (skenario). Skenario itu merupakan paparan naskah beserta pola-pola teknis pengambilan gambar, acting dan suara. Kemudian, kerja lapangan dan laboratorium pun dilakukan, yang biasa disebut dengan shooting, processing, dan dubbing. Shooting merupakan pengambilan gambar, acting, dan suara, baik di alam terbuka maupun di studio, sedangkan processing merupakan upaya pemindahan film negatif ke film positif di laboratorium khusus film. Agar suara lebih jernih dan sesuai dengan tuntutan skenario maka dilakukanlah pengisian suara (dubbing). Setelah itu, film siap diproyeksikan dengan alat proyektor, atau dialihkan ke pita kaset video.
Penelitian sastra kali ini mengetengahkan unsur-unsur didaktis dalam film yang berjudul Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo. Film ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama, ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Cerita yang diangkat adalah cerita cinta. Tapi bukan sekedar cerita cinta biasa. Cerita ini menggambarkan tentang bagaimana menghadapi turun naiknya persoalan hidup dengan cara islam. Hal itulah yang mendasari saya untuk meneliti unsur-unsur didaktis dalam cerita filem ini.
1.2 Kerangka Teori
1.2.1 Unsur Didaktis
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengemukakan pengertia unsur adalah bagian yang penting dalam suatu hal. Bila dihubungkan dengan pengertian dan penelitian ini, yaitu bagian-bagian penting yang terdapat dalam cerita filem Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo. Bagian-bagian yang penting itu berupa ilmu-ilmu yang dapat menjadikan manusia lebih arif dan bijaksana. Sedangkan pengertian didaktis yang merupakan kata sifat yang berasal dari kata kerja didaktik. Didaktik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sesuatu yang bersifat mendidik.
Berdasarkan pengertian unsur dan pengertian didaktis, maka dapat disimpulkan bahwa unsur didaktis adalah bagian yang penting, dalam hal ini adalah cerita filem Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo. Bagian atau hal-hal yang penting itu tentu bernilai positif yang dapat menimbulkan kegiatan atau kecakapan baru pada diri orang lain. Kegiatan atau kecakapan baru itu bukan berupa suatu keterampilan tetapi berupa suatu tindakan yang baik yang mencerminkan budi pekerti tokohnya. Dihubungkan dengan penelitian ini, tentu hal-hal yang sifatnya mendidik atau pendidikan dapat berlangsung pada individu yang menikmati karya sastra. Dengan kata lain, dengan menikmati karya sastra seseorang memperoleh pendidikan. Pendidikan itu bermacam-macam. Ngalim Purwanto (dalam Siswanto,dkk, 2006: 7) membagi pendidikan menjadi dua segi, yaitu pendidikan jasmani dan pendidikan rohani.
Berdasarkan cakupan pendidikan dalam bidang umum dan bidang sastra, maka dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur didaktis yang akan dianalisis meliputi etika, filosofi, agama, dan intelektual.
Struktur batin cerita filem adalah isi atau makna yang hendak disampaikan melalui cerita itu. Menurut Waluyo (dalam Siswanto, dkk, 2006:8), yang termasuk struktur batin dalam karya sastra adalah tema, perasaan, dan amanat. Namun penelitian ini akan membahas mengenai tema dan amanat saja.
Tema adalah gagasan pokok yang akan dikemukakan oleh pengarang kepada penikmat karyanya. Sedangkan amanat adalah pesan atau semacam imbauan dari pengarang (penulis) yang tersirat dalam tulisannya (karyanya) maupun tema yang diungkapkannya. Sedangkan menurut Sudjiman (dalam Siswanto, dkk, 2006: 8), amanat adalah suatu ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat terdapat pada sebuah karya sastra secara eksplisit dan implisit. Lebih jauh Sapardi Joko Damono mengungkapkan bahwa dalam cerita drama (film) untuk menyampaikan amanat itu melalui proses alih wahana, dari audio visual menjadi penafsiran masing-masing dalam diri penonton.
1.2.2 Unsur Didaktis
Unsur-unsur didaktis meliputi etika, filosofi, agama, dan intelektual. Etika merupakan salah satu cabang ilmu filsafat yang memuat nilai-nilai luhur, sehingga akan mewujudkan keluhuran budi masyarakat penganutnya. Nilai-nilai luhur tersebut merupakan pembeda antara yang baik dan yang buruk. Nilai baik dan nilai buruk ini merupakan pokok persoalan dalam etika. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nilai etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan moral/akhlak.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), filosofis adalah kata yang mengacu pada falsafah yang berarti filsafat. Sedangkan menurut Peter Salim dan Yeni Salim (dalam Kusmaini, 1991:419), filsafat berarti suatu teori atau analisis logis tentang suatu peristiwa-peristiwa yang mendasari pemikiran , pengetahuan, dan alam semesta. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa filsafat sebagai proses berpikir tentang suatu hal yang mengarah pada akal budi atau pengalaman yang diambil hikmahnya yang kemudian dijadikan prinsip hidup. Agama merupakan unsur utama dalam membentuk kepribadian seseorang. Seseorang yang terdidik berdasarkan ajaran agama akan berbeda kepribadiannya dengan sesorang yang dibesarkan tanpa pendidikan agama. Ajaran agama merupakan pedoman hidup manusia. Bagi umat Islam, dasar agama Islam merupakan pedoman utama keharusan berlangsungnya pendidikan. Nilai-nilai agama yang terdapat dalam karya sastra diantaranya adalah sesuatu yang berhubungan dengan keimanan kepada Tuhan YME, selalu berbuat kebaikan dan berusaha untuk mencegah berbagai bentuk kamaksiatan yang akan menyebabkan penderitaan bagi manusia itu sendiri.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), intelek berarti daya pikiran. Sedangkan kata intelektual berarti cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan pengetahuan. Sastrowardoyo (dalam Siswanto, dkk, 2006:12) mengungkapkan bahwa kata intelektual dalam Bahasa Inggris dikenakan sebagai sejenis pribadi tersendiri yang telah mengalami kecerdasan dan kehalusan budi lewat pendidikan budaya. Orang yang tinggi tingkat kesarjanaannya tetapi selama ia tidak mempunyai minat ataupun peka terhadap rangsang-rangsang budaya, maka ia belum berkah dinamakan intelek. Dengan kata lain, predikat intelek maknanya dalam, karena untuk memperoleh predikat itu seseorang harus peka terhadap lingkungannya.
Berdasarkan pengertian intelektual di atas, serta hubungannya dengan karya sastra, maka dapat disimpulkan nilai-nilai intelektual yaitu: kebiasaan hidup, pengambilan keputusan yang tepat, cepat tanggap terhadap situasi tertentu, timbul gagasan yang bagus, usaha peningkatan kesejahteraan hidup, mengambil manfaat atau pelajaran dari suatu kejadian atau suatu peristiwa.
3. Analisis
3.1 Sinopsis
Film ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama, ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy. Cerita yang diangkat adalah cerita cinta. Tapi bukan sekedar cerita cinta biasa. Cerita ini menggambarkan tentang bagaimana menghadapi turun naiknya persoalan hidup dengan cara islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Universitas Al Azhar Mesir. Berjibaku dengan panasnya debu Mesir. Berkutat dengan target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penterjemah buku-buku agama. Semua target dijalani dengan penuh antusiasme, kecuali satu hal yaitu menikah. Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu lurus . Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif terhada lawan jenisnya. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini, yaitu neneknya, ibunya, dan saudara perempuannya.
3.2 Nilai Didaktis
a. Etika
Unsur etika yang digambarkan dalam filem ini terdapat dalam beberapa adegan dan dialog sebagai berikut:
Adegan 1:
Di atas sebuah kereta yang membawa Fahri kembali ke rumahnya, Fahri bertemu dengan kawannya yang bernama Asraf.
Asraf : (datang menghampiri Fahri) “Assalamu Alaikum!”
Fahri : “Waalaikumsalam!”
Asraf : “Fahri, darimana kamu?”
Fahr : “Saya baru pulang dari Talaqi. Bagaimana sepakbola kemarin? Menang siapa?”
Asraf : “Tentu saja Zamalek.”
Tiba-tiba datanglah dua orang perempuan Amerika melintas di hadapan mereka. Mata mereka sama-sama tertuju pada kedua perempuan itu.
Asraf : (masih melihat kepada perempuan itu) “Fahri, Fahri, itu orang kafir Amerika.”
Fahri : “Bagaimana sepakbolanya kemarin, Asraf? Kenapa kamu tidak menceritakannya?”
Asraf : “Kamu tidak menontonnya?”
Fahri : “Aku ketiduran.”
Mereka tetap saja mengobrol sambil memperhatikan kedua perempuan Amerika tadi. Rupanya tidak ada seorang pun yang mau memberikan tempat duduk kepada merek. Tiba-tiba seorang muslimah bernama Aisah menawarkan tempat duduknya kepada salah seorang diantara mereka, kepada perempuan Amerika yang lebih tua itu. Karena perempuan Amerika itu tampak sangat lelah dan gerah.
Aisah : “Jangan duduk di situ! Duduklah di tempat saya! Saya minta maaf atas perlakuan orang-orang tadi yang tidak sopan kepada anda.”
Tiba-tiba seorang laki-laki marah melihat sikap baik Aisah kepada perempuan Amerika itu.
Laki-laki : “Ya, muslimah! Kenapa kamu memberikan tempat duduk buat dia? Dia orang kafir.”
Aisah : “Saya merasa tidak tega melihat ibu ini.”
Laki-laki : “Itu memang yang pantas untuk mereka. Mereka itu kafir. Kamu itu muslimah atau bukan?”
Perempuan : “Kami minta maaf, dia hanya ingin membantu ibu saya. Karena ibu saya sudah kepanasan.”
Aisah : “Islam mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada siapa pun.”
Laki-laki : “Tapi tidak untuk kaum kafir Amerika. Kamu tau apa yang dilakukan Amerika di Afganistan, Palestina, dan Irak. Mereka menuduh Islam itu teroris, padahal mereka sendiri yang teroris.”
Aisah : “Saya tidak peduli dengan semua itu” (agak keras dan marah)
Laki-laki : (Sangat marah dan hendak memukuli Aisah)
Mendengar kegaduhan di belakangan, Fahri datang menghampiri laki-laki itu.
Fahri : “Sadarlah! Sebut nama Allah SWT!”
Laki-laki itu menyebut nama Allah SWT sambil bertasbih. Lalu berbalik ke arah Fahri.
Laki-laki : “Kamu siapa? Apa urusanmu?”
Fahri : “Saya orang Indonesia dan kau telah menyakiti Rasulullah SAW. Kau telah berseteru dengan Rasulullah dan menentang Allah SWT. Tolong kamu pahami!”
Asraf : “Dia mahasiswa Al Azhar dari Indonesia, salah satu murid talaqi dari Syech Ustman.”
Fahri lalu memperlihatkan kartu identitasnya kepada laki-laki itu.
Laki-laki : ‘Kalau kau memang orang Al Azhar, kau tau apa tentang penderiataan bangsa Arab?”
Fahri : “Orang asing yang memasuki suatu negara secara sah harus dilindungi keselamatan dan kehormatannya.”
Laki-laki : ‘Mereka bukan orang asing, mereka teroris, mereka kafir.”
Fahri : (menasehati) “Muhammad SAW berkata, barangsiapa menyakiti orang asing berarti dia menyakiti diriku. Dan barangsiapa yang menyakiti diriku berarti menyakiti Allah SWT. Kita boleh membenci perlakuan buruk seseorang, tapi harus tetap bisa adil.”
Laki-laki itu menjadi sangat marah mendengarkan ucapan Fahri. Sehingga dia memukuli wajah Fahri sampai terluka. Untung saja Asraf segera menghentikannya. Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Fahri yang telah jatuh tersungkur. Setelah Fahri mampu bangkit dari lantai kereta, Fahri dan Aisah masih sempat saling berpandangan satu sama lain sebelum mereka turun dari kereta itu.
Adegan 2 :
Dalam ruang pertemuan, tampillah Fahri sebagai pembicara.
Fahri : “Jadi regenerasi itu sangat penting. Organisasi ini ibarat api unggun, untuk membuat apinya menjadi besar, harus ada kayu bakar yang baru.”
Gadis 1: (berbisik-bisik dengan gadis 2) “Kenapa ya orang seperti uztad Fahri itu belum menikah-menikah juga?”
Gadis 2: “Iya..iya. Emangnya kamu mau jadi istrinya?”
Gadis 1: “Sapa takut?”
Nurul : “Hus.., jangan berisik!”
Adegan 3 :
Sesampainya di rumah, Aisah langsung menemui pamannya.
Aisah : “Paman, paman kenal dengan seorang mahasiswa Al Azhar yang bernama Fahri.”
Paman Aisah : “Fahri? Fahri. Paman kenal dia, dia murid kesayangan Syech Ustman. Kenapa?”
Aisah : “Tidak apa-apa.” (sambil pergi berlalu meninggalkan pamannya dan tampak tersipu-sipu malu)
Adegan 4:
Pada suatu siang yang terik, debu-debu beterbangan kesana-kemari. Fahri berjalan di luar rumah menuju ke suatu tempat dan terlihat oleh Maria, lalu Maria mencegatnya.
Maria : Fahri, mau kemana?
Fahri : Aku mau Talaqi.
Maria : Boleh aku menitip sesuatu? Udaranya panas.
Lalu Maria menjulurkan tali ke bawah bersama dengan sebotol jus mangga dan uangnya.
Fahri : Nanti aku belikan CD nya. Terima kasih atas pemberianmu ini.
Maria : Sama-sama.
Di tengah perjalanan, Fahri bertemu dengan Noura dan ayahnya. Dia melihat Noura dipukuli oleh ayahnya sepanjang jalan. Dia merasa sangat kasihan kepada gadis itu. Karena Noura selalu diperlakukan kejam oleh ayahnya.
Adegan 5:
Di suatu malam, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang peempuan dari luar apartemen Fahri dan Maria. Perempuan itu seorang perempuan Mesir bernama Noura. Rupanya perempuan itu dianiaya oleh ayahnya sendiri. Fahri melihat kejadian itu langsung dengan mata kepalanya sendiri. Lalu dia segera menelepon Maria.
Fahri : “Maria, apa kau dengar suara itu?”
Maria : “Iya, Fahri.”
Fahri : “Maria, tolonglah perempuan itu! Aku tidak tega melihat perempuan itu terus menangis. Cuma kau yang bisa menolongnya.”
Maria : “Tapi aku takut.”
Fahri : “Tolonglah dia, kumohon!”
Maria : “Baik.”
Maria lalu segera berlari keluar apartemen untuk menolong Noura, lalu membawanya ke dalam apartemen Maria supaya dia bisa istirahat. Keesokan harinya, Maria dan Fahri membawa Noura ke tempat Nurul supaya dia merasa aman dan terlindungi. Sesampainya di tempat Nurul, barulah Noura bercerita kepada semua orang yang ada di situ.
Noura : “Ayahku ingin menjualku, dia ingin menjadikanku seorang pelacur. Tapi aku tidak mau. Katanya, aku bukan anaknya. Dia menukarku sewaktu masih kecil, jadi aku pantas untuk dijual.”
Fahri : “Noura, saya janji akan membantumu. Nurul, biar untuk sementara Noura tinggal di sini sama kamu. Aku akan minta bentuan temanku di intelejen untuk mencari orang tua kandungnya.”
Nurul : “Mas, aku takut.”
Fahri : “Membantu sesama muslim itu wajib hukumnya. Aku sering melihanya dipukuli.”
Fahri lalu menemui kawannya, Syech Ahmad. Dia meminta bantuan Syech Ahmad untuk mencari orang tua kandung Noura. Sehingga Noura akhirnya bisa dipertemukan kembali dengan keluarganya yang sebenarnya berkat bantuan Syech Ahmad. Noura dan keluarganya tampak bahagia sekali karena pada akhirnya mereka bisabertemu dan berkumpul lagi. Orang tua Noura sangat berterima kasih kepada Fahri dan Syech Ahmad.
b. Filosofis
Unsur filosofis yang digambarkan dalam filem ini terdapat dalam beberapa adegan dan dialog sebagai berikut:
Adegan 1:
Pada suatu hari, di atas sebuah jembatan di tepi sungai Nil, Fahri melamun sendirian. Tanpa sadar, Maria sudah ada berdiri di sampingnya. Lalu terjadilah percakapan seputar masalah jodoh.
Maria : (heran) “Kamu ngapain di sini?”
Fahri : “Maria, sebelum aku ke sini. Ada dua hal yang membuatku kagum sama Mesir, yaitu Al Azhar dan sungai ini. Karena tanpa keduanya itu, tidak akan ada Mesir.”
Maria : “Aku juga suka pada Sungai Nil. Karena tanpa Sungai Nil, tidak akan ada peradaban. Yang ada Cuma gurun pasir yang tandus. Kamu percaya sama jodoh, Fahri?”
Fahri : “Setiap orang memiliki...” (ucapannya terputus)
Maria : (melanjutkan ucapan Fahri) “Jodohnya masing-masing. Itu yang selalu kau bilang. Aku rasa, sungai ini dan Mesir adalah jodoh. Senang ya kalau kita bisa bertemu dengan jodoh? Yang diberikan Tuhan dari langit.”
Fahri : “Bukan dari langit, Maria. Tapi dari hati, dekat sekali (saling menatap satu sama lain) Astagfirullah (tersadar tiba-tiba dan tersentak lalu berlalu pergi meninggalkan Maria sendirian) Maaf, Maria! Aku harus pergi.”
Adegan 2:
Dalam kamar tidur Fahri yang sederhana, tampak beberapa foto. Foto itu adalah foto Fahri bersama keluarganya di Indonesia dan foto Fahri bersama teman-temannya yang ada di Mesir. Setelah melaksanakan shalat, tiba-tiba Fahri teringat lagi akan percakapan terakhirnya bersama ibunya lewat telepon.
Ibu Fahri : “Ibu tidak memaksa, nak. Kamu sudah dewasa, ibu Cuma mengingatkan saja.”
Fahri : “Iya. Saya ngerti, Bu. Tapi di sini susah nyari yang cocok. Lagian amanat dari ibu bapak juga belum saya laksanakan sepenuhnya.”
Ibu Fahri : “Memangnya tidak ada perempuan Indonesia yang cocok buat kamu apa? Nurul yang selalu kamu sebut-sebut itu piye (bagaimana)?”
Fahri : “Itu cuma teman, Bu. Lagian mana mungkin dia mau sama saya?”
Ibu Fahri : “Kalau Allah sudah menghendaki, siapapun bisa menjadi jodohmu.”
Fahri : “Iya, Bu. Assalamualaikum.”
c. Agama
Unsur agama yang digambarkan dalam filem ini terdapat dalam beberapa adegan dan dialog sebagai berikut:
Adegan 1:
Dalam kamar tidur Fahri yang sederhana, tampak beberapa foto. Foto itu adalah foto Fahri bersama keluarganya di Indonesia dan foto Fahri bersama teman-temannya yang ada di Mesir. Setelah melaksanakan shalat, tiba-tiba Fahri teringat lagi akan percakapan terakhirnya bersama ibunya lewat telepon.
Ibu Fahri : “Ibu tidak memaksa, nak. Kamu sudah dewasa, ibu Cuma mengingatkan saja.”
Fahri : “Iya. Saya ngerti, Bu. Tapi di sini susah nyari yang cocok. Lagian amanat dari ibu bapak juga belum saya laksanakan sepenuhnya.”
Ibu Fahri : “Memangnya tidak ada perempuan Indonesia yang cocok buat kamu apa? Nurul yang selalu kamu sebut-sebut itu piye (bagaimana)?”
Fahri : “Itu cuma teman, Bu. Lagian mana mungkin dia mau sama saya?”
Ibu Fahri : “Kalau Allah sudah menghendaki, siapapun bisa menjadi jodohmu.”
Fahri : “Iya, Bu. Assalamualaikum.”
Adegan 2:
Di dalam sebuah mesjid, Fahri berbincang dengan gurunya, Uztad Ustman setelah mereka tadarruz.
Fahri : (menghela napas sambil menyodorkan sepucuk surat)
Uztad Ustman : “Apa ini? Surat cinta lagi?”
Fahri : “Tolong uztad saja yang menyimpannya. Saya takut menyimpannya.”
Uztad Ustman: “Inilah kenapa kita diperintahkan untuk menikah. Selain untuk menyempurnakan agama, menikah juga bertujuan untuk menghindari fitnah, sekaligus memberikan ketenangan batin”.
Kata-kata dari Uztad Ustman itu terus tergiang-ngiang dalam benak Fahri sepanjang jalan sewaktu dia kembali pulang ke rumahnya.
Adegan 3:
Setibanya di stasiun perhentian kereta. Seorang perempuan Amerika dan Aisah datang menemui Fahri. Fahri terduduk di terminal stasiun sambil meringis kesakitan.
Alicia : “Hai, saya Alicia. Terima kasih atas bantuannya.”
Fahri : “Sama-sama. Nama saya Fahri (menolak jabat tangan perempuan Amerika itu). Maaf, dalam Islam laki-laki tidak boleh menyentuh perempuan kecuali dengan muhrimnya.”
Alicia : “Oh, ya. Saya seorang wartawan Amerika yang sedang melakukan penelitian tentang Islam (menyodorkan kartu namanya) Ini kartu nama saya.”
Fahri : “Baik, saya akan membantumu” (juga menyodorkan kartu nama kepada Alicia).
Perempuan Amerika itu pun berlalu, namun Aisah menyempatkan diri untuk berbasa-basi dengan Fahri.
Aisah : “Terima kasih!’
Fahri : “Sama-sama. Apa kamu juga orang Amerika?”
Aisah : “Bukan, saya orang Jerman.”
Fahri lalu menegembalikan tasbih milik Aisah yang dia temukan tadi di atas kereta.
Aisah : “Oh, tadi saya kita sudah hilang. Jarang saya temukan seorang muslim seperti kamu. Assalamu Alaikum (sambil berlalu dari hadapan Fahri).”
Fahri : “Waalaikumsalam.”
Adegan 4 :
Di atas sebuah kereta yang membawa Fahri kembali ke rumahnya, Fahri bertemu dengan kawannya yang bernama Asraf.
Asraf : (datang menghampiri Fahri) “Assalamu Alaikum!”
Fahri : “Waalaikumsalam!”
Asraf : “Fahri, darimana kamu?”
Fahr : “Saya baru pulang dari Talaqi. Bagaimana sepakbola kemarin? Menang siapa?”
Asraf : “Tentu saja Zamalek.”
Tiba-tiba datanglah dua orang perempuan Amerika melintas di hadapan mereka. Mata mereka sama-sama tertuju pada kedua perempuan itu.
Asraf : (masih melihat kepada perempuan itu) “Fahri, Fahri, itu orang kafir Amerika.”
Fahri : “Bagaimana sepakbolanya kemarin, Asraf? Kenapa kamu tidak menceritakannya?”
Asraf : “Kamu tidak menontonnya?”
Fahri : “Aku ketiduran.”
Mereka tetap saja mengobrol sambil memperhatikan kedua perempuan Amerika tadi. Rupanya tidak ada seorang pun yang mau memberikan tempat duduk kepada merek. Tiba-tiba seorang muslimah bernama Aisah menawarkan tempat duduknya kepada salah seorang diantara mereka, kepada perempuan Amerika yang lebih tua itu. Karena perempuan Amerika itu tampak sangat lelah dan gerah.
Aisah : “Jangan duduk di situ! Duduklah di tempat saya! Saya minta maaf atas perlakuan orang-orang tadi yang tidak sopan kepada anda.”
Tiba-tiba seorang laki-laki marah melihat sikap baik Aisah kepada perempuan Amerika itu.
Laki-laki : “Ya, muslimah! Kenapa kamu memberikan tempat duduk buat dia? Dia orang kafir.”
Aisah : “Saya merasa tidak tega melihat ibu ini.”
Laki-laki : “Itu memang yang pantas untuk mereka. Mereka itu kafir. Kamu itu muslimah atau bukan?”
Perempuan : “Kami minta maaf, dia hanya ingin membantu ibu saya. Karena ibu saya sudah kepanasan.”
Aisah : “Islam mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada siapa pun.”
Laki-laki : “Tapi tidak untuk kaum kafir Amerika. Kamu tau apa yang dilakukan Amerika di Afganistan, Palestina, dan Irak. Mereka menuduh Islam itu teroris, padahal mereka sendiri yang teroris.”
Aisah : “Saya tidak peduli dengan semua itu” (agak keras dan marah)
Laki-laki : (Sangat marah dan hendak memukuli Aisah)
Mendengar kegaduhan di belakangan, Fahri datang menghampiri laki-laki itu.
Fahri : “Sadarlah! Sebut nama Allah SWT!”
Laki-laki itu menyebut nama Allah SWT sambil bertasbih. Lalu berbalik ke arah Fahri.
Laki-laki : “Kamu siapa? Apa urusanmu?”
Fahri : “Saya orang Indonesia dan kau telah menyakiti Rasulullah SAW. Kau telah berseteru dengan Rasulullah dan menentang Allah SWT. Tolong kamu pahami!”
Asraf : “Dia mahasiswa Al Azhar dari Indonesia, salah satu murid talaqi dari Syech Ustman.”
Fahri lalu memperlihatkan kartu identitasnya kepada laki-laki itu.
Laki-laki : ‘Kalau kau memang orang Al Azhar, kau tau apa tentang penderiataan bangsa Arab?”
Fahri : “Orang asing yang memasuki suatu negara secara sah harus dilindungi keselamatan dan kehormatannya.”
Laki-laki : ‘Mereka bukan orang asing, mereka teroris, mereka kafir.”
Fahri : (menasehati) “Muhammad SAW berkata, barangsiapa menyakiti orang asing berarti dia menyakiti diriku. Dan barangsiapa yang menyakiti diriku berarti menyakiti Allah SWT. Kita boleh membenci perlakuan buruk seseorang, tapi harus tetap bisa adil.”
Laki-laki itu menjadi sangat marah mendengarkan ucapan Fahri. Sehingga dia memukuli wajah Fahri sampai terluka. Untung saja Asraf segera menghentikannya. Laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan Fahri yang telah jatuh tersungkur. Setelah Fahri mampu bangkit dari lantai kereta, Fahri dan Aisah masih sempat saling berpandangan satu sama lain sebelum mereka turun dari kereta itu.
Adegan 4:
Pada suatu siang, Alicia mengajak Fahri bertemu di suatu kafe untuk mengambil tulisan tentang Islam yang dijanjikan oleh Fahri. Fahri menerima ajakan Alicia itu. Rupanya di sana juga ada Aisah, sehingga terjadilah pecakapan diantara mereka bertiga.
Alicia : “Jadi Islam sangat melindungi perempuan?”
Fahri : “Islam mengajarkan kita kalau surga itu berada di bawah telapak kaki ibu, begitu hadits meriwayatkan yang menjadikan dasar Islam sangat menjunjung tinggi perempuan.”
Alicia : “Jadi bagaimana dengan kekerasan dalam rumah tangga? Bukankah Al-Qur’an memberikan ijin suami memukul istrinya?”
Fahri : “Banyak muslim yang menggunakan surah Annisa untuk melakukan tindakan pengecut memukul perempuan. Padahal sebenarnya surah itu untuk menjelaskan tiga hal. Apabila seorang istri malakukan nusyu, yaitu melanggar komitmen pernikahan. Maka yang pertama: dinasehati, kedua: diperingatkan, dan ketiga: baru dipukul. Tetapi tidak boleh di wajah dan niatnya bukan untuk menyakiti. Semua itu ada dalam tulisanku, Alicia.’
Alicia : “Iya. Bahasa Inggrismu bagus.”
Fahri : “Terima kasih. Maria yang membantuku.”
Alicia : “Pacarmu?”
Aisah : “Kamu sudah punya pacar?”
Fahri : “Dia tetanggaku. Dalam Islam, kami tidak mengenal pacaran. Biasanya kami melakukan ta’aruf. Saya juga telah menuliskannya di sini. Aisah, aku punya seorang kakak senior di Al Azhar orang Jerman.”
Aisah : “Namanya Iqbal ‘kan? Dia itu pamanku.”
Fahri : “Masya Allah (heran), dunia ternyata sempit ya?Bagaimana studinya tentang Indonesia?”
Aisah : “Lancar.”
Alicia : “Ok, kalian sepertinya sudah lama kenal. Berarti kalian cocok. Baik. Terima kasih, Fahri. Besok aku akan kembali ke Amerika. Assalamualaikum, Fahri.”
Fahri : “Waalaikumsalam.”
Alicia dan Aisah beranjak meninggalkan Fahri di kafe itu. Namun Fahri dan Aisah masih sempat saling bertatapan mata sebelum dia pergi bersama Alicia.
d. Intelektual
Unsur intelektual yang digambarkan dalam filem ini terdapat dalam beberapa adegan dan dialog sebagai berikut:
Adegan 1:
Di suatu sore dalam salah satu apartemen di Kairo Mesir
Fahri : “ Maria..Maria..!” (memanggil sambil mengetuk pintu)
Maria : (sambil membukakan pintu) “Fahri.”
Fahri : “Saya sedang butuh...”
Maria : “Butuh apa? Kamus Bahasa Arab?”
Fahri : “Bukan.”
Maria : “Kamus Bahasa Inggris?”
Fahri : “Bukan.”
Maria : “Lalu apa?”
Fahri : (Terbata-bata) “Sas..,sa..,saya butuh kamu dengan masalah yang ada di apartemenku.”
Maria : “Ma, aku mau ke apartemen Fahri sebentar ya.” (Sambil berlari barsama Fahri menuju apartemen Fahri)
Sesampainya di apartemen Fahri, mereka berdua langsung menuju ke meja komputer Fahri. Fahri menunjukkan layar komputernya kepada Maria.
Fahri : “Ini masalahku. Aku nggak tau ini kenapa.”
Maria : “Kamu pasti lupa memperbaharui anti virusnya. Semua file kamu habis karena virus” (sambil mengutak-atik komputer Fahri).
Fahri : (Sangat sedih dan kecewa)
Maria : “Punya cadangan datanya?”
Syaiful : “Apa aja isinya”
Fahri : “Banyak. Tapi yang paling penting itu proposal untuk penelitian tesisku.”
Syaiful : “Batas pengumpulannya kapan?”
Fahri : “Tiga hari lagi.”
Maria : (Coba menguatkan) “Fahri, kamu ‘kan nggak tinggal sendirian di sini.”
Lalu mereka berlima (Fahri, Maria, dan ketiga teman Fahri) berusaha untuk menyusun kembali lagi proposal tesis Fahri yang hilang tadi. Mereka semua bekarja sama untuk membantu Fahri sampai akhirnya proposal itu bisa tersusun kembali.
Adegan 2:
Dalam sebuah gedung pertemuan mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo Mesir.
Nurul : (tiba-tiba datang menghampiri Fahri) “Dikasih apa tuh, Mas?”
Fahri : (terkejut) “Nurul!” ( Lalu memasukkan surat yang tadi diterimanya dari seorang gadis)
Nurul : “Waduh, ternyata Mas fahri juga ada bakat menjadi selebritis juga.”
Lalu datanglah sekelompok mahasiswa, mereka mengajak Fahri dan Nurul untuk bergegegas menuju ke ruang pertemuan. Mereka lalu bersama-sama menuju ke ruang pertemuan yang letaknya di lantai atas.
Adegan 3:
Maria mengirimkan bingkisan kepada Fahri melalui tali yang terjulur ke arah jendela kamar Fahri. Lalu dia menelepon Fahri dari tempatnya.
Fahri : “Assalamualaikum.”
Maria : “Waalaikumsalam, Fahri. Aku hampir saja lupa mengembalikan kamus Bahasa Inggrismu. Kamu ‘kan butuh itu untuk membuat artikel temanmu dari Amerika itu. Gara-gara kamus itu aku sampai mengorbankan buku Khalil Gibran kesukaanku.”
Fahri : “Terus kue bolunya?”
Maria : “Itu karena aku tahu kalau kamu selalu lupa makan.”
Fahri : “Terima kasih, Maria.”
Maria : “Sama-sama, Fahri.”
Adegan 4:
Pada suatu siang, Alicia mengajak Fahri bertemu di suatu kafe untuk mengambil tulisan tentang Islam yang dijanjikan oleh Fahri. Fahri menerima ajakan Alicia itu. Rupanya di sana juga ada Aisah, sehingga terjadilah pecakapan diantara mereka bertiga.
Alicia : “Jadi Islam sangat melindungi perempuan?”
Fahri : “Islam mengajarkan kita kalau surga itu berada di bawah telapak kaki ibu, begitu hadits meriwayatkan yang menjadikan dasar Islam sangat menjunjung tinggi perempuan.”
Alicia : “Jadi bagaimana dengan kekerasan dalam rumah tangga? Bukankah Al-Qur’an memberikan ijin suami memukul istrinya?”
Fahri : “Banyak muslim yang menggunakan surah Annisa untuk melakukan tindakan pengecut memukul perempuan. Padahal sebenarnya surah itu untuk menjelaskan tiga hal. Apabila seorang istri malakukan nusyu, yaitu melanggar komitmen pernikahan. Maka yang pertama: dinasehati, kedua: diperingatkan, dan ketiga: baru dipukul. Tetapi tidak boleh di wajah dan niatnya bukan untuk menyakiti. Semua itu ada dalam tulisanku, Alicia.’
Alicia : “Iya. Bahasa Inggrismu bagus.”
Fahri : “Terima kasih. Maria yang membantuku.”
Alicia : “Pacarmu?”
Aisah : “Kamu sudah punya pacar?”
Fahri : “Dia tetanggaku. Dalam Islam, kami tidak mengenal pacaran. Biasanya kami melakukan ta’aruf. Saya juga telah menuliskannya di sini. Aisah, aku punya seorang kakak senior di Al Azhar orang Jerman.”
Aisah : “Namanya Iqbal ‘kan? Dia itu pamanku.”
Fahri : “Masya Allah (heran), dunia ternyata sempit ya?Bagaimana studinya tentang Indonesia?”
Aisah : “Lancar.”
Alicia : “Ok, kalian sepertinya sudah lama kenal. Berarti kalian cocok. Baik. Terima kasih, Fahri. Besok aku akan kembali ke Amerika. Assalamualaikum, Fahri.”
Fahri : “Waalaikumsalam.”
Alicia dan Aisah beranjak meninggalkan Fahri di kafe itu. Namun Fahri dan Aisah masih sempat saling bertatapan mata sebelum dia pergi bersama Alicia.
Adegan 5 :
Dalam ruang pertemuan, tampillah Fahri sebagai pembicara.
Fahri : “Jadi regenerasi itu sangat penting. Organisasi ini ibarat api unggun, untuk membuat apinya menjadi besar, harus ada kayu bakar yang baru.”
Gadis 1: (berbisik-bisik dengan gadis 2) “Kenapa ya orang seperti uztad Fahri itu belum menikah-menikah juga?”
Gadis 2: “Iya..iya. Emangnya kamu mau jadi istrinya?”
Gadis 1: “Sapa takut?”
Nurul : “Hus.., jangan berisik!”
4. Penutup
Filem Ayat-Ayat Cinta karya Hanung Bramantyo ini mengandung unsur-unsur didaktis yang meliputi unsur etika, filosofi, agama, dan intelektual. Unsur-unsur ini dapat dia amati dalam beberapa adegan yang telah dijabarkan oleh penulis pada bagian sebelumnya. Sehingga dapat dijadikan tontonan yang selain dapat menghibur juga mendidik kita.
5. Daftar Pustaka
Fuad, Muhammad, dkk. 2000. Nilai Didaktis dalam Pisaan Lampung Pubian. Jakarta. Depdiknas.
Kusmaini, Tuty. 2005. Unsur Didaktis dalam Kumpulan Cerita Pendek Lelaki Tua dan Biola karya Purhendi. Palembang. Bidar: Majalah Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Balai Bahasa Palembang.
Lestari, Ummu Fatimah Ria. 2007. Analisis Dramaturgi dalam Naskah Drama Karya Rudolf Puspa (Klinik Jiwa, Seminar Kaki Empat, dan Napak Tilas). Jayapura: Balai Bahasa Jayapura.
Mulyana, Yoyo, dkk. 1997. Sanggar Sastra. Jakarta:Depdikbud
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadja Mada University Press.
Purwanto, M. Ngalim. 1993. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Jakarta. Remaja Rosdakarya Offset.
Sastrowardoyo, Subagio. 1983. Bakat Alam dan Intelektual. Jakarta. Balai Pustaka.
Siswanto, dkk. 2006. Unsur Didaktis dalam Cerita Rakyat Nabire dan Enarotali. Jayapura. Balai Bahasa Jayapura.
Stanton, Robert. 1965. An Introduction to Fiction. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar