R i n d u
Rindu…
Gerimis petang membelai senja,
Mengalir pelan di rimbun kamboja dan tanah merah.
Rindu…
Pisau terhunus di ujung malam,
Pena pujangga kanvaskan khayal,
Mengeras di dada waktu.
Rindu…
Peluru cemburu ditembus waktu,
Kabur berpeluk beku kalbu,
Aku menaruh rindu itu bersarang di batinku.
Rindu…
Taruhan kekasihku yang tlah jauh,
Terbenam utuh di pijak langkah,
Jiwanya saja.
Rindu…
Patahan singgasana cinta di dada malam,
Tinggal puing bersahaja,
Menggerakkan labuhan layar.
Rindu…
Bak kematian perlahan-lahan,
Syair-syair laut dalam rima ombak dan letupan buih,
Panorama alam kematian di atas laut.
Rindu…
Tolong pulangkan aku!
‘Tuk merajai pangkuan ibunda.
Kuhanya punya satu leburan beku,
Keridhaan Ilahi.
Ketika Kau Bahagia
Batang waktu lalui tapal batas, bertahun menghiba rasa itu di dada. Aku datang,
Dia pun menghiba di pandangan. Aku bertahan.
Sengajakah kau simpan?
Ataukah dia lebih baik untukku?
Andai kudapat membajak jiwamu lewat penaku,
Menampakkan kuiba atas takdirmu.
Ketika kau bahagia, lambaian tanganku bicara.
Bicara atas kenangan terhempas.
Ketika kau bahagia, kuangkat kepala dan melangkah.
Dan ketika kau bahagia,
Mungkin kusudah tak di sana.
Tak penting aku ‘tuk dikenang.
Cinta akan bersamaku
Sejak waktu memaksaku ‘tuk berjanji, waktu ‘tuk menunggu di sudut pilu,
Waktu ‘tuk kayu-kayu rindu di perbukitan beku. Satu makna tersimpan rapat,
Waktu lalu tanpamu.
Sayap-sayap merapuh, tunduk di senja, saat kumulai membaca ukiran awan.
Kau kuabadikan, kekasih.
Matamu, penyanderaan jiwaku dan menahanku ‘tuk berlari.
Ada perapian, kaca penuh tanya, telahkah cinta memenggal hidupku?
Serak hati menyerpih.
Cinta akan bersamaku mengenangmu.
Kutulis
Kutulis tentangmu dengan pena yang kau pinjamkan kemarin. Kurangkai kembali ingatanku bersama pesan yang kau kirim lewat ponselku.
Kau yang slalu dekat. Karenamu kucoba untuk tak menyerah. Ini dunia yang lingkarkan kita, smoga kau tau kalau kita berbeda.
Maafkanku. Teratai akan hanyut terbawa dan terkoyak ombak. Indahnya tak mampu kujaga. Aku trauma atas pertemanan, rindu dendam, remuk redam.
Kuukir perjalananku dalam malam-malam yang Dia perkenankan. Kujamah setiap pesona, di mimpiku, tlah kuasingkan jiwaku. Petualanganku torehkan dirimu.
Maafkanku. Hadirmu yang dulu itu, hangat dan damainya masih ada hingga kini.
Percayakah sang pagi? Embun itu adalah kau. Kabut itu adalah kau. Seluruh alam akan menyimpan bayangmu.
Tuhan, berikanku teman yang baik!
Tuhan, petualangan ini ingin kuakhiri. Bantu aku maknai karunia-Mu!
Aku yang tak mampu setia di dekatmu,
Salahkah aku bila kini merindumu?
Pantaskah aku bila tiba-tiba tak mau mengenang yang dulu itu?
Maafkan, aku tak kokoh untuk sandarkan bahumu.
Karena aku jauh dan rapuh.
Cintakah aku di atas cintanya? Damaikah jiwaku di atas damainya?
Kuingin kau pun tahu kalau aku di sini untukmu.
Dua hati yang disatukan ini untukmu.
Majnunku
Majnunku, langit tak berbingkai ‘tuk kasihmu.
Akukah,
kepulan rindu tanpa siluet itu?
Padang pasir penyimpan oase kewarasanmu?
Ataukah kafilah terindah?
Menjejakkan butir peluh di jemarimu.
Majnunku, tendaku serpihan hati. Takkan tersingkap,
Kecuali angin dingin lunak.
Seribu pulau penerbanganmu, singgahnya kepakan sayapmu bukan di kotaku
Katakana apa yang termulia dan terhina bagimu!
Majnunku, keterpaksaan itu jalanku.
Jalanku.
Dan ketulusanmu jadi kerikil kecil untuknya.
Olehnya, aku dikawal aksara keteduhan celah napasmu.
Andai perlu, bernapaslah di rongga dadaku!
Atau mengalirlah di benakku!
Kuasai aku lebih dari sekadar menyemburkan air mani untukku.
Di kepuasanku.
Tetaplah di kelupaanmu!
Untuk kata-kataku terdahulu.
Selamatkan aku!
Bahwa cinta dan maaf menjadi bekalku.
Engkaulah,
Lukaku yang berjalan dan berbicara.
Karna
Aku perempuan yang bukan untuk tuan.
Menghadang Tanpa Persahabatan
Biarkanku berteman dengan hatimu, bukan ragamu. Izinkanku, memilikimu dengan perasaanku. Kala hujan mengarak sang awan, hingga jauh tak nampak di mata.
Biarkan aku bertemu denganmu dalam do’a, bukan dalam setiap sua yang kita rencanakan. Kini relung jiwa bukan lagi persemaian cinta. Tapi pergolakan hampa suara.
Keterbatasanku saja dan kefanaan cinta, menghempas kita dalam perjalanan.
Kata-katamu menggema dibawa oleh signal telepon. Kabut samarkan hadirmu dalam bisu, prahara tlah menanggung smua kemarahan alam. Air lari tunggang-langgang, seketika menjadi bah.
Keinginanku saja dan keangkuhan bencana, menyeret kita telusuri perpisahan.
Cerita-ceritamu menjelma disurutkan oleh kabar media. Mulai pupus asaku, sesak napasku, aku jalan sendirian. Teman, aku ikhlas. Getar gempa dan arus tsunami masih menghadang tanpa persahabatan. Mereka temukan jasadmu bersama untaian tasbih dalam gengaman.
Terekam dalam pilu. Biarkanku berteman dengan smangatmu.
Sayang…
Sayang, masih bisakah kujelaskan. Dengan batin.
Batin yang remuk redam. Masihkah engkau inginkan pengakuan?
Untuk apa?
Aku berdiri dengan keakuanku. Keakuan yang rapuh dan beku.
Karena kau sangat jauh.
Di hati, dalam sesak, engkaulah berpijak.
Demi masa, penuh luka, engkaulah terbijak.
Aku bisa apa?
Sampai saat ini artiku belum ada.
Kita sama-sama butuh pengertian. Entah siapa yang sebaiknya mengerti.
Kau atau aku.
Sayang, bahasa diammu lelehkan air mata. Air mata kita.
Titik demi titik bicara kepada dunia.
Kita hampa. Karena siapa?
Akankah kita dapati? Cinta sejati di ujung jalan ini.
Ataukah hanya fatamorgana semu?
Sayang, masih tergetar seluruh diri ini.
Karena terlintas lagi ingatan tentangmu.
Entah kenapa.
Tak Berdaya
Ini cinta yang tak berdaya.
Terkoyak lagi ketika angin membawa desah napasmu ke rongga dadaku.
Semangatku berserakan dalam cintaku yang utuh.
Kutau pasti,
Masih engkau bersamanya dalam takdir.
Gengam sakit dan lukaku, cukup dihatiku.
Jangan bawa pulang ke rumahmu.
Bukan untuk engkau miliki.
Usai dan Kesudahan
Ujung jalan tersiram air mataku.
Angin senja temani tangisku yang tanpamu,
Bisikkan padaku atas apa yang baru saja usai.
Aku pulang.
Aku kehilangan.
Perih atas satu kata kesudahan,
Yang pernah kumulai,
Kini tinggal mimpi.
Perempuan
Suatu malam tanpa pasti…
Lengan perempuan ini ingin memelukmu,
Menggantikan selimutmu yang terjatuh ke lantai.
Tlah adakah bintang yang membelai tidurmu dengan sinarnya?
Sudah adalah rembulan membungkus mimpimu tentangku?
Hati lelakimu mungkin tak lagi menanti atau mencari siapa-siapa.
Di sini…
Hanya ada luka hati perempuan ini.
Suatu dini hari dengan sejuta puisi…
Hati perempuan ini mencoba pergi,
Cinta putih itu tlah direbut pekat malam.
Mengendap dalam sekam.
Seorang perempuan dengan sebuah permohonan,
Letakkan hati dan cintaku dalam pengawasan-Mu.
Banyak malam telah berganti,
Rindu beku.
Jemari meliuk tanpa kasih.
Terhenyak aku dalam do’aku seorang diri.
Di sini.
Jangan Sembunyikan Embun
Jangan sembunyikan embun, belukar sudah tak habis terbakar.
Jangan sembunyikan embun, pada nurani yang beku.
Jangan sembunyikan embun, lewat senyum sinis penguasa negeri.
Dan jangan sembunyikan embun, dalam saku para maling rakyat.
Jangan salahkan pagi, karena mengusir embun.
Jangan menghardik matahari, karena menghapus embun.
Dan jangan sesalkan bunga, karena tak mau lagi menyimpan embun.
Harusnya kita seperti embun.
Bening, bersih, dan menyejukkan.
Jangan pikirkan embun.
Kalau pepohonan dan ilalang sudah habis kau babat.
Karena embun tak mungkin membasahi gedung pencakar langit.
Karena embun tak akan nampak di indahnya lapangan golf.
Harusnya kita bagai embun.
Menghidupi alam dan menghapus dahaga tanah.
Tapi mampukah kita?
Semburat 28
Mentari 28 lebih cerah dari apa yang kukira.
Nukilan awan, berarak bagai bait syair pujangga. Aneka warna alam. Hitam, putih, abu-abu bergayut di hijaunya dedaunan.
Membetuk semburat janji dan kilas balik perjalanan kemarin.
Aku sibak tirai jendela, berkaca di suasana pagi.
Seolah menjadi seorang pemimpi, tersentak keterjagaan.
Aku tak lagi mencari tahu apa yang ada. Semuanya gambling ternyata.
Ini juga sudah adil buatku. Kesakitan yang kemarin, mimpi semalam, dan apapun yang tengah terjadi hari ini.
Hari ini.
Siang 28 masih konsisten di garisnya. Terik dengan putih bersihnya angkasa.
Terang menguak gugusan tujuh lapis langit, nyata, dan maya. Ada.
Dan malam 28 kehujanan.
Garis 28 rupanya masih menitikkan cinta yang berhamburan dimana-mana.
Begitu eloknya cinta itu, berkumpul di genggamanku,
Kemudian pantulkan damai cahayanya di wajahku.
Garis 28 mungkin bukan akhir pasti dalam penelusuran hati.
Bukan seorang hakim agung yang akan mengeksekusi setiap kejadian sebelumnya.
Bukan pula seorang pencari kayu yang akan menebas, memisahkan antara akar dan pohon dengan rantingnya.
Biarkan saja membungkus kado terima kasih di ujung pena untuk:
Semua yang masih ada, akan ada, dan pernah ada di sampingku.
Tuan (1)
Akulah,
Sang gelombang yang menatap bintang.
Sang penghiba yang terpesona.
Tuan pemilik jiwa dan spanjang kata dalam tengadah.
Mimpiku lapuk larut di air mata.
Izinkan kubuat ombak dengan bias cahyamu.
Harmonika enggan bersuara atas laraku. Diam patuh oleh irama jantungku.
Terbang, singgah di pelataran beku karena kusebutkan namamu.
Penuhi rinduku!
Hujan kejenuhan, kehampaan dan keterasingan tak nyata melengkapi sunyi.
Aku menunggumu datang, Tuan.
Anak-anak kisahku, tetaplah berdiam di sarang waktu.
Tak perlu beterbangan mengitari dinginnya embun malam ini.
Atau, tertidurlah di balik selimut keangkuhanku.
Aku, bocah renta di kawat usia.
Jiwa malam di dada peralihan pagi.
Engkau pun mungkin hanya secarik misteri.
Takkan tersobek walau dengan gunting keberadaanku.
Iya, slalu utuh oleh ketiadaanku maupun keadaanku. Ego penuh.
Gerakmu lunak mengagumkan. Diammu pun demikian.
Olehnya, jangan biarkan batinku melayang dalam semu!
Smuanya, aksara-aksara libido.
Ingin terabaikan.
Engkau, sampan kelana.
Aku, nelayan, penjala cahaya.
Tuan (2)
Masihkah kau simpan puisi yang sama?
Stelah kau tanggalkan aksara keterpanaan,
Sebelum kau ajak aku pulang.
Pulang untuk mengendurkan saraf menegang.
Akankah aku memiliki?
Akankah aku diakui?
Aku lelah, Tuan.
Jemu oleh pelarian dan kemungkinan.
Uraian peristiwa yang tak mampu kutulis, Tuan.
Engkau akan tetap putih, aksara dan tanda baca tak ada.
Engkau tetap cinta, dendam, dan benci pun tiada.
Engkau sgala keberadaanku.
Inikah suratan, Tuan?
Ataukah permainan?
Kuingin memiliki,
Kuingin diakui.
Tinggalkan cinta samara!
Setelah kau paksa aku bimbang.
Bimbang.
Mengulas lagi kekinian dan keterjagaan hasrat belum terkuak.
Bimbang.
Sakit biar rela kujelang.
(Dalam diam menatapmu, duduk di depanku terpaku)
Bimbang.
Tuan (3)
Tuan bangsawan, aku ilalang.
Tuan dermawan, aku ketakpunyaan.
Tuan bintang, aku kesenyapan.
Tuan tenang, aku petualang.
Tuan rindu, aku pesakitan.
Tuan cinta, aku derita.
Tuan penerbang, aku pejalan.
Lelaki di Senggi
Lelaki, sepi, menyusuri kebun jati.
Sepasang mata di Senggi, menapak batas dua negara.
Mengais misteri aliran sungai. Penuh lara dan hampa bicara.
Dia diam selami kelam hati.
Dia putra sang alam.
Sepasang mata di Senggi, menjagaku mengasah batin.
Aku berkaca, bertanya, dan bercengkerama.
Sepasang cinta di Senggi, berlainan arah serta terpisah.
Aku nelangsa, melara, dan terlena.
Lelaki, tak kenal takdir nanti.
Berjumpa di Senggi,
Berpisah di Waena,
‘Tuk cinta yang sederhana.
Malam
Malam tak lagi menggoda sebuah persimpangan, untuk saling berpeluk. Kabar dari sebrang hanya duri, meniti smua pembuluh.
Ketika malam bisu tersanggah munajat, cinta itu bukan cinta lagi.
Cinta menjadi fatamorgana di mata, kebodohan yang terpelihara, gurindam yang tak melipur lara.
Malam membekap aku dalam heningnya, di kamar ini.
Hujan di Kampung Harapan
Kalau aku jadi pulang di esok hari,
‘kan kuhamburkan kristal rindu di simpang jalan ini.
Karna cintaku slalu menunggu di sini.
Andai tak jadi pulang,
Pasti hujan akan menjadi alasan,
Pasti badai yang menghadang.
Kekasihku, masih hujan di Kampung Harapan
Kalau aku jadi pulang di esok hari,
‘kan kutitip kunci pintu hati.
Bak titik air di rerumputan.
Bila tertunda pulang,
hanya pada Tuhanlah kupinta perlindungan.
Ada kekasihku di sana
Hujan di Kampung Harapan,
Temani aku bimbang.
Biar terbaca peristiwa di esok hari.
Beribu Masehi
Sgala milikku, makna napasku, tergulung menghampiri kesenyapan dan ranumnya buah di musim panas. Kosong benakku, miskin adaku, diketuk tangan kasih tak bertuan.
Ruang damai, kesepian namanya.
Ufuk cinta, terbenamnya rindu yang kakinya terkait di sanubariku.
Awan beralih, mengarak hujan, desir angina memandu rinduku pulang.
Pulang ke rumah demi petuah yang maknanya tak indah.
Menarilah jarum waktu! Gerakkan buhul-buhul rinduku!
Tarik jiwaku dalam pesona, kekekaran dan keluwesanmu!
Wahai prajurit,
Cinta itu seperti mayat terkapar tanpa air mata bercucuran di sampingnya.
Cinta itu bagai tetes darah yang tak membekas di tanah.
Denganmu bagai kulalui beribu masehi.
Duhai perwira muda,
Telah cinta membajak masa atas kepandaian dan kebodohan,
Menggugurkan dedaunan ketulusanku,
Aku berusaha tak memanggil namamu kemudian.
Cinta kini adalah jenazah yang tak sanggup kukebumikan.
Ibu, sesaat kurapatkan kepala di telapak kakimu.
Ketika
Ketika, kulabuhkan cinta dalam keinginan.
Atau kusimpan cinta pada perasaan.
Ketika, kusadari cinta adalah kebutuhan.
Atau kulupakan cinta kalau menyakitkan.
Banyak yang kutanyakan.
Ketika cinta belum kutemukan.
Banyak yang kuagungkan
Ketika cinta telah menghidupkan.
Perempuan
Suatu malam tanpa pasti…
Lengan perempuan ini ingin memelukmu,
Menggantikan selimutmu yang terjatuh ke lantai.
Tlah adakah bintang yang membelai tidurmu dengan sinarnya?
Sudah adalah rembulan membungkus mimpimu tentangku?
Hati lelakimu mungkin tak lagi menanti atau mencari siapa-siapa.
Di sini…
Hanya ada luka hati perempuan ini.
Suatu dini hari dengan sejuta puisi…
Hati perempuan ini mencoba pergi,
Cinta putih itu tlah direbut pekat malam.
Mengendap dalam sekam.
Seorang perempuan dengan sebuah permohonan,
Letakkan hati dan cintaku dalam pengawasan-Mu.
Banyak malam telah berganti,
Rindu beku.
Jemari meliuk tanpa kasih.
Terhenyak aku dalam do’aku seorang diri.
Di sini.
Rindu Jingga
Catatan akhir kisah kita.
Rindu jingga dalam hangat hujan, sengat hati pongah.
Memadat pada tali perut. Kutanam sendiri di tanah lembah.
Tapi rindu jingga tetap berjalan dan berbicara.
Kala kembali kau ke rimba, cinta tak lagi merah muda.
Akan terpelihara rindu jingga.
Diamku riuhnya ada di jiwa, meretas rindu jingga.
Abadi. Rindu jingga menjadi rindu kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar